Daftar Blog Saya

Sabtu, 22 Desember 2012

Dolok Boru Tompul Terdapat di Gunung Tua


Di Desa Huta Lombang Kecamatan Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) Sumatera Utara terdapat sebuah “Tor Si Boru Tompul”. Ada juga yang menyebutnya “Dolok Boru Tompul”. Legenda ini diperkirakan sudah ada ratusan tahun silam dan hingga sekarang masih dikenang oleh masyarakat. Tor atau bukit tersebut kurang lebih satu hektar dan selalu dijadikan sebagai taman rekreasi, terutama pada hari raya Idul Fitri, HUT Kemerdekaan 17 Agustus dan hari libur lainnya oleh masyarakat setempat. Belakangan disamping bukit tersebut terdapat sebuah rumah makan bernama rumah makan Paranginan.
Tim sejarah penulisan buku sejarah Punguan Raja Toga Sitompul dan Boru Kota Pekanbaru terdiri dari Drs PH Sitompul, Jonas Sitompul, HP Sitompul dan Marisi Sitompul melakukan investigasi ke lapangan menelusuri kebenaran Tor Si Boru Tompul. Sabtu, tanggal 26 Maret 2011 sekitar pukul 05.00, tim sejarah tiba di daerah Gunung Tua. Dua kilometer menjelang kota Gunung Tua angin kencang datang. Sekitar dua kilometer melewati jembatan Gunung Tua, tim singgah di sebuah warung. Turun dari mobil, angin kencang masih datang. Tapi setelah beberapa menit angin tersebut berhenti.
Menurut pemilik warung Tengku Mangarahon Harahap, Tor Si Boru Tompul dijadikan masyarakat setempat sebagai tempat rekreasi (parmeaman). Soalnya, di atas tor (bukit) landai (datar). Tapi sepuluh tahun terakhir ini Tor tersebut tidak lagi dijadikan tempat rekreasi, pasalnya bukit tersebut sudah dijadikan sebagai tempat mengambil Batu Padas.
Sesuai dengan cerita orang tua dulu, kata Tengku Mangarahon Harahap, bahwa bila Boru Tompul dipanggil akan ada jawaban “ou” . Suara itu adalah suara wanita, namun wujudnya tidak kelihatan. 
Menurut Legenda, jaman dahulu, ada seorang Marga Harahap penduduk Gunung Tua membawa lari (kawin lari) seorang gadis pujaan hatinya Boru Tompul dari Sipirok Dolok Hole. Boru Tompul ini dibawa ke rumah orangtuanya ke Gunungtua, tapi orangtuanya tidak berterima dengan Boru Tompul sebagai menantunya (Parumaeannya). Mendengar ini, Boru Tompul pergi dari rumah calon mertuanya ke sebuah Tor (dolok) yang tidak jauh dari perkampungan itu. Tidak berapa lama, Si Harahap menyusul Boru Tompul ke kawasan Tor tersebut. Sampai di kawasan itu, Harahap tidak menemukan calon istrinya. Dia pun memanggil-manggil. Boru Tompul? Ada suara menjawab : Ou…. Jawaban ada, tapi wajah (wujud) Boru Tompul tidak tampak. Beberapa kali dipanggil, jawabannya tetap demikian. Bila dia memanggil dari atas, jawaban terdengar di bawah. Dia pun turun ke bawah dan dipanggil, suara itu ada membalas di atas bukit.
Esok harinya dan hari-hari berikutnya, Harahap pergi mencari Boru Tompul ke kawasan itu dan jawabannya selalu demikian. Orang sekampung pun mengetahui persoalan ini dan setiap orang yang datang ke kawasan Tor tersebut bila dipanggil : Boru Tompul? Selalu ada jawaban : Ou….Pendek cerita, masyarakat setempat menyebut kawasan itu dengan : Tor Siboru Tompul. Diatas Tor tersebut memang landai. Kawasan Tor Siboru Tompul kurang lebih satu hektar, akhirnya dijadikan sebagai tempat rekreasi pada hari libur dan hari-hari besar keagamaan. H. Rahmat Harahap pemilik tanah (tor) menguasai tanah tersebut dengan mengambil Batu Padas. Memang, dolok tersebut adalah Batu Padas. Terakhir, sekitar 15 tahun lalu, Tor tersebut dijual Harahap kepada Sutan Simamora dan melanjutkan pengambilan Batu Padas. Tapi, kini, Tor Siboru Tompul tidak lagi menjadi tempat rekreasi. Dan kawasan itu kini lebih dikenal orang sebagai Paranginan, karena Kemil Harahap membuka usaha rumah makan disamping tor tersebut dengan nama Rumah Makan Paranginan.
Sekretaris Desa Huta Lombang Kecamatan Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Marasakti Harahap kepada tim sejarah Sabtu, (26/3) membernarkan cerita tentang legenda Tor Siboru Tompul. Pernah di bukit itu dibuat plang Taman Rekreasi Tor Siboru Tompul. Namun belakangan plang tersebut sudah dicabut.
Dia sangat setuju bila ada marga Sitompul mengelola kawasan itu kembali menjadi taman rekreasi. Ini sebagai upaya untuk mengembangkan dan melestarikan nilai budaya yang ada di desa ini. Tidak hanya masyarakat yang tahu soal Tor Siboru Tiompul, pemerintah sendiri telah mengetahui keberadaannya sejak dulu. Pokoknya kami mendukung bila kawasan itu dijadikan kembali sebagai taman rekreasi, kata Marasakti Harahap.
Di desa Hutalombang ini terdapat satu orang marga sitompul, namanya Parubahan Sitompul bekerja di Dinas Kesehatan. Ketika dia pindah dari Medan tahun 1981 ke daerah itu, dia sudah mendengar cerita tentang Tor Siboru Tompul. “Saya juga sudah lama mendengar cerita itu. Menurut orang-orang disini, tor tersebut tidak anker, melainkan membawa kesenangan bagi orang yang datang ke tempat itu untuk rekreasi. Belum pernah kedengaran ada cerita jelek disana. Semua orang senang berekrasi disana dan tidak ada gangguan.
Ketika hal tersebut disampaikan oleh tim kepada Sihol Sitompul, dia sangat setuju kawasan Tor Siboru Tompul dijadikan tempat rekreasi. Tolong dijajaki apakah pemilik tanah sekarang bersedia kawasan itu dijadikan tempat rekreasi, kata Sihol Sitompul.
*Dikutip secara utuh dari Buku Sejarah Punguan Raja Toga Sitompul dan Boru Pekanbaru Sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar