Daftar Blog Saya

Rabu, 20 Maret 2013

Selamat Jalan TMH Sinaga, Saya Tetap Mengenangmu


Oleh : Ramlo R Hutabarat
Kamis (14/3) jelang tengah hari, mendapat telepon dari Saut Sinaga, rekan sayawWartawan Tabloid HORAS di Pekanbaru. Dia mengabarkan Drs TMH Sinaga, mantan Bupati Tapanuli Utara (Taput) periode 1994 – 1999 meninggal di rumahya di Jalan Negara, Medan.
Sekejab saya terkejut, kaget dan terpaku. Sudah lama memang saya tak bertemu dengan alumni Fakultas Ekonomi Universitas HKBP Nommensen itu. Mendengar kabarnya pun tidak. Saya bertemu terakhir sekali dengannya pada 2009 di Gedung DPRD Sumatera Utara di Medan. Waktu itu almarhum menjadi Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Partai Golkar.
“Hidup memang terasa singkat, segala berlalu dan terus berlalu. Satu-satu datang, satu-satu pergi”, pikir saya dalam hati.
Saya mengenal TMH Sinaga saat jelang pemilihan Bupati Taput tahun 1994. Sebagai wartawan, saya mendatanginya ke rumahnya di Jalan Negara, Medan, kira-kira di belakang Aksara Plaza di kawasan Jalan Pancing Medan arah ke Tembung. Biasalah wartawan. Waktu saya dengar kabar ada seorang bernama TMH Sinaga menjadi Calon Bupati Taput, saya bolak-balik buku telepon. Dari Buku Telepon yang disebut juga sebagai Yellow Pages itu, saya mendapat alamat rumahnya.
Bersama istrinya, Boru Simarangkir yang dosen di Universitas Sumatera Utara (USU), dia menerima saya di teras rumahnya yang megah dan mentereng. Meski baru saja saling berkenalan, pertemuan pertama kami terasa akrab dan mesra. Namanyalah Orang Batak. Ada saja hubungan kekerabatan kalau dihubung-hubungkan dan dikaitkan. Mertuanya, ibunda istrinya, kebetulan Boru Hutabarat. Akhirnya, dia dan istrinya menyebut saya dengan ‘tutur’ Tulang. Saya setuju saja, apalagi dalam tradisi Batak posisi ‘Tulang’ selalu dihormati.
Usai mewawancarainya menyangkut siapa dan bagaimana dia, pamit dan segera menulis tentang dia di surat kabar tempat saya bekerja. Besoknya, hasil wawancara saya dengan almarhum yang disiarkan dalam halaman pertama, saya antar ke rumahnya. Wajahnya ceria. Waktu saya pamit untuk pulang dari rumahnya, kedalam saku saya disisipkannya amplop tebal. Sudah barang tentu, isinya uang, bukan narkoba.
Pada masa itu memang, sistem pemilihan kepala daerah belum seperti sekarang. Yang digunakan sebagai dasar hukumnya adalah Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah. Jadi, tidak lewat pemilihan secara langsung oleh rakyat seperti yang dimaksud oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Sistem yang pertama dibanding dengan sistem yang sekarang, jauh berbeda. Bagai langit dan bumi. Jauh dan jauh sekali. Tak bisa dipersamakan.
Dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974, Kepala Daerah dipilih oleh DPRD berdasarkan usul dari fraksi. Sementara, waktu itu fraksi yang ada di DPRD cuma Fraksi Karya Pembangunan (Golkar), Fraksi Persatuan Pembangunan (PPP), Fraksi Demokrasi Pembangunan (PDI), serta Fraksi ABRI. Secara umum di DPRD di tanah air waktu itu, Fraksi Karya Pembangunan mendominasi. Tak terkecuali di DPRD Tapanuli Utara. Jadi biasanya, calon yang diajukan oleh Fraksi Karya Pembangunan selalu muncul sebagai pemenang atau kepala daerah terpilih. Tak sulit untuk menebak atau memprediksi siapa kepala daerah terpilih. Siapa yang dicalonkan oleh Fraksi Karya Pembangunan, dialah yang kelak terpilih.
Dalam implemantasinya, seorang calon kepala daerah yang diajukan oleh Fraksi Karya Pembangunan adalah seorang calon yang dekat dengan gubernur. Dalam hal ini, posisi gubernur lebih cenderung sebagai Ketua Dewan Penasehat Golongan Karya di tingkat propinsi. Dengan alasan seorang kepala daerah pada masa itu adalah sekaligus seorang kepala wilayah yang menjadi wakil pemerintah pusat di daerah, sudah barang tentu seorang gubernur akan menjagokan ‘orangnya’ Tak mungkin seorang gubernur yang sekaligus Ketua Wanhat Golkar menjagokan orang lain. Makanya, di zaman orde baru dulu semua kepala daerah di tanah air adalah seorang Golkar. Di luar itu, hanya mimpi.
Saya sendiri memang, termasuk beruntung waktu itu sangat dekat dengan kekuasaan. Waktu pemilihan Walikota Pematangsiantar misalnya yang menghasilkan almarhum Zulkifli Harahap menjadi walikota, saya ikut terlibat langsung bersama Mariaman Naibaho SH yang waktu itu Ketua DPRD Kota Pematangsiantar sekaligus Ketua DPD Golkar. Mariaman sempat curhat kepada saya dan rekan saya Drs Ulamatuah Saragih. Dari curhatnya Mariaman waktu itu, saya memetik pelajaran mahal. Saya tidak percaya pada segala macam teori politik. Kalau teori politik yang digunakan, manalah mungkin memang Zulkifli yang saat itu Sekdakab Tapanuli Selatan terpilih menjadi Walikota Pematangsiantar.
Pelajaran itulah yang saya gunakan saat proses pemilihan Bupati Taput. Sebagai wartawan, saya pun menggadang-gadang TMH Sinaga di surat kabar tempat saya bekerja. Beruntung memang, Sabirin Thamrin, Pemred Mimbar Umum tempat saya bekerja waktu itu selalu menempatkan berita-berita yang saya tulis di halaman pertama. Tak heran, saya pun jadi ngetop di mata TMH Sinaga.
Dari Mariaman Naibaho, saya mendapat informasi yang jelas dan tegas. Jelang penetapan calon kepala daerah, Fraksi Golkar di DPRD akan menghadap gubernur sebagai Ketua Wanhat Golkar tingkat propinsi. Kepadanya ditanyakan siapa – siapa yang akan diajukan sebagai calon, dan siapa pula yang dipilih kelak. Jadi, saat itu saja pun sudah akan diketahui siapa yang akan menjadi kepala daerah. Yang diajukan Fraksi lain tidak akan pernah terpilih. Apalagi, Fraksi ABRI tetap dan selalu memilih calon yang diajukan Fraksi Karya Pembangunan. Sementara, kedua fraksi ini adalah saudara kandung bahkan saudara kembar pula. Selainnya, formalitas melulu. Mendagri sendiri, selalu menyerahkan kepada gubernur siapa yang akan dipilih (ditentukan ?) sebagai kepala daerah. Artinya, waktu itu memang Mendagri cuma terima bersih. Tak ada campur tangan sama sekali. Sudah ada takaran dan ukurannya. Kepala daerah kelas A sekian, kepala daerah kelas B sekian.
Pelajaran itulah yang saya implementasikan terhadap proses pemilihan Bupati Taput waktu itu. Dan sudah tentu, TMH Sinaga pun menjadikan saya sebagai wartawan kesayangan. Sebegitu terpilih, dia segera memanggil saya : “Kamu dampingi saya selama menjadi bupati disini ya”, katanya. Tawaran yang sudah tentu saya terima dengan senang hati.
“Terus terang, saya lahir dan besar di Rantauprapat, Tanah Karo dan Medan. Selama bertugas sebagai PNS pun, saya cuma di propinsi. Kamu kan paham sekali Taput. Disini saja ya”, katanya.
Sejak itulah, setiap Senin pagi saya berangkat ke Tarutung dan pulang ke Siantar setiap Sabtu. Saya tinggalkan istri dan putra-putri saya di rumah kontrakan kami di Jalan Sangnawaluh 10 A, persis di samping Megaland sekarang. Tak ada duka apalagi nestapa, sebab setiap Sabtu saya membawa segepok uang. Wajah istri saya tetap ceria dan cantik jelita setiap menyambut kepulangan saya saat malam sudah merangkak dengan damainya. Dan sisa malam kami habiskan dengan kelelahan yang amat sangat, meski pun begitu nikmat berpadu dalam cinta. Sementara Marto, Bram, Noni dan Mado tetap nyenyak di kamar sebelah.
Di akhir masa orde baru, 1999, TMH Sinaga pun jelang mengakhiri masa bhaktinya sebagai Bupati Taput, tapi almarhum masih berkeinginan untuk menduduki jabatan itu. Saya dipanggilnya ke kamar kerjanya, diberi perintah ini-itu, dan menyerahkan segepok uang untuk saya. Besoknya, bersama Victor Sinaga yang waktu itu Kepala Tata Usaha Dinas PU Daerah Tapanuli UJtara, saya berangkat ke Medan. Lewat ajudan Mayjen Tulus Sihombing yang waktu itu Waka BAIS ABRI, akhirnya saya berhasil mempertemukan almarhum dengan orang kedua di BAIS (Badan Intelejen dan Strategi) ABRI itu di Hotel Tiara Medan. Biasalah, almarhum TMH Sinaga menyampaikan keinginannya kepada sang jenderal.
Tapi waktu almarhum turun dari lantai IV Hotel Tiara setelah mengadakan pertemuan sekira lima menit dengan sang jenderal, wajahnya saya lihat kuyu dan kusut. Beberapa jenak saya diam membisu, tapi pada beberapa jenak berikutnya ketika kami duduk di lobby hotel saya tak mampu untuk tidak bertanya : “Bagaimana Pak ? Positif ?”
Almarhum menggeleng pelan dan perlahan. Saya memandang wajah Victor dan Victor pun memandang wajah saya. Wajah almarhum saya lihat masih saja kuyu dan kusut.
“Jenderal Tulus mengatakan, beliau tidak mengurus siapa-siapa yang ingin menjadi kepala daerah”, kata TMH Sinaga pelan, seperti tidak kepada siapa-siapa.
Saya diam. Victor diam. TMH Sinaga juga diam. Kami diam. Lagu sendu mengalun lembut dari speaker di dinding lobby Hotel Tiara.
Anehnya, waktu ingin beranjak pulang ke Siantar, dua ban mobil saya kempes entah karena apa. Padahal di parkiran Hotel Tiara itu, tak ada saya lihat benda mencurigakan yang bisa membuat ban kempes. Sempat juga terpikir saya, ini tak lain pekerjaan orang-orang intel di sekeliling Mayjen Tulus Sihombing. Tapi pikiran itu cepat-cepat saya bunuh dari otak saya.
Sekarang, TMH Sinaga sudah pergi. Pergi ke tempat Yang Maha Tinggi, dimana dendam, iri, dengki dan sakit hati tak ada lagi. Dari mantan ajudannya Manaor Silalahi SSos yang sekarang menjadi Camat Hutabayu Raja, Simalungun, saya mendapat tahu almarhum akan dikebumikan Minggu 17 Maret mendatang.
“Kita ke Medan ya Lae untuk melayatnya,” kata Manaor lewat telepon. Selamat Jalan Pak TMH. Saya akan tetap mengenangmu...

Mantan Bupati Taput TMH Sinaga Meninggal Dunia


Horas, Sumut
Sumatera Utara kembali kehilangan seorang tokoh birokrat. Mantan Bupati Tapanuli Utara, Drs Tahan Mangaraja Halomoan Sinaga (TMH),Kamis (14/3) meninggal dunia setelah sempat dirawat di RS Pirngadi,Medan Informasi dari kerabat dekatnya, Saut Sinaga (Lupina) menyebut, TMH yang menderita sakit gagal ginjal masih sempat dibawa ke Pirngadi sekitar pukul 08.00 pagi, tapi sekira pukul 10.00 mengembuskan nafas terakhir, disaksikan istri tercinta Anna br Simorangkir dan sejumlah keluarga dekat.
Almarhum semasa hidupnya telah mengukir berbagai prestasi gemilang dalam karirnya sebagai birokrat senior di Pemprov Sumut. Terakhir almarhum menjabat Bupati Taput priode 1994-1999,menggantikan Lundu Panjaitan SH.

TMH Sinaga kelahiran Rantau Parapat 12Mei 1944, memulai karirnya setelah masuk PNStahun 1970. Almarhum menjadi staf Inspektorat Provsu sejak tahun 1968-1983, kemudian jadi Kepala Inspektorat Kodya Medan 1980-1981, dari sana diangkat jadi Irban pada Itwilprovsu. Pada tahun 1994 almarhum memenangkan pemilihan Bupati Taput priode 1994-1999.

TMH Sinaga mengawali pendidikan Sekolah Rakyat (SR) tahun 1956 di Kabanjahe, SMP 1960 di Medan, SMA 1963 di Medan, kemudian masuk Universitas Nommensen jurusan ekonomi, meraih gelar Drs tahun 1969.

Sejumlah pejabat teras Pemprov Sumut datang melayat almarhum menyampaikan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas kepergian TMH Sinaga. Beberapa waktu belakangan,almarhum diketahui agak terganggu kesehatannya. Padahal almarhum dikenal sebagai orang yang gemar berolahraga. Setelah pensiun, almarhum bahkan sering mengisi waktu menyiram bunga di pekarangan rumahnya, seperti pernah dilihat wartawan saat berkunjung ke rumahnya tahun 2011. “ Saya suka bunga, karena bunga menciptakan inspirasi dan keindahan,” ujarnya ketika itu. Di tengah kesibukannya sebagai birokrat, TMH sering menyempatkan waktu kebun. Almarhum memiliki sebidang kebun kopi di kawasan Silangit.” Berkebun itu menyenangkan, sambil santai juga jadi sarana olahraga,” katanya satu ketika. Setelah pensiun, TMH aktif mengikuti berbagai kegiatan sosial, termasuk  punguan marga Sinaga. Almarhum pernah menjabat Ketua PPTSB se- Indonesia hasil mubes.

Semasa menjadi Bupati Taput, almarhum dikenal dengan program kerakyatan seperti gaya kepemimpinan Torang Lumbantobing dan RE Nainggolan. Almarhum banyak mengunjungi wilayah pedesaan dan menggerakkan gotong royong masyarakat.  Salah satu visinya adalah mengoptimalkan pengelolaan lahan tidur yang masih luas di Taput. Almarhum meluncurkan motto “Tapeolju” (tanam, petik, olah, jual), sebagai pedoman praktis mengembangkan pertanian di daerah itu. Almarhum juga menggagas  Solu Bolon Rally, untuk menghidupkan budaya perairan Danau Toba. Bahkan Taput ikut menjadi peserta lomba solu bolon (perahu besar) diselenggarakan di Penang tahun 1996. Solu Bolon Rally salah satu event olahraga internasional yang diikuti berbagai Negara, dan Taput saat itu mewakili Indonesia.

Prestasi lainnya yang menonjol saat almarhum menjabat Bupati Taput, ketika Kota Tarutung berhasil meraih penghargaan sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia. TMH Sinaga menerima Sertifikat Adipura langsung diserahkan Presiden Soeharto dalam sebuah acara resmi di Istana Negara. Almarhum yang beristerikan boru Simorangkir dari Siatas Barita/Tarutung, juga pernah aktif dalam partai politik. Dipercayakan sebagai Kordinator Daerah (Korda) Partai Golkar Wilayah Tapanuli.

Almarhum yang rencananya dikebumikan di kampung leluhurnya, di Urat, Samosir, meninggalkan istri Anna br Simorangkir asal Tarutung, dua anak laki-laki, dua anak perempuan, dan 7 orang cucu. Keempat anaknya, masing-masing Kristian Mangatur S.Sos, Mutiara Sondang,S.Sos,MM, Jenny Sinaga S.Sn, dan Hery Pantun ST. Semuanya sudah berkeluarga dan punya anak. (leonardo)

Jansen Sitompul, Balon Wakil Bupati Taput

Jansen Sitompul

Horas, Medan
Ratusan marga Sitompul yang berdatangan dari Jakarta, Pekanbaru, Tarutung, Pahae, Labuhan Batu dan Kota Medan mengadakan pertemuan khusus di Medan, Sabtu, (9/3), tepatnya di sekretariat Punguan Raja Toga Sitompul dan Boru Kota Medan Jalan Bahagia.

Pertemuan itu membahas suksesi Pemilukada Kabupaten Tapanuli Utara yang akan digelar September 2013 ini. 

Sebelumnya, telah beredar esemes di kalangan marga sitompul se-Indonesia yang intinya, marga Sitompul akan berpartisipasi aktif dalam pemilukada Taput 2013 bahkan akan memajukan satu orang marga Sitompul menjadi calon bupati.

Pertemuan itu dipimpin dr Hulman Sitompul, ketua Punguan Raja Toga Sitompul dan Boru kota Medan. Hadir juga Ketua Umum Sitompul se-Indonesia Sihol Sitompul, Raja Induk Sitompul dari Tarutung dan Jasa Sitompul (anggota DPRD Taput).
Jasa Sitompul memberikan pencerahan seputar perkembangan politik di Tapanuli Utara, termasuk penjelasan persyaratan menjadi calon bupati dan wakil bupati baik dari sisi administrasi maupun perahu partai.

Romiduk Sitompul yang datang dari Labuhanbatu menjelaskan data kependudukan Tapanuli Utara terutama data daftar pemilih tetap (DPT) sesuai data Pemilukada Gubernur Sumatera Utara yang baru berlangsung.
Satu persatu memberi tanggapan dan pendapat tentang suksesi bupati dan wakil bupati Taput. Ada yang mengatakan bahwa marga Sitompul harus merebut Taput-1. Ada yang berpendapat cukup merebut Taput -2 saja. Pendapat lain mengatakan bahwa marga Sitompul belum saatnya ikut berpolitik praktis merebut jabatan bupati dan wakil bupati.

Sihol Sitompul dan tokoh lainnya
Kesimpulannya, marga Sitompul akan dimajukan dalam Pemilukada Taput mendatang baik sebagai bupati maupun wakil bupati.
Hulman Sitompul mengajukan pertnyaan siapa yang mau mencalonkan diri jadi Bupati.  Tidak ada yang tunjuk tangan. 

Kemudian ditanya siapa yang akan mencalonkan diri jadi wakil bupati. Seorang dari peserta tunjuk tangan. Dia adalah Jansen Sitompul yang datang dari Jakarta bersama rombongan.
Jansen Sitompul pun diberi kesempatan menyampaikan visi misinya. Menurutnya, menjadi calon wakil bupati dia sudah siap. Kesiapannya totolitas. 

Dia mengatakan, sebenarnya sudah ada tiga orang Balon Bupati yang melamar dia menjadi wakil. 
Akhirnya pertemuan itu menyepakati Jansen Sitompul maju sebagai Balon Wakil Bupati Taput pada Pemilukada 2013.

Pertemuan itu menyepakati hanya ada satu nama yang diusung marga Sitompul menjadi Balon Wakil Bupati Taput. *)

Peringatan Hari Ulang Tahun ke-6 Vihara Hok Tek Kiong Kandis


Pesta Kembang Api dan Atraksi Barongsai Hibur Warga Kandis

Alimin dan Hasan
Horas, Kandis
LANGIT hitam malam itu sontak berubah dengan warna-warni dari Kembang Api, persis di Km 73 Kandis Kabupaten Siak. Suara petasan dan kembang api yang menghiasi langit tengah malam itu, Selasa, (12/3) membuat masyarakat setempat keluar dari rumah menyaksikan sebuah pemandangan indah pesta kembang api. 

Ada yang hanya menyaksikan dari halaman rumah, ada juga yang turun ke jalan raya dan tidak sedikit pula yang mendatangi lokasi pesta kembang api tersebut yaitu Vihara Hok Tek Kiong yang berada di Km 73 Kandis. Sekitar 50 meter dari jalan besar masuk melalui sebuah gang diantara ruko-ruko yang berjejer.

Di halaman Vihara tersebut berkumpul warga Tionghoa bercampur baur dengan warga setempat menyaksikan pesta kembang api. Unsur Pimpinan Kecamatan Kandis seperti dari kecamatan, Polsek dan Danramil serta para tokoh masyarakat tampak hadir. Tidak bisa dipungkiri bahwa pelaksanaan pesta kembang api malam itu benar-benar menjadi sebuah hiburan gratis buat masyarakat Kandis secara umum yang berlangsung hampir satu jam. Acara Pesta Kembang Api mengawali kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Vihara Hok Tek Kiong Kandis yang ke-6 tahun 2013. 

Besoknya, Rabu, (13/3) pagi diadakan acara ritual agama Budha di dalam Vihara yang dipimpin oleh Pekong Kwan Tekong. Di halaman Vihara juga diadakan acara pembakaan kertas yang juga dipimpin oleh Pekong Kwan Tekong. Siang hingga malam diadakan atraksi Barongsai.
Syaiful Kanit Intelkam sedang angkat angpao
Vihara Hok Tek Kiong berdiri tahun 2005 diatas sebidang tanah yang dihibahkan oleh seorang pengusaha dari Pekanbaru yaitu Alimin. Di awal pembangunannya, tidak banyak yang memberi sokongan. Namun lambat laun sokongan datang dari mana-mana sehingga bangunan tersebut bisa kokoh berdiri seperti sekarang ini. 
Vihara ini berada dibawah naungan Yayasan Sosial Hikmat, kata Hasan kepada Horas, Rabu, (13/3). Hasan sendiri adalah Ketua Yayasan Sosial Hikmat. Dia juga adalah Ketua Keluarga Masyarakat Tionghoa Kecamatan Kandis. Bahkan, dia dipercaya sebagai Ketua Vihara. Tidak heran, semua warga Tionghoa yang ada di Kandis menyapa Hasan dengan panggilan "Ketua". 

Sejak diresmikan tahun 2007, Vihara ini dijadikan sebagai tempat sembahyang (rumah ibadah) bagi penganut agama Budha yang ada di Kecamatan Kandis sekitarnya setiap hari. Walau tergolong kecil, namun bagi mereka tempat ibadah ini sangat dibutuhkan. Letaknya sangat strategis dan mudah dijangkau. 

Ketua Vihara Hasan didampingi Bendahara Joko dan pendiri Alimin, jumlah warga Tionghoa di Kecamatan Kandis berkisar 120 kepala keluarga. Sejak awal pembangunannya hingga berdiri dan dipergunakan hingga sekarang, tidak ada permasalahan berarti. Semua perijinan menyangkut berdirinya Vihara ini sudah ada. Pemerintah setempat mulai dari Ketua Rt, Rw, Lurah, Camat sampai Bupati memberi dukungan penuh atas pendirian rumah ibadah bagi kaum Budha ini. 

Pendiri Yayasan Sosial Hikmat, Alimin, mengatakan sumbangan dari masyarakat atas pembangunan fisik Vihara terus mengalir setiap tahunnya. Diantaranya, jalan menuju Vihara merupakan sumbangan masyarakat.
Sumbangan masyarakat lainnya, kata Alimin, yaitu sepasang Naga yang terdapat di Gapura pintu masuk, Naga dan Harimau yang terdapat di dalam pintu masuk, serta sepasang Naga yang terdapat di atas atap. Dan masih banyak bangunan lainnya yang berasal dari sumbangan masyarakat, kata Alimin sambil mengucapkan terima kasih kepada para donateur yang telah memberikan sumbangannya.

Danramil Kandis Masri Khat,  anggota dan Alimin dan Hasan
Masyarakat Tinghoa beberapa tahun terakhir ini tidak perlu lagi ke vihara lain seperti ke Duri, Perawang dan Pekanbaru untuk melakukan sembahyang. Vihara Hok Tek Kiong telah bisa digunakan sebagai tempat sembahyang bersama. Walau pembangunannya berjalan maraton, tapi manfaatnya sangat dirasakan oleh warganya.

Selain dimanfaatkan sebagai rumah ibadah, Vihara ini juga sangat dirasakan sebagai sarana kebersamaan dan persaudaraan sesama warga Tionghoa.

Masyarakat setempat dari berbagai suku dan agama yang ada di Kecamatan Kandis juga memberi apresiasi. Semua hidup rukun dan damai. Satu sama lain saling menghormati dan tetap terjalin hubungan silaturahmi yang baik. Hubunan antar umat Beragama di daerah ini juga terjaga dengan baik, kata Zakirman Ketua Rt 01/Rw 05 Kelurahan Simpang Blutu Kandis kepada Horas. Ditambahkannya, kehadiran Vihara ini sejak dibangun hingga sekarang tidak ada masalah dan perijinannya sudah lengkap.

Kehadiran Vihara Hok Tek Kiong di Kandis Kabupaten Siak banyak memberi nilai positif terhadap masyarakat setempat. Masyarakat Kecamatan Kandis baru mengenal dan menyaksikan sendiri Barongsai sejak Vihara ini berdiri. Soalnya, pihak pengelola Vihara ini setiap tahun mendatangkan Barongsai ke Kandis dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Vihara ini. Begitu juga dengan pesta Kembang Api. Masyarakat setempat selama ini hanya melihat kembang api di layar kaca televisi. Pada peringatan Hari Ulang Tahun Vihara Hok Tek Kiong ke-6 ini, masyarakat Kandis sangat terhibur dengan Pesta Kembang Api yang dilaksanakan di halaman Vihara.

Selama dua malam berturut-turut, pengelola Vihara ini mengadakan Pesta Kembang Api, yaitu Selasa malam (12/3) dan Rabu malam (13/3). Dari jarak jauh dan jarak dekat, masyarakat Kandis menyaksikan begitu indahnya langit malam yang dihiasi kembang api warna-warni. Anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak berkerumun mendekat ke lokasi Vihara untuk menyaksikan pesta kembang api di hari pertama dan hari kedua. Begitu juga pada hari kedua pesta kembang api yang dibarengi dengan atraksi Barongsai di lokasi Vihara. 

Atraksi Barongsai
Atraksi Barongsai dimulai sejak pukul 14.00 Wib, Rabu, (13/3) di Vihara. Setelah itu rombongan Barongsai mengadakan atraksi di Mapolsek Kandis. Masyarakat setempat berkerumun di halaman Mapolsek Kandis menyaksikan atraksi Barongsai. Dua Barongsai warna merah dan putih terlebih dahulu atraksi di pintu masuk Polsek kemudian masuk ke dalam dan memasuki setiap ruangan yang ada di Mapolsek itu. 

Beberapa orang anggota Polsek Kandis tampak hadir menyambut kedatang Barongsai. Syaiful, Kanit Intelkam mewakili Kapolsek berdiri dan mengangkat tangan tinggi sambil melambai-lambaikan tangan kanannya dengan amplop merah berisi uang (angpau). Ini sebagai pancingan agar kedua Barongsai memakanannya. Barongsai pun berdiri dan mengambil angpau yang ada di tangan Syaiful. Tidak ketinggalan, anggota polisi lainnya juga berdiri sambil memegang angpau. Pemberian angpau kepada Barongsai sudah menjadi kebiasaan dalam setiap atraksi.

Dari Mapolsek, rombongan Barongsai menuju Kantor Koramil Kandis. Disana sudah menunggu Danramil Kandis Masri Khat bersama anggotanya. Setelah Barongsai memberi hormat kepada komandan berbaju hijau itu, kedua Barongsai memasuki setiap ruangan. Katanya untuk membersihkan setiap ruangan. Danramil serta anggotanya berkesempatan memberikan angpau kepada kedua Barongsai. Sebelum rombongan Barongsai meninggalkan tempat itu menuju Kantor Camat Kandis, terlebih dahulu diadakan foto bersama antara kedua Barongsai dengan Danramil dan anggotanya serta pengurus Vihara Hok Tek Kiong.

Di kantor Camat Kandis, rombongan disambut Sekcam dan seluruh staf yang dari tadi belum pulang kantor hanya menunggu kedatangan Barongsai. Masyarakat setempat juga berdatangan menyaksikan atraksi tersebut. Disini, Barongsai juga memasuki setiap ruangan kantor Camat untuk dibersihkan. Sekcam dan beberapa orang stafnya juga memberikan angpau kepada Barongsai. 

Atraksi Barongsai tidak hanya dilakukan di kantor UPIKA (kantor Polsek, Koramil dan Camat) juga dilakukan di kediaman warga. Diantaranya di Kedai Chandra Snack, Bengkel dan rumah Pak Hasan (Ketua Vihara), Bengkel Utama Jaya Motor milik Asiong, Bengkel Akuang, di tempat terbuka halaman dokter praktek di Pasar Minggu, Tpkp Perabot Asia Sukses Mandiri, Bengkel Yamaha dan terakhir di Swalayan Pasaraya Kandis milik Alimin.
Vihara Hok Tek Kiong Kandis

Wartawan Horas yang mengikuti perjalanan atraksi Barongsai tersebut menyaksikan animo dan sambutan masyarakat Kandis sangat tinggi. Setiap atraksi banyak warga Kandis mendekat menyaksikannya, baik anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak. Dari raut wajah warga yang menyaksikan atraksi tersebut terihat kegembiraan yang dibuktikan dengan wajah ceria dan sesekali tertawa. Kehadiran Barongsai di Kandis benar-benar membawa hiburan segar bagi warga setempat.

Pantauan Horas di Swalayan Pasar Raya Kandis, ada seorang penjaga swalayan yang ketakutan dan tidak berani melihat secara dekat Barongsai. Wanita penjaga swalayan ini berondok saat Barongsai melewatinya. "Saya takut……," katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Membersihkan Ruangan
Pertunjukan Barongsai, ternyata tidak hanya sekedar hiburan belaka bagi masyarakat. Ada satu makna tersendiri bagi warga Tionghoa, yaitu mengusir roh-roh halus dan roh jahat yang ada dalam rumah. Maka, ada satu istilah yaitu membersihkan ruangan. Disaat Barongsai memasuki setiap ruangan rumah atau kantor yang dikunjungi, diyakini, bila di dalam ruangan itu ada mahluk halus dan roh jahat akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Soalnya, roh jahat sangat takut kepada Barongsai.

Malam penutupan
Perjalanan atraksi Barongsai yang sangat melelahkan itu berakhir hingga pukul 19.00 Wib malam. Kemudian seluruh krew Barongsai kembali ke Vihara dan makan malam bersama pengurus Vihara dan warga Tionghoa lainnya. Sebelum makan, tampak para warga melakukan sembahyang di dalam Vihara.
Pukul 20.00 Wib, Barongsai kembali menunjukkan kebolehannya. Pertunjukan Barongsai di malam penutupan itu diawali dengan pertunjukan music saja tanpa tarian Barongsai. Alat music yang dimainan diantaranya Tambor, Cecer dan Gong. Pukulan Tambor pertama sangat keras sehingga menghentakkan suasana malam itu menjadi ramai. 

Usai pertunjukan alat music Barongsai dua babak, Barongsai merah dan putih memulai atraksinya. Setiap gerakannya yang lincah, tetap sesuai dengan alat music yang dimainkan. Warga Tionghoa bersama anak-anaknya mulai mendekat. Terlihat ada yang mengabadikan pertunjukan itu dengan itu dengan kamera handphond, ada juga yang merekamnya dengan kamera Ipad. 

Dalam waktu hitungan menit, pintu masuk Vihara sudah dipadati warga Kandis. Mereka ingin kembali menyaksikan pertunjukan Barongsai. Setelah keluar dari dalam Vihara, kedua Barongsai menemui warga yang sudah berkerumun di pintu masuk sampai ke pintu gerbang jalan besar. 

Pesta kembang api kembali digelar. Pengunjung semakin mendekat untuk menyaksikan indahnya kembang api menghiasi udara malam cerah itu. Warga Kandis sekitar lokasi Vihara juga menyaksikan kembang api tersebut di udara dari jarak jauh. Sambil pesta kembang api, kedua Barongsai tetap menari sesuai iringan music tambor. Horas mencatat, pertunjukan Barongsai dibarengi dengan pesta kembang api pada malam penutupan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Vihara Hok Tek Kiong Kandis ke- 6 berlangsung selama 40 menit non stop. 

Horas juga mencatat, sejak acara dimulai dari pagi, Rabu, (13/3) hingga malamnya tidak ada kata-kata sambutan. Semua acara berjalan secara spontan sesuai yang sudah diaturkan sebelumnya. 
Barongsai Himpunan Tjinta Teman (HTT) Pekanbaru

Barongsai yang tampil di Kandis diundang dari Himpunan Tjinta Teman (HTT) Pekanbaru. Aseng, pimpinan Barongsai HTT Pekanbaru kepada Horas mengatakan, jumlah anggotanya (pemain) sebanyak 29 orang. Tapi yang dibawa ke Kandis hanya 14 orang. Para pemain Barongsai ini umumnya anak sekolah SMP, SMA dan ada juga yang sudah kerja. 

Pemain Barongsai ini, ternyata, tidak hanya anak-anak warga Tionghoa. Ada juga Jawa dan Minang. Itu artinya, siapa saja yang ingin belajar Barongsai, HTT Pekanbaru terbuka. Latihannya empat kali dalam satu minggu, yaitu Selasa dan Kamis pukul 19.00 Wib.  Sabtu dan Minggu pukul 14.00 Wib. Tempat latihannya di Jalan Riau Ujung Pekanbaru. Pelatihnya yang cukup handal ada tiga orang yaitu Hendra, Manto dan Salim. Alat music pengiring tarian Barongsai hanya ada tiga yitu Tambor, Cecer dan Gong. 

Di Pekanbaru hanya terdapat tiga buah perkumpulan Barongsai. Salah satunya dalah Barongsai HTT Pekanbaru yang berdiri tahun 2001. Perkumpulan ini sudah sering tampil di Pekanbaru. Bahkan sudah beberapa kali mengikuti pertandingan Barongsai tingkat Nasional. Pernah mengikuti Presiden Cup Megawaty Soekarno Putri di Yogyakarta dan berhasil mendapat juara harapan satu. Tahun 2012 kemarin mendapat juara harapan satu di Selatpanjang.*Horas)