Daftar Blog Saya

Sabtu, 19 Januari 2013

ANDUS HUTASOIT TERPILIH JADI KETUA UMUM IKATAN KELUARGA BATAK PEKANBARU SEKITARNYA (IKBPS)

Andus Hutasoit, Ketua Umum IKBPS Terpilih


Horas, Pekanbaru
Seluruh Punguan Parsahutaon yang ada di Kota Pekanbaru akhirnya bersepakat untuk menghidupkan kembali Paguyuban Ikatan Keluarga Batak Pekanbaru Sekitarnya (IKBPS) dan secara aklamasi Andus Hutasoit terpilih sebagai Ketua Umum. Kesepakatan itu diambil pada pertemuan seluruh pengurus parsahutaon yang ada di kota Pekanbaru, Sabtu malam (19/1) di Hotel Ibis Pekanbaru. yang dihimpun dan diprakarsai oleh Andus Hutasoit  Dengan demikian, seluruh Punguan Parsahutaon (batak) yang ada di Kota Pekanbaru tidak lagi mengakui dan tidak lagi menerima kehadiran Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR). Namun, bila kedua kubu IKBR bersatu, maka IKBPS akan melebur kembali ke IKBR.

Pada pertemuan pertama di Hotel Ibis Pekanbaru, Selasa, (8./1), seluruh Pengurus Punguan Parsahutaon telah memberi mandat kepada sembilan orang sebagai Tim Rekonsiliasi yaitu mempersatukan dua kubu IKBR yang sedang mengklaim dirinya yang benar yaitu kubu Tumpal Hutabarat (versi Mubes) dan Cornelius Barus (versi Mubeslub).

Ketua Tim Rekonsiliasi Andus Hutasoit dalam pertemuan kedua, Sabtu malam (19/1) di Hotel Ibis menjelaskan, tim rekonsiliasi telah mengundang pihak Tumpal Hutabarat dan Cornelius Barus pada hari Sabtu, (12/1) di Sekretariat Tim Jalan Sentosa Pekanbaru. Yang hadir hanya Tumpal Hutabarat. Sementara Cornelius Barus dkk tidak hadir.

Usai pertemuan dengan Tumpal Hutabarat, Hinsatopa Simatupang mengundang Tim Rekonsiliasi ke kantornya. Namun, kata Andus Hutasoit, Hinsatopa Simatupang tidak bersedia untuk dipersatukan dengan pihak Tumpal Hutabarat.

Mandat kepada kami hanya satu minggu dan tugas sudah kami jalankan, namun hasilnya kedua kubu tidak bisa dipersatukan. Karena itu kami serahkan kepada floor apa langkah yang akan kita tempuh untuk selanjutnya, kata Andus Hutasoit.

Yonesri Situmeang yang memimpin rapat malam itu memberi kesempatan kepada floor untuk memberi tanggapan atas pemaparan yang disampaikan Andus Hutasoit selaku ketua tim rekonsiliasi sekaligus pemrakarsa.

Tumpak Manalu yang diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan tanggapan meminta kepada tim rekonsilisasi yang sekaligs menjadi pimpinan rapat dan duduk di depan untuk mengambil sikap yaitu membentuk kepengurusan Ikatan Keluarga Batak Pekanbaru Sekitarnya (IKBPS) sesuai dengan kesepakatan pertama yang menyebutkan "bila tim tidak berhasil dalam tempo satu minggu untuk mempertemukan kedua kubu, maka akan dibentuk kepengurusan IKBPS".

Patar Sitanggang juga mempertegas agar komitmen semula segera dilaksanakan. Cuma dia meminta kepada seluruh pengurus parsahutaon yang ada di Pekanbaru agar tidak plin-plan. Artinya, semua harus mempunyai komitmen untuk membentuk IKBPS dan tidak tunduk kepada salah satu kepengurusan IKBR yang ada sekarang.

Pembicara lain seperti Manurung Parhasapi, Nainggolan dari Rumbai, Togap Marpaung, Sianipar dan utusan dari Palas serta pembicara lainnya mengutarakan pendapat yang sama. Semuanya sepakat untuk membentuk kepengurusan IKBPS.

Untuk menjawab pertanyaan dari floor, Dapot Sinaga mencoba memberi sedikit ulasan tentang keberadaan IKBPS. Menurut Dapot Sinaga, sebenarnya IKBPS merupakan cikal bakal terbentuknya IKBR. Dan pada awalnya di tahun 2000 IKBPS dan IKBR sama-sama dikukuhkan. Beberapa lama setelah itu, terbentuk juga Ikatan Keluarga Batak Duri (IKBD), Ikatan Keluarga Batak Dumai dan IKB-IKB lainnya di Riau. Di pertengahan perjalanannya, akhirnya semua IKB yang ada di daerah dirubah nama menjadi IKBR dan berada dibawah kepengurusan IKBR Pusat yang berkedudukan di Pekanbaru. Karena itu, tidak ada salahnya kita kembali ke asal yaitu IKBPS.

Setelah semuanya sepakat, maka pimpinan rapat Yonesri Situmeang mengajukan pertanyaan kepada floor "apakah kita semua setuju untuk membentuk IKBPS?". Floor menjawab "setuju........". Maka pimpinan rapat mengetuk palu pertanda bahwa IKBPS resmi dibentuk kembali.

Pemilihan Ketua Umum
Pimpinan rapat melemparkan kepada floor siapa calon ketua sekaligus mempersilahkan siapa diantara floor dan jajran pimpinan rapat yang menjadi ketua. Tumpak Manalu secara spontan mengusulkan nama Andus Hutasoit. Hampir seluruh floor bersedia. Namun, seorang peserta rapat Siagian tunjuk tangan dan mengusulkan nama Dapot Sinaga. Namun Dapot Sinaga langsung menjawab bahwa dirinya tidak bersedia menjadi ketua IKBPS. "Selama ini saya adalah sekretaris Generasi Muda Batak Pekanbaru. Dan dalam waktu dekat, kami akan melaksanakan Musda dan saya akan mencalonkan sebagai Ketua Generasi Muda Batak Pekanbaru," kata Dapot.

Dapot Sinaga yang dari tadi sudah memegang palu, kembali bertanya kepada floor apakah floor setuju bahwa Ketua IKBPS adalah Andus Hutasoit, seluruh mengatakan setuju. Sebelum palu diketok, Manurung Parhasapi angkat bicara agar semua angkat tangan dan berdiri sebagai pertanda persetujuan aklami kepada Andus Hutasoit. Dapot Sinaga pun mengetuk palu sebanyak tiga kali.

Setelah itu Andus Hutasoit ditanya apakah bersedia? Dia terdiam sejenak sambil memandangi satu persatu floor. Akhirnya dia berkata "ya". Untuk menyusun kepengurusan lengkap, Andus Hutasoit otomatis menjadi Ketua Tim Formatur ditambah tujuh orang mewakil Pengurus Punguan Parsahutaon, dari lima sub etnis dan para peimpinan rapat.

Sebelum rapat ditutup, Patar Saitanggang, seorang pengacara dan aktivis buruh kembali memegang corong dan meminta kepada ketua dan pengurus terpilih nantinya agar IKBPS jangan dijadikan sebagai alat untuk kepentingan pengurus IKBPS. Jangan dijadikan alat politik. Bila memang ada aspirasi untuk itu, kita semua berkumpul seperti ini untuk membicarakannya bersama-sama. Kita jadikan wadah ini untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi, kata Patar Sitanggang.Andus Hutasoit bangkit berdiri ke podium dan menyampaikan bahwa dia sangat setuju dengan apa yang disampaikan Patar Sitanggang.

Di akhir acara, FK Saragih memberikan pengarahan kepada seluruh pengurus Punguan Parsahutaon dan seluruh yang hadir dalam ruangan itu. Dia mengharapkan kiranya organisasi ini berjalan sesuai harapan masyarakat batak. Sesekali peserta rapat tertawa dibuat FK Saragih dengan gaya humornya. Selamat buat IKBS.*)


FK Saragih, M Simamora, Tumpak Manalu

Dapot Sinaga, Yonesri, Bintang Sianipar
Andus dan Rustam Panjaitan



Nainggolan dan Manurung Parhasapi


Patar, Dapot, Parpalas

Siahaan


Togap Marpaung



Arthur Hutasoit
Ibu-ibu peserta
Arthur dan Bintang
























Rabu, 16 Januari 2013

Pesta Syukuran Bona Taon Punguan Sitompul, 17 Februari 2013 Keluarga Kurang Mampu Mendapat Santunan

Anton, Hulman dan Hendrik
TAHUN II | Edisi 07 | 15-31 Jan 2013

Horas, Riau
Punguan Raja Toga Sitompul dan Boru Kota Pekanbaru  sesuai rencana akan melaksanakan Pesta Syukuran Bona Taon 2013, Minggu, (17/2).
Salah satu program nyata di bidang sosial akan diwujudkan pada pesta syukuran tersebut yaitu pemberian santunan kepada keluarga kurang mampu.
Hal tersebut diputuskan pada rapat panitia Minggu malam, (13/1) di Hotel Bumi Asih Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru.
Ketua Punguan Raja Toga Sitompul Pekanbaru Ir Hendrik Sitompul dalam rapat tersebut mengatakan, pemberian santunan tersebut sudah diprogramkan oleh punguan. Pelaksanaan pemberiannya akan diserahkan pada Pesta Syukuran tahun 2013 ini.
Penasehat panitia Ardin Sitompul SH MH menambahkan, program sosial seperti ini harus tetap dipertahankan dan dilaksanakan setiap tahunnya.
Menurutnya, pesta syukuran bona taon sekali dua tahun sekaligus periodisasi pengurus  kurang tepat bila hanya makan-makan. Pemberian santunan kepada keluarga anggota punguan yang kurang mampu yang telah dilaksanakan selama ini oleh punguan memiliki nilai tambah tersendiri.
Pendataan keluarga kurang mampu dan yang layak mendapat santunan dilaksanakan oleh ketua wijk, kemudian akan dibahas dan dan difinalkan oleh pengurus dan natua-tua, kata Hendrik Sitompul.
Ketua Panitia Anton Sitompul kepada Horas mengatakan, persiapan panitia untuk mengadakan pesta syukuran bona taon 2012 ini sudah matang.
“Kali ini kita tidak mengundang tamu dari luar Pekanbaru seperti yang kita laksanakan pada Pesta Bona Taon 2011 lalu. Tahun kemarin, kita mengundang Ketua Umum Hatopan Raja Toga Sitompul se-Indonesia Sihol Sitompul dan rombongan dari Jakarta. Bahkan, artis ibukota Yamaro Sitompul diundang untuk meramaikan suasana. Saat itu juga kita mengundang natua-tua Sitompul dari Bona Pasogit Desa Sitompul Tarutung. Ketika itu, memang, Punguan Raja Toga Sitompul dan Boru Kota Pekanbaru memperingati ulang tahun ke-50,” kata Anton.
Pada peringatan hari ulang tahun Punguan Raja Toga Sitompul dan Boru Kota Pekanbaru ke-50 tahun 2011, punguan telah berhasil menulis sebuah buku tentang sejarah berdirinya punguan sejak tahun 1961.
Pada pesta syukuran bona taon 2013 ini sekaligus pelantikan pengurus punguan yang baru periode 2013-2015. Hendrik Sitompul yang memimpin punguan selama dua periode 2009-2011 dan 2011-2013 digantikan oleh Syafril Hulman Sitompul. *)

Adakah ‘Batak’ Calon Wagub Riau?

TAHUN II | edisi 07 | 15-31 Jan 2013
Syafriadi dan Marbaga
Ditengah terjadinya perpecahan orang batak di Riau (dualisme kepemimpinan IKBR) ternyata masih ada yang memberikan pandangan positif terhadap keberadaan batak di Riau.
Seorang tokoh Riau dan pengamat politik DR H Syafriadi SH MH mengatakan peluang ‘batak’ menjadi calon wakil Gubernur Riau sangat besar.
Masyarakat batak sudah sejak lama beradaptasi dan tersebar di Provinsi Riau. Batak ada dimana-mana.
Peranan batak dalam membangun dan memajukan Riau sangat besar. Selain petani, pedagang, pegawai negeri sipil dan pengusaha, wartawan, pengacara, notaris, jaksa, polisi dan hakim orang batak juga banyak yang terjun ke dunia politik. Tidak sedikit diantarnya menjadi anggota DPRD Riau dan DPRD Kabupaten/kota. Intinya, legitimasi batak sudah terpatri di bumi lancang kuning.
Bila demikian halnya, kenapa orang batak takut mencalonkan diri menjadi gubernur dan wakil gubernur Riau pada Pemilikada 2013 mendatang? Bila ada pandangan yang menyebutkan bahwa batak dan suku lainnya sebagai pendatang dan tidak diterima sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Riau, itu pandangan yang keliru. Itu tidak benar, sebab Riau terbuka untuk siapa saja. Yang penting ada komitmennya untuk membangun Riau.
Saya, kata Syafriadi, pernah berbincang-bincang dengan beberapa tokoh Riau seputar pesta demokrasi pemilihan gubernur dan wakil gubernur Riau 2013. Dari sekian banyak tokoh yang muncul diantaranya ada yang Melayu, Minang dan Jawa, namun saya belum melihat adanya tokoh batak yang muncul.
“Kepada Indra Mukhlis (bupati Indragiri Hilir) saya katakan, bila dia ingin menang dalam pemilihan gubernur Riau 2013 harus mencari figur wakil gubernur dari kalangan batak. Banyak tokoh batak yang mampu, diantaranya Marbaga Tampubolon,” kata Syafriadi kepada Horas di ruang kerjanya, Sabtu (12/1).
Ini fakta, Marbaga Tampubolon itu seorang tokoh muda yang energik. Visi dan misinya membangun Riau tidak diragukan lagi. Dia seorang aktivis LSM dan akitvis organisasi lainnya. Dia juga pernah menjadi calon anggota DPD RI dan di kalangan batak dia sangat dikenal. Itu alasan saya mengangkat nama Marbaga, kata Syafriadi.
Menurutnya, masih banyak sederetan nama yang dianggap mampu menjadi calon wakil gubernur Riau diantaranya Viator Butarbutar, ABPurba, Hinsatopa Simatupang, Hendrik Sitompul, Tumpal Hutabarat, HW Hutahaean, Bonar Saragi dan lainnya.
Prakiraan politik Syafriadi menyebutkan bila ada calon gubernur memilih wakilnya dari batak, kemungkinan untuk menang sangat besar. Bila ada yang mengatakan “belum saatnya”, itu sangat keliru. Kenapa menyerah sebelum bertanding, katanya nada bertanya.
Dia memberi contoh DKI Jakarta. Jokowi saat itu memang lagi ngetren, tapi peranan Ahok selaku calon wakil gubernur untuk memenangkan Pemilukada DKI Jakarta sangat besar. Jokowi tidak peduli dengan ocehan orang walau wakilnya keturunan Cina bahkan kristen lagi.
Ditempat terpisah, Marbaga Tampubolon ketika ditemui Horas, Sabtu, (12/1)  di Pekanbaru mengatakan bahwa prinsup Syafriadi itu benar. “Saya mengucapkan terima kasih atas pernyataan saudara Syafriadi tentang diri saya dan menyangkut keberadaan batak Riau secara umum,” katanya menyambut.
Apa yang dikatakan Syafriadi bukan tidak mungkin terjadi. Banyak tokoh batak yang mampu untuk calon wakil gubernur, tinggal siapa yang mau untuk maju. Menyangkut namasaya yang diangkat oleh Syfriadi, itu syah-syah saja. Mungkin itu hanya jalan pembuka untuk memancing emosional dan sikap tokoh batak untuk mencalonkan diri.
Lima Pasang
Syafriadi, mantan anggota DPRD Kampar itu memprediksi ada lima paket calon Gubernur Riau untuk bertanding pada Pemilukada 2013.
Yaitu Jon Erizal (koalisi PAN, PKS dan PBR), Anas Mamun (Partai Golkar), Ahmad (Partai Demokrat), Suryadi Khusaini (koalisi Partai PFIP dan PKB) dan Herman Abdullah (Koalisi Partai Non Parlemen). Untuk calon wakil hingga sekarang belum ada nama pasti yang muncul.
Masih dimungkinkan adanya satu pasangan lagi yaitu dari Independen. Tapi, kemungkinan lolos menjadi calon sangat tipis, kata Syafriadi yang juga Ketua SPS Cabang Pekanbaru dan Pemimpin Umum Tabloid Azam itu.
Masing-masing paket pasangan calon gubernur Riau seperti disebut diatas, menurutnya, peluang untuk menang sama sebab tidak ada calon incomben.
Tentang Jon Erizal
Secara jernih,Syafriadi menilai bahwa calon gubernur Riau Jon Erizal yang diusung oleh Partai PAN,PKS danPBR merupakan salah satu calon yang belum terkontaminasi dengan ‘permainan’ yang ada di Riau.
Artinya, dia belum pernah menjabat sebagai pejabat atau pengurus partai di Riau. “Jon Erizal adalah seorang pengusaha yang bergerak di bidang perminyakan dan gas, bertempat tinggal di Jakarta,” kata Syafriadi dan menambahkan bahwa dia adalah putra Riau yang lahir di Kampung Parit Bangkung, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau.
Orangnya cerdas dan nasionalis serta faham betul apa yang diinginkan masyarakat Riau. Walau dia tinggal di Jakarta,tapi dia sering ke Riau. Jabatannya di partai adalah Bendahara Umum Partai Amanat Nasional (PAN). *)

Rabu, 09 Januari 2013

Open House Menyambut Tahun Baru 2013 Ribuan Sahabat Banjiri Rumah RE Nainggolan

TAHUN II | edisi 07 | 09 - 22 Jan 2013

Horas, Medan
Kediaman Rustam Effendy (RE) Nainggolan yang terletak di Jalan Beringin VII nomor 62, Gaperta, Helvetia, Medan, sejak pukul 10.00 Wib Jumat, (4/1) sudah didatangi “sahabat-sahabat”nya yang ingin menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru 2013.
Acara Open House menyambut tahun baru 2013 itu berlangsung hingga pukul 16.00 Wib. Tim redaksi Tabloid Horas yang sengaja datang dari Pekanbaru menghadiri perhelatan Calon Wakil Gubernur Sumut yang diusung Partai Demokrat itu melihat sebuah suasana akrab antara RE Nainggolan serta istri dengan setiap tamu yang hadir.
RE Nainggolan tak sempat duduk. Setiap tamu yang hadir selalu disambut dengan salaman sambil melemparkan senyum khasnya. Dia pun berbaur dengan para sahabatnya.
Terima kasih atas kehadirannya, katanya kepada tim redaksi Tabloid Horas ketika menyalaminya sambil mengucapkan selamat tahun baru. Tim Horas pun dipersilahkan menyantap makanan yang telah disediakan dalam berbagai jenis makanan dalam bentuk prasmanan.
Tim Tabloid Horas yang datang dari Pekanbaru menghadiri undangan RE Nainggolan diantaranya Jhoni Banjarnahor (Pemimpin Umum), Drs PH Sitompul (Pemred), Hendrikson Tampubolon (Kepala Biro Kabupaten Bengkalis) dan Daniel (staf redaksi).
Setiap acara open house, biasanya, tuan rumah duduk santai dan tamu yang datang menyalaminya. Kali ini berbeda. RE Nainggolan dan istri jalan kesana kemari menghampiri tamu sambil mempersilahkan tamu mencicipi hidangan. Setiap tamu yang hendak pulang dia salami dan dihantar sampai ke pintu halaman. Di halaman rumah sampai ke badan jalan dipasang tenda ukuran besar serta kursi tempat duduk para tamu. 
Undangan yang datang selain para sahabat, terlihat juga ibu-ibu dari pasar, ibu-ibu tuna netra, pengurus marga dari seluruh sub etnis batak (toba, karo, mandailing, simalungun dan pakpak dairi).
Walikota Medan R Rahutman, Wakil Walikota Medan Drs H Dzulmi Eldin dan Sekretaris Kota Medan Syaiful Bahri serta rombongan Pemko Medan turut hadir dalam acara silaturahmi tersebut. Setelah menikmati hidangan di meja yang telah disediakan, walikota diundang menyanyikan lagu untuk menghibur hadirin.
Rahutman mengundang wakilnya Dzulmi Eldin dan sekretaris kota Syaiful Bahri untuk bernyanyi trio. Dua buah lagu batak  dinyanyikan secara Trio yaitu “Siantar Medan” dan “Anak Medan”. Hadirin yang menyaksikan kebolehan Trio Walikota itu menyambutnya dengan tepuk tangan riuh.
Tanggapan atas pencalonan RE Nainggolan
Beberapa orang yang sempat diajak Tabloid Horas berbicara tentang pencalonan RE Nainggolan secara umum mengatakan bahwa pemimpin Sumatera Utara sudah saatnya seperti RE Nainggolan.
“Pak RE itu Jokowinya Sumatera Utara,” kata Pak Sihombing memberi penilaian. “Alasan saya mengatakan itu, jelas terlihat bahwa Pak RE itu dekat dengan masyarakat. Dia suka terjun ke tengah masyarakat melihat secara langsung apa keluhan masyarakat”.
Selain itu, katanya, penampilan pak RE juga sangat sederhana dan selalu melemparkan senyum persahabatan kepada siapa saja yang dia temui. Ditambahkan, pak RE itu tidak calon dadakan dan tidak calon karbitan. Dia betul-betul seorang tokoh yang sudah sangat dikenal di Sumatera Utara. Pengalamannya di bidang pemerintahan tidak diragukan lagu. Dia kenal betul dengan letak gegrafis Sumatera Utara, tahu persis dengan adat dan budaya yang heterogen itu dan tahu betul apa keinginan masyarakat. Pokoknya pak RE Nainggolan tidak perlu diragukan lagi, sebut Sihombing.
Sementara itu, Marpaung, mengatakan semangat masyarakat Sumatera Utara tidak pernah surut memberi dukungan kepada RE Nainggolan walau kini ditetapkan sebagai calon wakil gubernur. Sebelum mendapat perahu, RE Nainggolan sudah mendapat dukungan penuh dari masyarakat menjadi calon gubenur. “Walau hanya wakil, kami tetap bersemangat dan berjibaku untuk memenangkan pasangan Amri dan RE,” kata Marpaung.
Marpaung mengatakan pasangan Amri dan RE dalam penyampaian visi dan visinya membangun Provinsi Sumatera Utara harus lebih menajaman programnya terhadap pemberantasan Korupsi, Nepotisme dan Transparansi.
Sebuah pemerintahan baru pasca pemilukada biasanya yang diperkuat pejabat baru (gubernur atau bupati) adalah korupsi. Ini salah satu cara mengembalikan biaya yang telah dihabiskan saat suksesi. Kemudian, menyusun para pejabat pemerintahan baik yang menduduki badan, lembaga dan dinas dari kalangan keluarganya sendiri. Tidak sedikit pejabat yang menduduki jabatannya tidak sesuai dengan ilmunya. Dudukkanlah seorang pejabat sesuai dengan ilmu dan keahliannya.
Transparansi kepemimpinan sangat dibutuhkan. Biasanya, pejabat tidak transparan dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan. Hal itu sengaja diciptakan untuk menutupi korupsi dan nepotisme. Sekarang ini jamannya transparansi, kata Marpaung.
Menurut Marpaung, persoalan korupsi ditangani oleh aparat penegak hukum seperti KPK, Polisi dan Jaksa. Tapi, kalau gubernurnya tegas dalam melaksanakan tugasnya dan tetap komit, korupsi di di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara paling tidak bisa dikurangi. Gubernur DKI Jakarta Jokowi misalnya, dalam kampanyenya dia mengatakan komit terhadap pemberantasan korupsi. Setelah terpilih dia langsung menemui ketua KPK untuk menandatangani sebuah memorandum of understanding terhadap pemberantasan korupsi di lingkungan Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta.
Banyak orang menyebut RE Nainggolan sebagai Jokowinya Sumatera Utara. Itu saya setuju. Gaya pak RE memang ada miripnya dengan Jokowi dan hal itu sudah terkihat selama ini. Tapi jangan terlena, pak RE harus lebih membuktikannya lagi sejak sekarang hingga pemilihan Maret mendatang, kata Marpaung. *)

Silaturahmi Biro Suara Kita dengan Wartawan Mandau dan Pinggir

Foto wartawan yang bertugas di Duri
TAHUN II | edisi 07 | 09 - 22 Jan 2013

Horas, Duri
Persatuan dan Kesatuan wartawan dan insan pers di Kecamatan Mandau dan Pinggir akhir-akhir ini terlihat semakin kompak.
Diperkirakan ada seratusan lebih wartawan yang bertugas di kedua kecamatan ini dari berbagai media cetak dan media online terbitan Riau dan luar Riau.
Ini sebagai pertanda bahwa Kecamatan Mandau dan Pinggir sudah semakin maju dan berkembang. Sebab, perkembangan sebuah kota selalu diikuti dengan perkembangan dunia pers.
Insan Pers yang ada, tentunya mendukung sepenuhnya program pemerintah untuk membangun daerah ini. Termasuk mendukung terbentuknya Kabupaten Mandau yang sudah lama diimpikan oleh seluruh masyarakat. Selamat bertugas kepada seluruh wartawan dan insan pers yang ada di kecamatan Mandau dan Pinggir. Jadilah pers yang bebas dan bertanggunjawab.Horas, Duri
Sekitar seratusan wartawan harian dan mingguan yang berada di kecamatan Mandau dan Pinggir menghadiri silaturrahmi yang diadakan Surat Kabar Suara Kita bertempat di Cafe Cangkir Malahayati Duri, Minggu (22/12).
Acara silaturrahmi itu juga dihadiri oleh 43 kepala biro dari berbagai media yang berada di Mandau dan Pinggir, beberapa ketua LSM dan tokoh masyarakat yang ada di Mandau. Acara itu selain silaurrahmi juga bersempena dengan hadirnya Koran Suara Kita di wilayah Kabupaten Bengkalis dan sekaligus sebagai acara tutup dan sambut tahun.
Acara silaturrahmi  yang berlangsung dengan sederhana namun keakraban sesama wartawan terasa sangat meriah. Acara itu juga menghadirkan hiburan dengan Orgen tunggal, yang berlangsung sampai tengah malam.
Agen Simbolon seorang tokoh Buruh Nasional yang berdomisili di Duri menyambut positif acara silaturrahmi Insan pers yang disponsori oleh Koran Suara Kita, “Apa yang dilakukan oleh Kabiro Suara Kita, merupakan salah satu kegiatan yang sangat luar biasa yang belum pernah dilakukan wartawan manapun hal sebagai motivasi wartawan lain untuk bisa lebih kreatif dapat melakukan bentuk-bentuk sosial dikalangan masyarakat agar  kalangan pers nantinya jadi panutan di Kabupaten Bengkalis khususnya di Kecamatan Mandau”, kata Agen antusias.
Sementara Hendrikson Tampubolon, SH. sebagai Kabiro Tabloid Horas mengatakan dengan hadirnya media Suara Kita di kabupaten Bengkalis, Kec Mandau mari kita sambut baik demi untuk meningkatkan nilai-nilai hak azasi manusia terutama masyarakat kecil, yang kurang mengerti tentang kehidupan masa sekarang.  Tidak lupa saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Media Suara Kita  yang telah membuat acara  syukuran dan silaturrahmi dalam acara ini, yang telah mengundang beberapa media pers untuk mempersatukan dengan tujuan terbitnya atau terwujud rasa persatuan dan kesatuan dikeluarga pers yang berada di kabupaten Bengkalis dan kec Mandau dan Pinggir, maka dengan terujudnya acara ini semoga kita mempunyai misi dan visi yang satu tujuan serta tidak mencari suatu permasalahan yang dapat memisahkan kita di keluarga media pers, seperti kata pepatah, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”. Kata hendrikson  Tampubolon
Kepala Biro Bengkalis Koran Suara Kita Herlinda Wati mengatakan,”Acara silaturrahmi ini sengaja diadakan, dengan tujuan kedepannya Insan Pers yang ada di Mandau dan Pinggir supaya tetap terjalin hungan silaturrahmi dengan tetap menjalankan tugasnya dibidang jurnalistik dengan memberikan pembelajaran kepada masyarakat khusus pihak pemerintahan untuk bisa bekerja sama dalam pembangunan diwilayah Kabupaten Bengkalis khusus di Kecamatan Mandau dan Pinggir”. Ujar Herlinda Wati berharap.
(hendrikson tampubolon SH).

Pendapat Andus Hutasoit Tentang Dualisme IKBR

Andus Hutasoit dan Yonesri Situmeang
TAHUN II | edisi 07 | 09 - 22 Jan 2013
Horas, Pekanbaru
Sinyal akan terjadinya gelombang perpecahan yang cukup besar di tengah masyarakat batak yang ada di Provinsi Riau  akan terjadi. Ini berawal dari adanya dualisme kepemimpinan Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR) Provinsi Riau.
IKBR yang satu adalah kubu  Tumpal Hutabarat yang terpilih sebagai Ketua Umum pada Mubes yang dibentuk Viator Butarbutar Ketua IKBR periode 2007-2011. Sementara IKBR yang satu lagi adalah kubu Cornelius Barus yang terpilih sebagai ketua umum IKBR hasil Mubeslub IKBR yang diselenggarakan lima sub etnis batak ditambah IKBR kabupaten/kota.
Untuk menanggapi persoalan ini, seorang tokoh masyarakat batak Pekanbaru memberi komentar sekaligus pandangan dan himbauannya.
Andus Hutasoit alias Lompat termasuk salah seorang tokoh batak dan penggerak terbentuknya Ikatan Keluarga Batak di Kota Pekanbaru, sekarang dia masih memangku jabatan Ketua IKBR Kecamatan Payung Sekaki Kota Pekanbaru.
Selama ini dia sangat peduli dengan keberadaan IKBR. Dia memberikan tenaga, waktu, pemikiran bahkan materi untuk mempertahankan nama IKBR.
Belakangan ini, kepercayaannya terhadap IKBR mulai luntur. Dia termasuk salah satu dari ratusan ribu warga Batak yang tinggal di Pekanbaru yang tidak setuju dengan adanya dualisme kepengurusan IKBR Provinsi Riau.
Sehubungan dengan terjadinya dualisme kepengurusan IKBR PRovinsi Riau akhir tahun 2012 lalu, Andus Hutasoit menyampaikan pandangan dan himbauan yang disampaikan kepada para penatua batak dan pengurus Punguan Parsahutaon/STM.
Berikut ini pandangan Andus Hutaoit terhadap dualisme kepengurusan IKBR Provinsi Riau yang disampaikan kepada penatua dan pengurus punguan Parsahutaon yang ada di Kota Pekanbaru.
Setelah melihat dan mengamati dinamika yang terjadi di organisasi Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR) yang merupakan satu-satunya organisasi paguyuban terbesar yang berkedudukan di Provinsi Riau, dimana terjadinya dualisme kepemimpinan yang masing-masing mengklaim kebenarannya dengan mengatakan keabsahannya sesuai aturan masing-masing yang dipandang benar, Andus Hutasoit dan masyarakat batak secara keseluruhan menjadi bingung. Masyarakat bertanya-tanya, siapa sebenarnya pemimpin IKBR yang absah.
Berangkat dari kebingunan itu, Andus melihat adanya indikasi perpecahan dan bahkan sudah terjadi perpecahan yaitu adanya dua kubu. Masing-masing kubu membentuk kepengurusannya (Pengurus Pusat IKBR) dan melakukan konsolidasi ke kabupaten/kota untuk membentuk pengurus daerah IKBR. Ini sebuah kejadian yang tidak baik dan tidak terpuji yang dilakukan oleh para orang tua yang dianggap sebagai tokoh batak di Provinsi Riau.
Andus Hutasoit memprediksi akan terjadi gelombang perpecahan yang semakin besar bagi suku batak hingga ke daerah. Masing-masing kubu membangun kekuatan dan kekuasaan. Kedua kubu ini terlihat ada maksud akan memecahbelah kekuatan batak yang telah terbangun baik selama ini.
 Menurutnya, nenek moyang batak (Ompunta sijolo-jolo tubu) tidak pernah mewariskan adanya tindakan-tindakan yang berupaya menceraiberaikan kesatuan bangso batak. Seperti umpasa “Balintang ma pagabe tumundalhon sitadoan, arinta do gabe molo hita masipaolooloan”. “Ompu raja dijolo martungkothon sialagundi, angka nauli na tinonahonni angka ompunta siihuthonon ni hita na di pudi”.
Yang terjadi sekarang ini di tengah bangsa batak di Provinsi Riau sama sekali tidak mencerminkan roh kehidupan bangsa batak sesuai falsafah Batak.
Untuk itu,kata Andus Hutasoit, dengan cara apapun, kedua kubu ini diharapkan bersatu kembali. Masyarakat Batak yang ada di Provinsi Riau menginginkan IKBR menjadi satu kembali yang mampu mengayomi, memberikan contoh yang baik kepada masyarakat batak dan tidak terpecah untuk kepentingan kelompok tertentu.
Ini berarti, masyarakat batak peduli IKBR yang diprakarsai Andus Hutasoit mencoba sebagai penengah untuk mempersatukan kembali kedua kubu ini.
Namun, kata Andus, bila kedua kubu ini tidak mau rujuk (kubu Tumpal Hutabarat dan kubu Cornelius Barus), maka akan ditempuh jalan terakhir dengan membentuk kembali wadah Ikatan Keluarga Batak Pekanbaru Sekitarnya (IKBPS) khusus paguyuban batak yang tinggal di Pekanbaru.
Wadah IKBPS ini tidak masuk ke salah satu IKBR yang ada sekarang. Ini salah satu cara untuk menghindari perpecahan masyarakat batak yang ada di kota Pekanbaru.
Selaku pemrakarsa, Andus Hutasoit mengajak dan menghimbau seluruh masyakat batak melalui penatua dan pengurus parsahutaon untuk bersama-sama mendukung dan memberikan pandangan terbaiknya untuk kepentingan bersama.
Untuk mewujudkan pandangan ini, Andus Hutasoit selaku pemrakarsa mengundang para penatua dan pengurus punguan parsahutaon yang ada di kota Pekanbaru untuk mengadakan rapat pada hari Selasa, 8 Januari 2013 di Hotel Ibis Pekanbaru. *)

Tim Rekonsiliasi IKBR Terbentuk, Ketuanya Andus Hutasoit. Diberi Waktu Satu Minggu untuk Bersatu


Pimpinan Rapat : Andus Hutasoit, FK Saragih, N Purba, Yonesri Situmeang, Bintang Sianipar, Dapot Sinaga, Rustam Panjaitan, M Matondang

Andus Hutasoit

TAHUN II | edisi 07 | 09 - 22 Jan 2013
Horas, Pekanbaru
Masyarakat Batak yang ada di Kota Pekanbaru marah terhadap dualisme kepengurusan IKBR. Mereka akan memboikot seluruh kegiatan IKBR di Kota Pekanbaru sebelum kedua kubu bersatu.

Pertemuan Masyarakat Batak Peduli IKBR di Hotel Ibis, Selasa malam (8/1) yang diprakarsai Andus Hutasoit memanas. Ratusan Punguan Parsahutaon yang ada di Kota Pekanbaru yang diundang sebagai peserta pertemuan tersebut saling memberikan pendapatnya tentang dualisme kepemimpinan IKBR.

Pada umumnya, para pengurus parsahutaon tidak menginginkan adanya dua kepengurusan IKBR. Masyarakat Batak Pekanbaru memaksa kedua kubu untuk bersatu. Bila kedua kubu tidak mau bersatu, maka masyarakat batak Pekanbaru akan bertindak tegas dengan memboikot seluruh kegiatan kedua kubu IKBR di Kota Pekanbaru.

Pertemuan yang dipandu Yonesri Situmeang itu mengambil satu kesepakatan bersama yaitu dengan membentuk Tim Rekonsilisasi IKBR yang diketuai Andus Hutasoit. Seluruh peserta rapat yang terdiri dari ratusan Punguan Parsahutaon malam itu juga memberi mandat kepada tim rekonsilisasi untuk mengadakan pendekatan kepada kedua kubu IKBR yang masing-masing mengklaim dirinya yang benar.     
Kepada Tim Rekonsiliasi diberi tenggang waktu satu minggu untuk untuk mendamaikan kedua kubu yang bertikai.

Bila dalam waktu satu minggu tidak ada titik terang untuk bersatu, maka masyarakat batak Pekanbaru akan kembali menghidupkan Ikatan Keluarga Batak Pekanbaru Sekitarnya (IKBPS) yang berdiri tahun 2000 bersamaan dengan IKBR Provinsi Riau.

IKBPS inilah nantinya yang menjadi wadah paguyuban batak di Kota Pekanbaru dan seluruh warga batak Pekanbaru tidak mengakui IKBR. Dan, di Kota Pekanbaru tidak dibolehkan dibentuk IKBR. Yang menjadi anggota IKBPS adalah Punguan Parsahutaon.

Ketua Tim Rekonsilisasi IKBR yang mendapat mandat dari seluruh masyarakat batak Pekanbaru melalui Pengurus Punguan Parashutaon adalah Andus Hutasoit dengan anggotanya FK Saragih, N Purba, Bintang Sianipar, Yonesri Situmeang, Dapot Sinaga, Rustam Panjaitan dan M Matondang. (Para pimpinan rapat).
Pencerahan FK Saragih

Sebelum keputusan tersebut diketuk palu oleh pimpinan rapat, panatua FK Saragih memberikan pencerahan kepada peserta. Secara panjang lebar FK Saragih memaparkan bagaimana kehidupan berbangsa dan bernegara, secara khusus kehidupan masyarakat batak secara budaya dan agama.

Sesekali peserta tertawa terpingkal-pingkal mendengar ceramahnya yang disampaikan dengan gaya humoris. Dia juga menyinggung bahwa dalam satu tubuh tidak boleh dua kepala.
Pemaparan dari pimpinan rapat

Andus Hutasoit selaku pemrakarsa sekaligus pengundang mengatakan maksud dan tujuan dikumpulkannya para pengurus Punguan Parsahutaon adalah untuk menyatukan pikiran mencari jalan keluar menyatukan IKBR.

Sebenarnya, kata Andus, kedua kubu sudah dihimbau lewat media cetak supaya bersatu. Tidak ada tanggapan. Lalu disurati, itupun tidak dijawab. Kami sudah mengingatkan mereka akan bahaya yang muncul nantinya di tengah masyarakat bila masalah dualisme kepemimpinan IKBR ini tidak segera diatasi. Dia teringat dengan kemelut HKBP yang terjadi beberapa tahunsilam. Bahkan, kata Andus, saya sudah membuat ultimatum. Bila kedua kubu tidak mau bersatu, jangan disalahkan bila tokoh muda untuk berbuat dan mengambil tindakan.

Sebagai masyarakat yang peduli IKBR, kata Andus, kita harus mencegah agar kedua kubu jangan sampai membentuk pengurus IKBR di Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa. Bila ini terjadi, maka tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.

Tokoh muda dari sub etnis Simalungun N Purba mengharapkan dengan sangat agar hasadoan ni halak batak di Riau tetap terjada. Kedua belah pihak harus tetap kita rangkul untuk bersatu kembali.

Sementara Dapot Sinaga dengan semangat tinggi meminta agar malam itu juga dibentuk pengurus Ikatan Keluarga Batak Pekanbaru Sekitarnya (IKBPS). Biar nanti pengurus IKBPS ini yang mengadakan rekonsiliasi dengan kedua kubu. Bila sudah bersatu, kita tanggalkan IKBPS dan kembali ke IKBR. Namun, pendapat ini ditentang oleh peserta.
Patar Sitanggang

Patar Sitanggang sempat mempertanyakan keberadaan IKBR Kota Pekanbaru sekarang ini. “Dimana ketua IKBR Kota Pekanbaru kenapa tidak hadir dalam pertemuan ini, padahal kita membahas soal IKBR Pekanbaru,” katanya nada bertanya.

Usul konkrit dari Patar Sitanggang agar masyarakat batak peduli IKBR membentuk tim dan diberi mandat oleh seluruh Pengurus Parsahutaon yang hadir untuk mempersatukan kedua kubu. Sebelum bersatu, seluruh kegiatan kedua kubu dibekukan.

Kepada Horas Patar Sitanggang berkomentar, sebaiknya IKBR dibubarkan saja bila mereka tetap bercokol dengan pendiriannya tidak mau bersatu. Sebab, bila hal ini dibiarkan terus berlangsung, maka akan terjadi perang saudara sesama batak di Provinsi Riau ini. Cara membubarkan gampang,tinggal niat dari para pendiri IKBR.

Dalam pertemua itu juga muncul mendapat yang mensinyalir munculnya dualisme kepengurusan IKBR adalah untuk kepentingan Pemilukada Gubernur Riau. Kami rindu akan perbuatan nyata IKBR di tengah masyarakat selama ini. Kenapa musti IKBR terpecah belah sekarang ini, apakah hanya untuk kepentingan Pemilukada, kata JM Lumbanbatu bertanya.

Pak Mei Manalu sependapat dengan usul Dapot Sinaga agar segera dibentuk IKBPS dan dipilih pengurusnya. Sifatnya temporer dan bila nanti sudah berdamai, kita kembali ke IKBR, kata Manalu.

Tampubolon, seorang peserta yang duduk di barisan depan meminta kepada pimpinan rapat untuk menjelaskan apa latar belakang terjadinya dualisme kepengurusan IKBR. Kalau memang ada yang salah di dalam tubuh IKBR atau ada yang salah dalam menjalankan organisasi ini, mari kita perbaiki dan pecahkan bersama. Kita bentuk tim konsolidasi untuk memecahkan masalah tersebut.

Viator : Bersedia Bersatu
Mantan Ketua Umum IKBR Viator Butarbutar yang dihubungi Horas melalui telepon selularnya memberi tanggapan positif dengan adanya tim rekonsiliasi IKBR yang diprakarsai Andus Hutasoit. *)

Selasa, 25 Desember 2012

Batak itu Suku, bukan Agama

Pandangan : Zakaria Saragi, BA

TAHUN I | edisi 03 | 05 - 18 Nov 2012

Saya melihat ada sebagian orang salah menilai tentang orang Batak. Saya sebagai orang batak sangat bangga menyandang predikat orang batak.
Saya sering menegaskan kepada sesama yang bukan orang batak bahwa batak itu bukan agama dan batak itu adalah suku. Salah satu suku yang ada di Indonesia yang nenek moyangnya tinggal di Sumatera Utara.
Etnis batak di Sumatera Utara terbagi dalam lima sub etnis yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak Dairi dan Batak Mandailing. Kalau kita melihat batak itu dari sisi agama, batak itu tidak semuanya beragama Kristen. Tidak ada satu pun dari lima sub etnis batak yang semuanya satu agama. Paling tidak ada dua agama yang dianut etnis batak yaitu Kristen dan Islam.
Etnis batak, di seantreo dunia sudah dikenal. Baik dari sisi budaya dan adat istiadat yang unik, bahasa dan aksara. Di Indonesia, paling tidak ada dua suku besar yang memiliki aksara yaitu Jawa dan Batak.
Banyak orang dari etnis lain di Indonesia dinobatkan menjadi orang batak, misalnya dengan menambahkan marga di belakang namanya. Dan untuk mendapatkan ini tidak bisa sembarangan. Harus melalui sebuah proses adat. Tidak bisa sembarangan mengaku begitu saja bahwa dia punya marga.
Tapi sebaliknya, banyak orang batak tidak lagi mengaku dirinya sebagai orang batak. Saya tidak tahu apakah mereka itu malu sebagai orang batak atau menyesal dilahirkan sebagai orang batak.
Hal ini sering saya alami di tengah masyarakat. Dari namanya, bahasanya dan penampilannya saya pastikan dia bukan orang batak. Tapi setelah berkenalan lebih jauh ternyata dia adalah asli batak.
Sering saya tanyakan apa alasannya tidak lagi memakai identisasnya (marga) banyak diantara mereka yang mengatakan “untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di tanah rantau ini”. Ada juga diantara mereka yang memberi jawaban “malu menyandang gelar batak”.
Soal agama, bagi etnis batak tidak ada masalah. Sebagai contoh, anak pendeta sekalipun bila telah mencintai seseorang yang tidak seagama dengan dia, dia rela pindah agama. Pada awalnya, memang, orangtua pasti marah. Tapi, ingat, setelah dia punya cucu dari anaknya, hatinya pasti luluh. *)  

Batak Itu Bukan Agama

Pandangan : Syaifin Bastian
TAHUN I | edisi 03 | 05 - 18 Nov 2012


Batak itu memang Keras, tapi Hatinya LembutPenduduk Kota Pekanbaru tergolong heterogen. Ada suku Melayu, Minang, Jawa, Tionghoa, Banjar, Batak dan suku lainnya. Semuanya hidup rukun dan damai di dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Hidup rukun ini telah berjalan puluhan tahun dan hingga sekarang hampir tidak pernah terjadi gesekan berarti antara suku yang satu dengan suku yang lain. Bahkan kerukunan umat beragama tetap terjaga dengan baik.
 Orang batak, memang, terkenal dengan sifat kerasnya, terutama suaranya. Namun, setelah kita mengenal lebih dalam jiwanya tidak sekeras yang kita bayangkan.
Pengalaman saya sejak berkenalan dengan orang batak, saya menilai, orang batak itu sangat konsekwen dan setia. Ketika saya di Jakarta, saya banyak berkenalan dengan orang batak dan bahkan menjadi teman. Bahkan, saya ikut perkumpulan Ikatan Pelajar asal Belige di Jakarta.
Banyak pengalaman yang bisa saya petik selama berteman dengan orang batak, baik selama di Jakarta, di Jambi dan di Pekanbaru.
Dari luar sekilas kita melihat, mereka tidak kompak dan tidak bersatu. Namun setelah saya amati, persatuan dan kesatuan orang batak sangat tinggi. Apalagi kalau kita lihat perkumpulan satu marga, perkumpulan satu kampung asal bona pasogitnya dan perkumpulan satu kampung di tanah rantau ini.
Tidak hanya itu, antara marga yang satu dengan marga lainnya saling bertalian dan bila dikait-kaitkan pasti ada hubungan keluarga antara yang satu dengan lainnya.
Hubungannya bisa saja sebagai teman semarga, tulang, hula-hula, boru, bere dan ibebere. Adat istiadat mereka juga sangat kental. Ini sering saya lihat bila ada orang tua yang sudah berumur meninggal dunia. Walau tidak ada pertalian darah dengan yang meninggal tersebut, mereka pasti datang melayat ke rumah duka.
Dari segi pergaulan sehari-hari, orang batak termasuk yang berjiwa nasionalis. Siapa saja, apakah itu etnis lain, agama lain dan ras lain, orang batak cepat bergaul dan dijadikan sebagai teman.
Cuma, ada saja orang menilai orang batak dari sisi luarnya saja. Hanya melihat dari wajahnya yang sangar dan suaranya yang keras. Padahal, bila dijawai lebih dalam tidaklah seperti itu. *) 
 

Batak itu bukan Agama

Pandangan Mereka tentang Orang Batak

TAHUN I | edisi 03 | 05 - 18 Nov 2012

Banyak orang menyalahartikan kata ‘Batak’ atau suku Batak, terlebih di tanah rantau. Karenanya, tidak sedikit suku diluar batak yang memberi penilaian konotasi jelek terhadap suku batak.
Mendengar nama batak ada saja orang yang tidak  senang dan langsung membuat penilaian jelek. Ada yang mengatakan, batak itu galak, seram, menakutkan, keras. Yang ekstrimnya lagi ada yang menyebut ‘batak itu Kristen’.
Mungkin saja penilaian itu ada benarnya menurut pandangan mereka. Tapi kenyataannya bila ditelusuri lebih dalam tidak demikian.
Suara keras, menurut cerita, (khusunya batak Toba) sudah dari sononya. Nenek moyang batak, dahulu kala tinggal di lereng-lereng pegunungan dan di lembah.
Jarak antara rumah yang satu dengan lainnya saling berjauhan. Kemudian jarak antara rumah dengan ladang lumayan jauh.
Sehingga untuk memanggil anak saja untuk makan harus berteriak dengan suara keras. Begitu juga untuk memanggil tetangga harus menggunakan suara keras.
Bahkan untuk mengundang teman sekampung untuk makan bersama (bila ada pesta) harus dengan suara keras. Hampir seluruh perkampungan batak di lereng Bukit Barisan Sumatera Utara sama.
Kebiasaan ini turun temurun dan menjadi kebiasaan bagi suku batak.
Mengenai wajah yang disebut-sebut seram dan menakutkan, itu merupakan ciptaan Tuhan. Tak bisa dibuat-buat.
Sudah menjadi rahasia umum dan tidak menjadi SARA lagi bila ada etnis lain diluar batak yang menyebutkan batak itu identik dengan Kristen. Sudah batak, Kristen lagi.
Kita perlu meluruskan pandangan semacam ini. Etnis batak yang tediri dari lima sub etnis tidak semuanya beragama Kristen. Banyak juga beragama Islam seperti yang tinggal di daerah Tapanuli Selatan.
Di daerah Tapanuli Utara sendiri termasuk kabupaten Samosir, Tobasa dan Humbahas Sumatera Utara yang mayoritas menganut agama Kristen banyak diantara masyarakatnya yang menganut agama Islam. Mereka itu bukan siapa-siapa tapi masih satu saudara dengan warga lainnya.
Bagi batak, agama itu tidak menjadi satu persoalan besar. Banyak orang batak yang kawin dengan suku lain dan agama lain.
Sebaliknya, banyak juga etnis lain masuk menjadi etnis batak dengan cara membuat marga.
Sebuah pengertian, bahwa batak itu berjiwa nasionalis dan terbuka untuk umum. Namun tidak bisa dipungkiri ada juga satu dua yang ditemui sangat fanatik dengan batak-nya dan agamanya.*)

HIDUPKU BERHARGA BAGI ALLAH

Bulan Oikumene Anak Sekolah Minggu, 4 - 25 November 2012

TAHUN I | edisi 03 | 05 - 18 Nov 20
 
Hidupku Berharga Bagi Allah. Kalimat singkat yang tertulis dalam kitab Yesaya 43 ayat 4a ini merupakan tema dari Bulan Oikumene Anak Sekolah Minggu (BOAS) tahun 2012 ini. Berlangsung dari tanggal 4 - 25 November 2012 di Pekanbaru diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Riau.
Ketua Panitia Ferri Pardede yang juga anggota DPRD Kota Pekanbaru dari Fraksi Damai Sejahtra kepada Horas usai acara pembukaan BOAS di Gereja Gekari Maranatha, Minggu, (4/11) mengatakan kegiatan ini diselenggarakan sekali dalam dua tahun.
Kegiatan yang diperlombakan diantaranya lomba tari kreasi, melukis, menyusun fajo, bahasa Inggris Alkitab, pengkhotbah cilik, sekolah minggu ceria, paduan suara dan lain-lain.Sementara lokasi penyelenggaraan BOAS ada di tiga tempat yaitu di GEKARI Maranatha Jl Meranti, GBKP Jl Melayu dan GKPS Jl. Arjuna. Puncak acara dilaksanakan pada hari Minggu, (25/11).
Menyangkut pelaksanaan kegiatan anak sekolah minggu ini, Ferri Pardede mengharapkan dukungan semua orang tua termasuk gereja agar mendorong anak-anaknya mengikuti kegiatan ini. “Ini kegiatan positif untuk mengembangkan kreasi anak-anak Tuhan dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak,” kata Pardede.
Acara pembukaan berlangsung meriah di Gereja Gekari Maranatha Jalan Meranti Pekanbaru dihadiri seribun orang termasuk guru sekolah minggu dan orang tua. Keceriaan anak-anak tampak penuh suka cita sejak sebelum acara pembukaan secara resmi dimulai sampai penutupan dengan doa.
Bulan Oikumene Anak Sekolah Minggu ini dibuka resmi oleh Ketua PGI Wilayah Riau Pdt P Purba MA yang juga pendeta GKPI Pekanbaru yang ditandai dengan pelepasan dua ekor burung merpati. Suasana riuh penuh kegembiraan tampak dari raut wajah seluruh anak-anak.
Dipandu para guru sekolah minggu, seluruh anak yang duduk dengan rapi di lantai gereja bernyanyi ceria penuh suka cita. Sesekali mereka berdiri sesuai perintah guru.
Pdt Ineke Magdalena
Pdt Ineke Magdalena yang tampil sebagai pengkotbah menambah suasana penuh kesukaan. Diawal kotbahnya, dia mengajak seluruh anak sekolah minggu untuk memahami sebuah pengertian kata “berharga”. Untuk lebih memahami arti kata tersebut, dia bertanya kepada anak-anak barang apa yang sangat berharga dalam hidup ini. Ada yang menjawab uang, emas, mobil mewah, berlian, rumah mewah dan lain-lain. Dia menganjurkan agar semua barang berharga itu disimpan dan diurus baik-baik.
Barang berharga yang disebutkan diatas, menurut Ineke adalah barang berharga bagi manusia. Sementara barang berharga bagi Tuhan adalah adek-adek sekolah minggu. Tuhan, kalau memilih, Dia akan memilih adek-adek daripada Yesus.
Ini sudah dibuktikan Tuhan. Dia mengorbankan Yesus hanya untuk menebus adek-adek dan seluruh umat di dunia dari dosa. Yesus disiksa, dipukuli dan disalibkan demi adek-adek. Karena itu, Ineke mengajak semua anak sekolah minggu untuk mengucapkan kalimat singkat “Hidupku Berharga Bagi Allah”. Semuanya mengucapkan sambil membuat sebuah gerakan indah. “Inilah yang menjadi tema kita pada Bulan Oikumene Anak Sekolah Minggu tahun ini yang diambil dari Yesaya 43 ayat 4A” kata Ineke.
Pdt Ineke Magadalena berdarah Ambon ini, adalah koordinator Sekolah Minggu di Gereja Gekari Maranatha. Dia sendiri sudah terbiasa berhadapan dengan ratusan bahkan ribuan anak sekolah minggu. Nampaknya dia sudah memiliki ilmu tersendiri untuk memberi pendidikan dan pengajaan kepada anak sekolah minggu.
“Kami sering membuat Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) khusus bagi anak-anak jemaat Gekari yang tersebar di Pekanbaru diantaranya di Palas, Sigunggung, Pasir Putih, Sidomulyo dan Garuda Sakti. Bila semuanya anak sekolah minggu berkumpul dan KKR bisa berjumlah 500 orang,” katanya menjelaskan.
Dia berpesan kepada seluruh gereja dan orang tua supaya terus mengembangkan bakar dan minat anak usia sekolah minggu. Hidup mereka jangan disiasiakan karena mereka sangat spsial bagi Tuhan. Cara memimpin anak-anak harus hati-hati sejak dini.
Dia mengajak seluruh orang tua agar sejak dini menyuruh anaknya setiap hari minggu ke gereja untuk mengikuti kebaktian sekolah minggu. Selain itu, dia juga berharap kepada gereja agar tetap memperhatikan anak sekolah minggu termasuk guru-gurunya.
Menyangkut kurangnya guru agama Kristen di sekolah negeri dan swasta, khususnya sekolah dasar, dia mengatakan sudah sepatutnya hal ini dipikirkan oleh semua pihak termasuk gereja. Jangan hanya memikirkan pendidikan anak di bidang Matematika dan Bahasa Inggris misalnya, sementara pendidikan rohani dinomorduakan. Kalau mental rohani anak-anak dimbina dengan baik, otomatis si anak akan pintar dalam mata pelajaran lainnya. Karena itu, bagi saya, pendidikan rohani harus lebih diutamakan.
Sesuai dengan data yang dicatat Horas dari panitia, Gereja yang mengirimkan anak sekolah minggu mengikuti BOAS tahun ini sebanyak 20 diantaranya GBI Nangka, Pouckh Narwastu, GKPA Durian, Pouckh RAPP, GKPI Estimasi, GKPS Pekanbaru, Pouckh Sei Galuh, GPIB Gideon, GMII Nehemia, GKPI Senantiasa, GIA, GMI Sion, HLI Agape, GBKP, HKI Resor Pekanbaru, GKPI Palapa. Sementara gereja terbesar bernama HKBP tidak terlihat. *)

TOLU GABE SADA

TAHUN I | edisi 03 | 05 - 18 Nov 2012

Sinurat ni Amanta : Arip Rimpuan Sianturi, Wartawan Tabloid Horas
Sungkun-sungkun do ra rohanta, aha do lapatan ni hata “Tolu Gabe Sada”. Molo tatilik sian haugamoon, dohononta ma ra “Tri Tunggal”. Molo tabereng sian adat habatahon, tadok ma ra “Dalihan Na Tolu”.
Ndang apala i lapatan ni pandohan on, alai molo tapadomu-domu, boi do i gabe sarupa lapatan na.
Di huta Muara Fajar Rumbai, adong tolu punguan parsahutaon ni hakak hita. Naparjolo digoari ma i Punguan Parsahutaon Dos Roha, napaduahon Punguan Parsahutaon Harapan Maju, jala patoluhon ima Punguan Parsahutaon Sauduran.
Najolo, ditingki otik dope halak hita di luat Muara Fajar, holan sada do Punguan Parsahutaon. Alai di tingki na parpudi on, ala nunga lam bahat halak hita marroan tu luat on, gabe dibagi tolu punguan parsahutaon. Godang ni anggota na tolu parsahutaon on hurang lobi 300 kepala keluarga.
Alai nang pe tolu parsahutaon, di angka ulaon siganup ari isarana pamuli boru manang pangolihon anak dohot diulaon habot ni roha, tetap do sada jala sada nasida mangadopi.
Boi dohonon, nang pe naung gabe tolu parsahutaon nasida, tetap do nasida sisada boru sisada anak, sisada ulaon di las ni roha dohot ulaon habot ni roha. Boi dohonan ma nasida “Sada Gabe Tolu, Tolu Gabe Sada”.
Hasadaon ni halak hita na adong di Muara Fajar, boi do on gabe sada tiruan di angka halak hita na adong diluat parserahan on.
Molo adong sada ulaon di parsahutaon na sada, isarana pangoli anak, diontang do parsahutaon na dua nari. Jala maracara do nasida disi jala sude panumpahi. Suang songon i na pamuli boru, sude do mangulosi. Jala adong do panggoraon disi.
Suang songon i do nang diulaon habot ni roha. totop do tarida parsahutaon na tolu i.
Ulaon hasadaon on tarida maon di halak batak toba. Harana punguan ni donganta halak Nias adong do tersendiri, suang songon i donganta na sian Selatan dohot Tanah Karo. Ipe mardalan do dohot denggan.
Nang pe pada umumna karejo ni halak hita Marpinahan diluat on, alai parsaoranna tu dongan suku na asing tung mansai denggan do.
Ndang apala haru adong parbada-badaan dohot pargunturon di luat on sahat ro di sadari on.
Torop do nang gareja jonjong di huta on, alai ndang adong na manggunturi. Sai anggiat ma hasadaon on lam tu dengganna tujoloan on. Horas ma. *)

Sabtu, 22 Desember 2012

Marlas Hutasoit SH Anak Petani dari Lumban Pea Jadi Pengacara

TAHUN I | edisi 02 | 21 OKT - 03 Nov 2012

Menjadi seorang penegak hukum memang gampang. Namun, untuk menegakkan hukum itu adalah hal yang sulit.
Demikian awal pembicaraan Wartawan Horas dengan tokoh sentral kita bernama: Marlas Hutasoit SH, Selasa, (9/10) di rumahnya Rt 05 Rw 03 Kompleks Perumahan Duta Mas Desa Tanah Merah Kecamatan Siak Hulu.
Pria kelahiran tahun 1979 di Desa Lumban Pea Siborong-borong Tapanuli Utara ini menuturkan kisahnya hingga ia boleh dikatakan sudah merambah ke berbagai Negara dunia mempelajari tentang hukum. Padahal suami wanita cantik bernama Anita Carolina Megawati Siahaan ini, adalah lulusan dari Universitas Tanjungpura Kalimatan barat.
Berbicara mengenai hukum Internasional, pria yang dilahirkan  oleh Ibunya boru Nababan ini tidak jauh bedanya bagai minum air kelapa muda. Apalagi mengenai hukum lokal, bisa-bisa. pendengar akan terbuai sebab untaian bahasanya mudah dimengerti oleh setiap orang.
Marlas begitu panggilan akrabnya, memilki gaya hidup sederhana sesuai dengan anjuran abang dari ayahnya kandungnya sebagai orang yang menciptakannya menjadi orang yang berdisipilin. Dia diajarkan agar menghargai arti sebuah kejujuran serta menjung-jung tinggi norma-norma budaya dan etika. Justuru itulah pria batak toba yang satu ini disayangi bahkan disegani pada setiap pertemuan dan berbagai perkumpulan.
Setelah tamat dari sekolah dasar Negeri Hutasoit Pardomuan Siborong-borong I.
Tahun 1993 Marlas remaja langsung diboyong keluarga ayahnya  ke Kalimantan Barat. Di tanah kerajaan Mulawarman itu ia dibina dan digembleng paktuanya melalui suntikan motivasi hingga menciptakan Marlas tidak mengenal lelah untuk belajar.
Enam tahun tidak terasa menduduki bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di SMA III Negeri Singkawang, menempa Marlas menjadi pemuda tangguh tidak kenal lelah menyerah dalam setiap masalah.   
Tanpa mengalami aral melintang, tahun 1999 ia langsung masuk ke perguruan tinggi Universitas Negeri Tanjungpura. Sesuai dengan krakter yang dimilikinya yang tidak suka mendengar pembicaraan berbelit-belit, jurusan yang dia pilih selama kuliah adalah bidang hukum. Memang, bak pepatah mengatakan, kemanapun mutiara dicampakkan jika memang mutiara pasti akan tetap bersinar.
Tiga tahun dua bulan duduk dibangku kuliah bidang study hukum, bulan November 2002 sudah menjalani meja hijau tepat bulan November 2002 sebagai pertanda seluruh SKS telah usai. Setelah menyendang gelar Sarjana hukum pada bulan April 2003, Marlas Hutasoit SH, langsung hijrah ke kota Jakarta.
Disanalah ia mengeluti profesi sebagai Ketua di sebuah LSM (lembaga swadaya masyarakat) berlabel “LSM PMK HKBP”. Melalui kecerdasan serta kebolehannya dalam bahasa hukum, hingga dia sering terpanggil sebagai Narasumber di beberapa TV Swasta di Jakarta.
Atas dasar kesekat-an dan kepiawaiannya itulah, hingga sebuah LSM asing rela mengutus Marlas Hutasoit SH agar melanjutkan kuliahnya ke Negara bekas kekuasaan Ferdinand Marcos yaitu di kota Manila. Tidak berapa lama mengikuti kuliah di sana, ia menjadi mahasiswa teladan di Universitas ASI (Asean Sosial Instituti ) bidang ilmu masyarakat dan komunitas diasuh oleh Dr Mina M Ramirez.
Seiring dengan perkembangan jaman untuk memaksa dan menuntut profesionalisme yang diembannya seakan ingin berontak untuk membebaskan kaum lemah dari keganasan hukum. Namanya bagai minum air laut semakin diminum semakin haus, walaupun sudah mengantongi surat berharga bidang masyarakat dan komunitas dari Universitas ternama di Manila,  kuasa hukum yang pernah berkantor di Jl Pandu Kelurahan Simpang Tiga Bukit Raya ini, tidak sampai hitungan tahun, berangkat untuk menyandingkan gelar yang di sandangnya, ke Negeri Ginseng Korea Selatan sebagai  tujuan utamanya.
Disana pria pemilik tinggi badan 163 Cm ini, langsung mengikuti mata kuliah di Universitas Seuol National bidang study Perburuhan. Adapun dia memilih Negara Korea sebagai tempatnya menimba ilmu perburuhan, dikarenakan Negara Korea sudah diakui dunia International sebagai tolak ukur dunia bidang perburuhan. 
Tekad untuk memburu ilmu belum usai,  setelah kembali ke Indonesia dari Korea, pria yang menikahi gadis Srikandi Universitas Soedirman kota Solo ini langsung berangkat lagi ke New Zeland Selandia baru. Disana ia langsung memborong berbagai ilmu di sebuah Universitas beken bernama Universitas New South Wales Universiti dibidasni oleh Prof David  Dixon.  Untuk mensejajarkan ilmu yang dimilikinya, di New Zeland Marlas mempelajari tentang masalah hak azasi manusia (HAM). Menurutnya, semuanya itu ia lakukan, bukan untuk mencari pamor maupun gelar kesarjanaan produksi luar negeri. Tetapi, terus terang dalam pengakuannya hanya berkeinginan kiranya dapat menjadi  garam dan terang dunia di mata hukum.
Memang harus kita akui bahwa anak ketiga dari enam bersaudara ini memiliki Intelegensi bagus serta IQ brilian. Buktinya, untuk meraih gelar sarjana hukum anak dari Ompu Sari Jaya Hutasoit ini hanya butuh waktu 164 minggu dengan nilai Indeks Prestasi (IP) 3,58 sangat memuaskan dan mendapat nilai pujian Cum Laud.
Ditengah pembicaraannya, Marlas Hutasoit SH memiliki Motto hidup, “dalam kehidupan perlu mendapat tantangan. Hanya melalui tantangan itulah kita akan teruji di bidang segala hal,” ungkapnya sembari minum teh kopi kesukaannya.
Artinya, jelas kita ketahui bahwa LSM PMK HKBP yang diasuhnya  bukanlah LSM “abal-abal” alias LSM emplop. Buktinya, LSM yang ditanganinya itu adalah mitra kerja berbagai LSM seperti, ICW, Kontras dan lain sebagainya.
Menjadi Ketua LSM adalah kesukaan awalnya, karena dia dapat mengkritisi hal-hal yang sudah merugikan hak orang lain tanpa mengindahkan hukum yang berlaku..
Kenangan paling sulit untuk dilupakan penggemar mobil tahun lama ini adalah, masih usia 30 Tahun Marlas langsung dilantiknya menjadi Ketua LBH (Lembaga Bantuan Hukum) di Jakarta. Yang paling mengejutkannya adalah, September 2008 - 2009 dia dinobatkan menjadi Direktur Advokad hukum se Kabupaten Simalungun di Pamatang Siantar. Jelas kita ketahui, dengan sudah sejuta jabatan bahkan ratusan prestasi yang sudah berada digemgamannya, mengarahkanya bagaikan “padi” yang semakin berisi semakin merunduk.
Kesederhanaannya itulah membuat orang memandangnya semakin kagum dan terpesona. Ditambah gaya bahasa yang jelas serta tutur kata yang indah membuat  bibir manis yang dimilikinya itu dapat menciptakan kepuasan tersendiri bagi orang lain saat ia berbicara.  Memang; jika dilihat dari ketegaran serta adidayanya dikala mengolah kata-kata yang dieksprisikannya melalui sentuhan–sentuhan nurani, membuat orang yang mendengarnya di setiap persidangan menjadi luluh dan terkesima.
Untuk lebih mengenalnya inilah  hasil wawancara Tabloid HORAS dengan Marlas Hutasoit SH.
Sebenarnya, apa yang mendorong Anda memilih profesi sebagai Pengacara.
Jelas saya akui, semenjak anak-anak, saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang Pengacara. Tetapi, melihat cara “amangtua” saya yang ada di Kalimantan menjadikan saya tertarik mempelajari arti sebuah kejujuran.
Tadi Anda mengatakan tentang kejujuran. Kejujuran apa yang tidak dimiliki bangsa ini.
Dalam arti harfiah, sebagian anak bangsa kita masih sulit untuk mengucapkan  kesalahannya sendiri. Jika  bangsa ini sudah sulit mengatakan yang benar, pada akhirnya hukum laut pasti yang berbicara. Justru itulah kita jadi terpanggil agar kebenaran itu selalu kita utamakan sedapat mungkin. Dan itulah misi saya paling utama
Memang kebenaran itu harus kita utamakan. Tetapi, jangan-jangan Anda sendiri “maju tak gentar, memenangkan yang bayar”.
Memang hal itu tidak bisa kita pungkiri. Tetapi, tidaklah semua pengacara yang sedemikian. Harus melihat orangnya. Artinya, masih banyak teman-teman Pengacara yang tidak mau menggadaikan moral dan imannya hanya karena kebahagiaan sesaat. Termasuk saya sendirilah orangnya yang tidak dapat dibeli bagai jualan sayur.
Berbicara mengenai profesi. Anda mengatakan adalah anak seorang petani. Jika mau jujur, darimana dana yang Anda peroleh saat kuliah di Luar negeri.
Semuanya itu adalah rencana Tuhan. Walaupun anak seorang petani tidak dilarang menjadi Pengacara hingga mendapat Beasiswa. Dan itu saya dapat adalah melalui kerja keras serta kompetisi melalui sleksi oleh beberapa LSM asing di Jakarta yaitu LSM BspW (Broth Sor Phe Well). Justru itulah saya lebih terpanggil untuk membela kebenaran karena orang lain sudah menilai saya melalui kebenaran.
Berbicara mengenai kebenaran! Saat seorang pengacara mengikuti persidangan dipengadilan, berapa persen kebenaran itu dijalankannya.
Jika kita mau jujur, profesi sebagai pengacara adalah profesi yang mulia. Jikalaulah ada diantara teman-teman kita seperti yang Anda duga, itu adalah oknumnya. Jika kita sudah berbicara oknum, maunya jangan kita kaitkan nama lembaganya. Siapapun dia jika sudah menjadi kuasa hukum, tidaklah langsung menerima kuasa sebelum kasusnya dipelajari. Setelah kasus tersebut dipelajari, baru ada jawaban bisa  atau tidak untuk dibela. Namanya membela, jika memang si tersangka di pihak yang benar sesuai dengan fakta, bukan tidak mungkin akan lepas dari segala tuduhan. Jika si klien memang benar-benar bersalah, tidaklah mungkin dapat bebas dari hukum. Cuma hukum itulah yang dapat meringankan hukumannya.
Semenjak Anda menggeluti sebagai pengacara, sudah berapa perkara yang sangat pelik bisa Anda bela.
Waduh ! jika dihitung perkara sangat pelik dan sudah kita bantu saya rasa tidak terhitung lagi.  Apalagi saat saya di Pematang Siantar Sumatra Utara. Karena kita masih tergolong baru di Riau ini, baru di atas Duapuluhan perkara yang sangat pelik yangsudah  kita tangani. Klo perkara biasa, wah sdah tergolong banyak. Dan boleh dikatakan, belum pernah kita mengalami kesulitan yang berarti  dalam penyelesaianya.
Memang pengakuan ayah seorang anak laki-laki bernama Utrecht Hutasoit ini adalah benar. Menurut pengamatan Tabloid HORAS di beberapa Pengadilan di Riau. Atas kearifan dan ketelitiannya menjadi kuasa hukum dalam suatu perkara, mengantarkan kliennya merasa puas.  Tetapi, bak pepatah mengatakan,” sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan pernah jatuh ketanah”. Artinya, sepandai-pandai Marlas Hutasoit,SH membela kliennya, pasti pernah ditipu oleh klien-nya sendiri.
Memang Marlas bukanlah tipe orang yang mau keluyuran disembarangan tempat. Tetapi, sangat pandai beradaptasi kepada sekelilingnya tanpa memandang bulu sikaya maupun si miskin. Soalnya, jika sudah berbicara dengan dia kita pasti tidak menyangka bahwa dia adalah dedengkotnya hukum. Apalagi jika melihat keceriaan wajahnya dikala melemparkan senyum khasnya itu, Marlas Hutasoit SH, boleh dibilang bagaikan  Rhajes Khanaa bintang flim India tahun 70 an yang tidak mau membedakan kasta dan tidak mau  protokoler
Putra keturunan dari marga Hutasoit (Borsak Bimbinan) ini telah mempersunting wanita idamannya bernama Anita Carolina Megawati Siahaan,  7 Agustus 2009
Dari hasil pernikahannya, mereka sudah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Utrecht Hutasoit. Nama ini diambil dari nama  ahli hukum paling terkenal di Amerika Serikat.
Sebagai wanita karier, sebelum berangkat ke kantor kerjanya sang istri tercinta sudah barang pasti mengingatkan sang suami agar tidak melupakan kuasa Tuhan.  Boleh kita lihat sendiri setiap hari Minggu mereka pasti akan menunaikan kewajibannya ke gereja HKBP Trinititas Pasir Putih. Menurut mereka, selaku manusia, jika masih ada waktu, maunya jangan melupakan “Alva Omega”. *m sihotang