Daftar Blog Saya

Rabu, 09 Januari 2013

Open House Menyambut Tahun Baru 2013 Ribuan Sahabat Banjiri Rumah RE Nainggolan

TAHUN II | edisi 07 | 09 - 22 Jan 2013

Horas, Medan
Kediaman Rustam Effendy (RE) Nainggolan yang terletak di Jalan Beringin VII nomor 62, Gaperta, Helvetia, Medan, sejak pukul 10.00 Wib Jumat, (4/1) sudah didatangi “sahabat-sahabat”nya yang ingin menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru 2013.
Acara Open House menyambut tahun baru 2013 itu berlangsung hingga pukul 16.00 Wib. Tim redaksi Tabloid Horas yang sengaja datang dari Pekanbaru menghadiri perhelatan Calon Wakil Gubernur Sumut yang diusung Partai Demokrat itu melihat sebuah suasana akrab antara RE Nainggolan serta istri dengan setiap tamu yang hadir.
RE Nainggolan tak sempat duduk. Setiap tamu yang hadir selalu disambut dengan salaman sambil melemparkan senyum khasnya. Dia pun berbaur dengan para sahabatnya.
Terima kasih atas kehadirannya, katanya kepada tim redaksi Tabloid Horas ketika menyalaminya sambil mengucapkan selamat tahun baru. Tim Horas pun dipersilahkan menyantap makanan yang telah disediakan dalam berbagai jenis makanan dalam bentuk prasmanan.
Tim Tabloid Horas yang datang dari Pekanbaru menghadiri undangan RE Nainggolan diantaranya Jhoni Banjarnahor (Pemimpin Umum), Drs PH Sitompul (Pemred), Hendrikson Tampubolon (Kepala Biro Kabupaten Bengkalis) dan Daniel (staf redaksi).
Setiap acara open house, biasanya, tuan rumah duduk santai dan tamu yang datang menyalaminya. Kali ini berbeda. RE Nainggolan dan istri jalan kesana kemari menghampiri tamu sambil mempersilahkan tamu mencicipi hidangan. Setiap tamu yang hendak pulang dia salami dan dihantar sampai ke pintu halaman. Di halaman rumah sampai ke badan jalan dipasang tenda ukuran besar serta kursi tempat duduk para tamu. 
Undangan yang datang selain para sahabat, terlihat juga ibu-ibu dari pasar, ibu-ibu tuna netra, pengurus marga dari seluruh sub etnis batak (toba, karo, mandailing, simalungun dan pakpak dairi).
Walikota Medan R Rahutman, Wakil Walikota Medan Drs H Dzulmi Eldin dan Sekretaris Kota Medan Syaiful Bahri serta rombongan Pemko Medan turut hadir dalam acara silaturahmi tersebut. Setelah menikmati hidangan di meja yang telah disediakan, walikota diundang menyanyikan lagu untuk menghibur hadirin.
Rahutman mengundang wakilnya Dzulmi Eldin dan sekretaris kota Syaiful Bahri untuk bernyanyi trio. Dua buah lagu batak  dinyanyikan secara Trio yaitu “Siantar Medan” dan “Anak Medan”. Hadirin yang menyaksikan kebolehan Trio Walikota itu menyambutnya dengan tepuk tangan riuh.
Tanggapan atas pencalonan RE Nainggolan
Beberapa orang yang sempat diajak Tabloid Horas berbicara tentang pencalonan RE Nainggolan secara umum mengatakan bahwa pemimpin Sumatera Utara sudah saatnya seperti RE Nainggolan.
“Pak RE itu Jokowinya Sumatera Utara,” kata Pak Sihombing memberi penilaian. “Alasan saya mengatakan itu, jelas terlihat bahwa Pak RE itu dekat dengan masyarakat. Dia suka terjun ke tengah masyarakat melihat secara langsung apa keluhan masyarakat”.
Selain itu, katanya, penampilan pak RE juga sangat sederhana dan selalu melemparkan senyum persahabatan kepada siapa saja yang dia temui. Ditambahkan, pak RE itu tidak calon dadakan dan tidak calon karbitan. Dia betul-betul seorang tokoh yang sudah sangat dikenal di Sumatera Utara. Pengalamannya di bidang pemerintahan tidak diragukan lagu. Dia kenal betul dengan letak gegrafis Sumatera Utara, tahu persis dengan adat dan budaya yang heterogen itu dan tahu betul apa keinginan masyarakat. Pokoknya pak RE Nainggolan tidak perlu diragukan lagi, sebut Sihombing.
Sementara itu, Marpaung, mengatakan semangat masyarakat Sumatera Utara tidak pernah surut memberi dukungan kepada RE Nainggolan walau kini ditetapkan sebagai calon wakil gubernur. Sebelum mendapat perahu, RE Nainggolan sudah mendapat dukungan penuh dari masyarakat menjadi calon gubenur. “Walau hanya wakil, kami tetap bersemangat dan berjibaku untuk memenangkan pasangan Amri dan RE,” kata Marpaung.
Marpaung mengatakan pasangan Amri dan RE dalam penyampaian visi dan visinya membangun Provinsi Sumatera Utara harus lebih menajaman programnya terhadap pemberantasan Korupsi, Nepotisme dan Transparansi.
Sebuah pemerintahan baru pasca pemilukada biasanya yang diperkuat pejabat baru (gubernur atau bupati) adalah korupsi. Ini salah satu cara mengembalikan biaya yang telah dihabiskan saat suksesi. Kemudian, menyusun para pejabat pemerintahan baik yang menduduki badan, lembaga dan dinas dari kalangan keluarganya sendiri. Tidak sedikit pejabat yang menduduki jabatannya tidak sesuai dengan ilmunya. Dudukkanlah seorang pejabat sesuai dengan ilmu dan keahliannya.
Transparansi kepemimpinan sangat dibutuhkan. Biasanya, pejabat tidak transparan dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan. Hal itu sengaja diciptakan untuk menutupi korupsi dan nepotisme. Sekarang ini jamannya transparansi, kata Marpaung.
Menurut Marpaung, persoalan korupsi ditangani oleh aparat penegak hukum seperti KPK, Polisi dan Jaksa. Tapi, kalau gubernurnya tegas dalam melaksanakan tugasnya dan tetap komit, korupsi di di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara paling tidak bisa dikurangi. Gubernur DKI Jakarta Jokowi misalnya, dalam kampanyenya dia mengatakan komit terhadap pemberantasan korupsi. Setelah terpilih dia langsung menemui ketua KPK untuk menandatangani sebuah memorandum of understanding terhadap pemberantasan korupsi di lingkungan Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta.
Banyak orang menyebut RE Nainggolan sebagai Jokowinya Sumatera Utara. Itu saya setuju. Gaya pak RE memang ada miripnya dengan Jokowi dan hal itu sudah terkihat selama ini. Tapi jangan terlena, pak RE harus lebih membuktikannya lagi sejak sekarang hingga pemilihan Maret mendatang, kata Marpaung. *)

Silaturahmi Biro Suara Kita dengan Wartawan Mandau dan Pinggir

Foto wartawan yang bertugas di Duri
TAHUN II | edisi 07 | 09 - 22 Jan 2013

Horas, Duri
Persatuan dan Kesatuan wartawan dan insan pers di Kecamatan Mandau dan Pinggir akhir-akhir ini terlihat semakin kompak.
Diperkirakan ada seratusan lebih wartawan yang bertugas di kedua kecamatan ini dari berbagai media cetak dan media online terbitan Riau dan luar Riau.
Ini sebagai pertanda bahwa Kecamatan Mandau dan Pinggir sudah semakin maju dan berkembang. Sebab, perkembangan sebuah kota selalu diikuti dengan perkembangan dunia pers.
Insan Pers yang ada, tentunya mendukung sepenuhnya program pemerintah untuk membangun daerah ini. Termasuk mendukung terbentuknya Kabupaten Mandau yang sudah lama diimpikan oleh seluruh masyarakat. Selamat bertugas kepada seluruh wartawan dan insan pers yang ada di kecamatan Mandau dan Pinggir. Jadilah pers yang bebas dan bertanggunjawab.Horas, Duri
Sekitar seratusan wartawan harian dan mingguan yang berada di kecamatan Mandau dan Pinggir menghadiri silaturrahmi yang diadakan Surat Kabar Suara Kita bertempat di Cafe Cangkir Malahayati Duri, Minggu (22/12).
Acara silaturrahmi itu juga dihadiri oleh 43 kepala biro dari berbagai media yang berada di Mandau dan Pinggir, beberapa ketua LSM dan tokoh masyarakat yang ada di Mandau. Acara itu selain silaurrahmi juga bersempena dengan hadirnya Koran Suara Kita di wilayah Kabupaten Bengkalis dan sekaligus sebagai acara tutup dan sambut tahun.
Acara silaturrahmi  yang berlangsung dengan sederhana namun keakraban sesama wartawan terasa sangat meriah. Acara itu juga menghadirkan hiburan dengan Orgen tunggal, yang berlangsung sampai tengah malam.
Agen Simbolon seorang tokoh Buruh Nasional yang berdomisili di Duri menyambut positif acara silaturrahmi Insan pers yang disponsori oleh Koran Suara Kita, “Apa yang dilakukan oleh Kabiro Suara Kita, merupakan salah satu kegiatan yang sangat luar biasa yang belum pernah dilakukan wartawan manapun hal sebagai motivasi wartawan lain untuk bisa lebih kreatif dapat melakukan bentuk-bentuk sosial dikalangan masyarakat agar  kalangan pers nantinya jadi panutan di Kabupaten Bengkalis khususnya di Kecamatan Mandau”, kata Agen antusias.
Sementara Hendrikson Tampubolon, SH. sebagai Kabiro Tabloid Horas mengatakan dengan hadirnya media Suara Kita di kabupaten Bengkalis, Kec Mandau mari kita sambut baik demi untuk meningkatkan nilai-nilai hak azasi manusia terutama masyarakat kecil, yang kurang mengerti tentang kehidupan masa sekarang.  Tidak lupa saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Media Suara Kita  yang telah membuat acara  syukuran dan silaturrahmi dalam acara ini, yang telah mengundang beberapa media pers untuk mempersatukan dengan tujuan terbitnya atau terwujud rasa persatuan dan kesatuan dikeluarga pers yang berada di kabupaten Bengkalis dan kec Mandau dan Pinggir, maka dengan terujudnya acara ini semoga kita mempunyai misi dan visi yang satu tujuan serta tidak mencari suatu permasalahan yang dapat memisahkan kita di keluarga media pers, seperti kata pepatah, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”. Kata hendrikson  Tampubolon
Kepala Biro Bengkalis Koran Suara Kita Herlinda Wati mengatakan,”Acara silaturrahmi ini sengaja diadakan, dengan tujuan kedepannya Insan Pers yang ada di Mandau dan Pinggir supaya tetap terjalin hungan silaturrahmi dengan tetap menjalankan tugasnya dibidang jurnalistik dengan memberikan pembelajaran kepada masyarakat khusus pihak pemerintahan untuk bisa bekerja sama dalam pembangunan diwilayah Kabupaten Bengkalis khusus di Kecamatan Mandau dan Pinggir”. Ujar Herlinda Wati berharap.
(hendrikson tampubolon SH).

Pendapat Andus Hutasoit Tentang Dualisme IKBR

Andus Hutasoit dan Yonesri Situmeang
TAHUN II | edisi 07 | 09 - 22 Jan 2013
Horas, Pekanbaru
Sinyal akan terjadinya gelombang perpecahan yang cukup besar di tengah masyarakat batak yang ada di Provinsi Riau  akan terjadi. Ini berawal dari adanya dualisme kepemimpinan Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR) Provinsi Riau.
IKBR yang satu adalah kubu  Tumpal Hutabarat yang terpilih sebagai Ketua Umum pada Mubes yang dibentuk Viator Butarbutar Ketua IKBR periode 2007-2011. Sementara IKBR yang satu lagi adalah kubu Cornelius Barus yang terpilih sebagai ketua umum IKBR hasil Mubeslub IKBR yang diselenggarakan lima sub etnis batak ditambah IKBR kabupaten/kota.
Untuk menanggapi persoalan ini, seorang tokoh masyarakat batak Pekanbaru memberi komentar sekaligus pandangan dan himbauannya.
Andus Hutasoit alias Lompat termasuk salah seorang tokoh batak dan penggerak terbentuknya Ikatan Keluarga Batak di Kota Pekanbaru, sekarang dia masih memangku jabatan Ketua IKBR Kecamatan Payung Sekaki Kota Pekanbaru.
Selama ini dia sangat peduli dengan keberadaan IKBR. Dia memberikan tenaga, waktu, pemikiran bahkan materi untuk mempertahankan nama IKBR.
Belakangan ini, kepercayaannya terhadap IKBR mulai luntur. Dia termasuk salah satu dari ratusan ribu warga Batak yang tinggal di Pekanbaru yang tidak setuju dengan adanya dualisme kepengurusan IKBR Provinsi Riau.
Sehubungan dengan terjadinya dualisme kepengurusan IKBR PRovinsi Riau akhir tahun 2012 lalu, Andus Hutasoit menyampaikan pandangan dan himbauan yang disampaikan kepada para penatua batak dan pengurus Punguan Parsahutaon/STM.
Berikut ini pandangan Andus Hutaoit terhadap dualisme kepengurusan IKBR Provinsi Riau yang disampaikan kepada penatua dan pengurus punguan Parsahutaon yang ada di Kota Pekanbaru.
Setelah melihat dan mengamati dinamika yang terjadi di organisasi Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR) yang merupakan satu-satunya organisasi paguyuban terbesar yang berkedudukan di Provinsi Riau, dimana terjadinya dualisme kepemimpinan yang masing-masing mengklaim kebenarannya dengan mengatakan keabsahannya sesuai aturan masing-masing yang dipandang benar, Andus Hutasoit dan masyarakat batak secara keseluruhan menjadi bingung. Masyarakat bertanya-tanya, siapa sebenarnya pemimpin IKBR yang absah.
Berangkat dari kebingunan itu, Andus melihat adanya indikasi perpecahan dan bahkan sudah terjadi perpecahan yaitu adanya dua kubu. Masing-masing kubu membentuk kepengurusannya (Pengurus Pusat IKBR) dan melakukan konsolidasi ke kabupaten/kota untuk membentuk pengurus daerah IKBR. Ini sebuah kejadian yang tidak baik dan tidak terpuji yang dilakukan oleh para orang tua yang dianggap sebagai tokoh batak di Provinsi Riau.
Andus Hutasoit memprediksi akan terjadi gelombang perpecahan yang semakin besar bagi suku batak hingga ke daerah. Masing-masing kubu membangun kekuatan dan kekuasaan. Kedua kubu ini terlihat ada maksud akan memecahbelah kekuatan batak yang telah terbangun baik selama ini.
 Menurutnya, nenek moyang batak (Ompunta sijolo-jolo tubu) tidak pernah mewariskan adanya tindakan-tindakan yang berupaya menceraiberaikan kesatuan bangso batak. Seperti umpasa “Balintang ma pagabe tumundalhon sitadoan, arinta do gabe molo hita masipaolooloan”. “Ompu raja dijolo martungkothon sialagundi, angka nauli na tinonahonni angka ompunta siihuthonon ni hita na di pudi”.
Yang terjadi sekarang ini di tengah bangsa batak di Provinsi Riau sama sekali tidak mencerminkan roh kehidupan bangsa batak sesuai falsafah Batak.
Untuk itu,kata Andus Hutasoit, dengan cara apapun, kedua kubu ini diharapkan bersatu kembali. Masyarakat Batak yang ada di Provinsi Riau menginginkan IKBR menjadi satu kembali yang mampu mengayomi, memberikan contoh yang baik kepada masyarakat batak dan tidak terpecah untuk kepentingan kelompok tertentu.
Ini berarti, masyarakat batak peduli IKBR yang diprakarsai Andus Hutasoit mencoba sebagai penengah untuk mempersatukan kembali kedua kubu ini.
Namun, kata Andus, bila kedua kubu ini tidak mau rujuk (kubu Tumpal Hutabarat dan kubu Cornelius Barus), maka akan ditempuh jalan terakhir dengan membentuk kembali wadah Ikatan Keluarga Batak Pekanbaru Sekitarnya (IKBPS) khusus paguyuban batak yang tinggal di Pekanbaru.
Wadah IKBPS ini tidak masuk ke salah satu IKBR yang ada sekarang. Ini salah satu cara untuk menghindari perpecahan masyarakat batak yang ada di kota Pekanbaru.
Selaku pemrakarsa, Andus Hutasoit mengajak dan menghimbau seluruh masyakat batak melalui penatua dan pengurus parsahutaon untuk bersama-sama mendukung dan memberikan pandangan terbaiknya untuk kepentingan bersama.
Untuk mewujudkan pandangan ini, Andus Hutasoit selaku pemrakarsa mengundang para penatua dan pengurus punguan parsahutaon yang ada di kota Pekanbaru untuk mengadakan rapat pada hari Selasa, 8 Januari 2013 di Hotel Ibis Pekanbaru. *)

Tim Rekonsiliasi IKBR Terbentuk, Ketuanya Andus Hutasoit. Diberi Waktu Satu Minggu untuk Bersatu


Pimpinan Rapat : Andus Hutasoit, FK Saragih, N Purba, Yonesri Situmeang, Bintang Sianipar, Dapot Sinaga, Rustam Panjaitan, M Matondang

Andus Hutasoit

TAHUN II | edisi 07 | 09 - 22 Jan 2013
Horas, Pekanbaru
Masyarakat Batak yang ada di Kota Pekanbaru marah terhadap dualisme kepengurusan IKBR. Mereka akan memboikot seluruh kegiatan IKBR di Kota Pekanbaru sebelum kedua kubu bersatu.

Pertemuan Masyarakat Batak Peduli IKBR di Hotel Ibis, Selasa malam (8/1) yang diprakarsai Andus Hutasoit memanas. Ratusan Punguan Parsahutaon yang ada di Kota Pekanbaru yang diundang sebagai peserta pertemuan tersebut saling memberikan pendapatnya tentang dualisme kepemimpinan IKBR.

Pada umumnya, para pengurus parsahutaon tidak menginginkan adanya dua kepengurusan IKBR. Masyarakat Batak Pekanbaru memaksa kedua kubu untuk bersatu. Bila kedua kubu tidak mau bersatu, maka masyarakat batak Pekanbaru akan bertindak tegas dengan memboikot seluruh kegiatan kedua kubu IKBR di Kota Pekanbaru.

Pertemuan yang dipandu Yonesri Situmeang itu mengambil satu kesepakatan bersama yaitu dengan membentuk Tim Rekonsilisasi IKBR yang diketuai Andus Hutasoit. Seluruh peserta rapat yang terdiri dari ratusan Punguan Parsahutaon malam itu juga memberi mandat kepada tim rekonsilisasi untuk mengadakan pendekatan kepada kedua kubu IKBR yang masing-masing mengklaim dirinya yang benar.     
Kepada Tim Rekonsiliasi diberi tenggang waktu satu minggu untuk untuk mendamaikan kedua kubu yang bertikai.

Bila dalam waktu satu minggu tidak ada titik terang untuk bersatu, maka masyarakat batak Pekanbaru akan kembali menghidupkan Ikatan Keluarga Batak Pekanbaru Sekitarnya (IKBPS) yang berdiri tahun 2000 bersamaan dengan IKBR Provinsi Riau.

IKBPS inilah nantinya yang menjadi wadah paguyuban batak di Kota Pekanbaru dan seluruh warga batak Pekanbaru tidak mengakui IKBR. Dan, di Kota Pekanbaru tidak dibolehkan dibentuk IKBR. Yang menjadi anggota IKBPS adalah Punguan Parsahutaon.

Ketua Tim Rekonsilisasi IKBR yang mendapat mandat dari seluruh masyarakat batak Pekanbaru melalui Pengurus Punguan Parashutaon adalah Andus Hutasoit dengan anggotanya FK Saragih, N Purba, Bintang Sianipar, Yonesri Situmeang, Dapot Sinaga, Rustam Panjaitan dan M Matondang. (Para pimpinan rapat).
Pencerahan FK Saragih

Sebelum keputusan tersebut diketuk palu oleh pimpinan rapat, panatua FK Saragih memberikan pencerahan kepada peserta. Secara panjang lebar FK Saragih memaparkan bagaimana kehidupan berbangsa dan bernegara, secara khusus kehidupan masyarakat batak secara budaya dan agama.

Sesekali peserta tertawa terpingkal-pingkal mendengar ceramahnya yang disampaikan dengan gaya humoris. Dia juga menyinggung bahwa dalam satu tubuh tidak boleh dua kepala.
Pemaparan dari pimpinan rapat

Andus Hutasoit selaku pemrakarsa sekaligus pengundang mengatakan maksud dan tujuan dikumpulkannya para pengurus Punguan Parsahutaon adalah untuk menyatukan pikiran mencari jalan keluar menyatukan IKBR.

Sebenarnya, kata Andus, kedua kubu sudah dihimbau lewat media cetak supaya bersatu. Tidak ada tanggapan. Lalu disurati, itupun tidak dijawab. Kami sudah mengingatkan mereka akan bahaya yang muncul nantinya di tengah masyarakat bila masalah dualisme kepemimpinan IKBR ini tidak segera diatasi. Dia teringat dengan kemelut HKBP yang terjadi beberapa tahunsilam. Bahkan, kata Andus, saya sudah membuat ultimatum. Bila kedua kubu tidak mau bersatu, jangan disalahkan bila tokoh muda untuk berbuat dan mengambil tindakan.

Sebagai masyarakat yang peduli IKBR, kata Andus, kita harus mencegah agar kedua kubu jangan sampai membentuk pengurus IKBR di Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa. Bila ini terjadi, maka tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.

Tokoh muda dari sub etnis Simalungun N Purba mengharapkan dengan sangat agar hasadoan ni halak batak di Riau tetap terjada. Kedua belah pihak harus tetap kita rangkul untuk bersatu kembali.

Sementara Dapot Sinaga dengan semangat tinggi meminta agar malam itu juga dibentuk pengurus Ikatan Keluarga Batak Pekanbaru Sekitarnya (IKBPS). Biar nanti pengurus IKBPS ini yang mengadakan rekonsiliasi dengan kedua kubu. Bila sudah bersatu, kita tanggalkan IKBPS dan kembali ke IKBR. Namun, pendapat ini ditentang oleh peserta.
Patar Sitanggang

Patar Sitanggang sempat mempertanyakan keberadaan IKBR Kota Pekanbaru sekarang ini. “Dimana ketua IKBR Kota Pekanbaru kenapa tidak hadir dalam pertemuan ini, padahal kita membahas soal IKBR Pekanbaru,” katanya nada bertanya.

Usul konkrit dari Patar Sitanggang agar masyarakat batak peduli IKBR membentuk tim dan diberi mandat oleh seluruh Pengurus Parsahutaon yang hadir untuk mempersatukan kedua kubu. Sebelum bersatu, seluruh kegiatan kedua kubu dibekukan.

Kepada Horas Patar Sitanggang berkomentar, sebaiknya IKBR dibubarkan saja bila mereka tetap bercokol dengan pendiriannya tidak mau bersatu. Sebab, bila hal ini dibiarkan terus berlangsung, maka akan terjadi perang saudara sesama batak di Provinsi Riau ini. Cara membubarkan gampang,tinggal niat dari para pendiri IKBR.

Dalam pertemua itu juga muncul mendapat yang mensinyalir munculnya dualisme kepengurusan IKBR adalah untuk kepentingan Pemilukada Gubernur Riau. Kami rindu akan perbuatan nyata IKBR di tengah masyarakat selama ini. Kenapa musti IKBR terpecah belah sekarang ini, apakah hanya untuk kepentingan Pemilukada, kata JM Lumbanbatu bertanya.

Pak Mei Manalu sependapat dengan usul Dapot Sinaga agar segera dibentuk IKBPS dan dipilih pengurusnya. Sifatnya temporer dan bila nanti sudah berdamai, kita kembali ke IKBR, kata Manalu.

Tampubolon, seorang peserta yang duduk di barisan depan meminta kepada pimpinan rapat untuk menjelaskan apa latar belakang terjadinya dualisme kepengurusan IKBR. Kalau memang ada yang salah di dalam tubuh IKBR atau ada yang salah dalam menjalankan organisasi ini, mari kita perbaiki dan pecahkan bersama. Kita bentuk tim konsolidasi untuk memecahkan masalah tersebut.

Viator : Bersedia Bersatu
Mantan Ketua Umum IKBR Viator Butarbutar yang dihubungi Horas melalui telepon selularnya memberi tanggapan positif dengan adanya tim rekonsiliasi IKBR yang diprakarsai Andus Hutasoit. *)

Selasa, 25 Desember 2012

Batak itu Suku, bukan Agama

Pandangan : Zakaria Saragi, BA

TAHUN I | edisi 03 | 05 - 18 Nov 2012

Saya melihat ada sebagian orang salah menilai tentang orang Batak. Saya sebagai orang batak sangat bangga menyandang predikat orang batak.
Saya sering menegaskan kepada sesama yang bukan orang batak bahwa batak itu bukan agama dan batak itu adalah suku. Salah satu suku yang ada di Indonesia yang nenek moyangnya tinggal di Sumatera Utara.
Etnis batak di Sumatera Utara terbagi dalam lima sub etnis yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak Dairi dan Batak Mandailing. Kalau kita melihat batak itu dari sisi agama, batak itu tidak semuanya beragama Kristen. Tidak ada satu pun dari lima sub etnis batak yang semuanya satu agama. Paling tidak ada dua agama yang dianut etnis batak yaitu Kristen dan Islam.
Etnis batak, di seantreo dunia sudah dikenal. Baik dari sisi budaya dan adat istiadat yang unik, bahasa dan aksara. Di Indonesia, paling tidak ada dua suku besar yang memiliki aksara yaitu Jawa dan Batak.
Banyak orang dari etnis lain di Indonesia dinobatkan menjadi orang batak, misalnya dengan menambahkan marga di belakang namanya. Dan untuk mendapatkan ini tidak bisa sembarangan. Harus melalui sebuah proses adat. Tidak bisa sembarangan mengaku begitu saja bahwa dia punya marga.
Tapi sebaliknya, banyak orang batak tidak lagi mengaku dirinya sebagai orang batak. Saya tidak tahu apakah mereka itu malu sebagai orang batak atau menyesal dilahirkan sebagai orang batak.
Hal ini sering saya alami di tengah masyarakat. Dari namanya, bahasanya dan penampilannya saya pastikan dia bukan orang batak. Tapi setelah berkenalan lebih jauh ternyata dia adalah asli batak.
Sering saya tanyakan apa alasannya tidak lagi memakai identisasnya (marga) banyak diantara mereka yang mengatakan “untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di tanah rantau ini”. Ada juga diantara mereka yang memberi jawaban “malu menyandang gelar batak”.
Soal agama, bagi etnis batak tidak ada masalah. Sebagai contoh, anak pendeta sekalipun bila telah mencintai seseorang yang tidak seagama dengan dia, dia rela pindah agama. Pada awalnya, memang, orangtua pasti marah. Tapi, ingat, setelah dia punya cucu dari anaknya, hatinya pasti luluh. *)  

Batak Itu Bukan Agama

Pandangan : Syaifin Bastian
TAHUN I | edisi 03 | 05 - 18 Nov 2012


Batak itu memang Keras, tapi Hatinya LembutPenduduk Kota Pekanbaru tergolong heterogen. Ada suku Melayu, Minang, Jawa, Tionghoa, Banjar, Batak dan suku lainnya. Semuanya hidup rukun dan damai di dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Hidup rukun ini telah berjalan puluhan tahun dan hingga sekarang hampir tidak pernah terjadi gesekan berarti antara suku yang satu dengan suku yang lain. Bahkan kerukunan umat beragama tetap terjaga dengan baik.
 Orang batak, memang, terkenal dengan sifat kerasnya, terutama suaranya. Namun, setelah kita mengenal lebih dalam jiwanya tidak sekeras yang kita bayangkan.
Pengalaman saya sejak berkenalan dengan orang batak, saya menilai, orang batak itu sangat konsekwen dan setia. Ketika saya di Jakarta, saya banyak berkenalan dengan orang batak dan bahkan menjadi teman. Bahkan, saya ikut perkumpulan Ikatan Pelajar asal Belige di Jakarta.
Banyak pengalaman yang bisa saya petik selama berteman dengan orang batak, baik selama di Jakarta, di Jambi dan di Pekanbaru.
Dari luar sekilas kita melihat, mereka tidak kompak dan tidak bersatu. Namun setelah saya amati, persatuan dan kesatuan orang batak sangat tinggi. Apalagi kalau kita lihat perkumpulan satu marga, perkumpulan satu kampung asal bona pasogitnya dan perkumpulan satu kampung di tanah rantau ini.
Tidak hanya itu, antara marga yang satu dengan marga lainnya saling bertalian dan bila dikait-kaitkan pasti ada hubungan keluarga antara yang satu dengan lainnya.
Hubungannya bisa saja sebagai teman semarga, tulang, hula-hula, boru, bere dan ibebere. Adat istiadat mereka juga sangat kental. Ini sering saya lihat bila ada orang tua yang sudah berumur meninggal dunia. Walau tidak ada pertalian darah dengan yang meninggal tersebut, mereka pasti datang melayat ke rumah duka.
Dari segi pergaulan sehari-hari, orang batak termasuk yang berjiwa nasionalis. Siapa saja, apakah itu etnis lain, agama lain dan ras lain, orang batak cepat bergaul dan dijadikan sebagai teman.
Cuma, ada saja orang menilai orang batak dari sisi luarnya saja. Hanya melihat dari wajahnya yang sangar dan suaranya yang keras. Padahal, bila dijawai lebih dalam tidaklah seperti itu. *) 
 

Batak itu bukan Agama

Pandangan Mereka tentang Orang Batak

TAHUN I | edisi 03 | 05 - 18 Nov 2012

Banyak orang menyalahartikan kata ‘Batak’ atau suku Batak, terlebih di tanah rantau. Karenanya, tidak sedikit suku diluar batak yang memberi penilaian konotasi jelek terhadap suku batak.
Mendengar nama batak ada saja orang yang tidak  senang dan langsung membuat penilaian jelek. Ada yang mengatakan, batak itu galak, seram, menakutkan, keras. Yang ekstrimnya lagi ada yang menyebut ‘batak itu Kristen’.
Mungkin saja penilaian itu ada benarnya menurut pandangan mereka. Tapi kenyataannya bila ditelusuri lebih dalam tidak demikian.
Suara keras, menurut cerita, (khusunya batak Toba) sudah dari sononya. Nenek moyang batak, dahulu kala tinggal di lereng-lereng pegunungan dan di lembah.
Jarak antara rumah yang satu dengan lainnya saling berjauhan. Kemudian jarak antara rumah dengan ladang lumayan jauh.
Sehingga untuk memanggil anak saja untuk makan harus berteriak dengan suara keras. Begitu juga untuk memanggil tetangga harus menggunakan suara keras.
Bahkan untuk mengundang teman sekampung untuk makan bersama (bila ada pesta) harus dengan suara keras. Hampir seluruh perkampungan batak di lereng Bukit Barisan Sumatera Utara sama.
Kebiasaan ini turun temurun dan menjadi kebiasaan bagi suku batak.
Mengenai wajah yang disebut-sebut seram dan menakutkan, itu merupakan ciptaan Tuhan. Tak bisa dibuat-buat.
Sudah menjadi rahasia umum dan tidak menjadi SARA lagi bila ada etnis lain diluar batak yang menyebutkan batak itu identik dengan Kristen. Sudah batak, Kristen lagi.
Kita perlu meluruskan pandangan semacam ini. Etnis batak yang tediri dari lima sub etnis tidak semuanya beragama Kristen. Banyak juga beragama Islam seperti yang tinggal di daerah Tapanuli Selatan.
Di daerah Tapanuli Utara sendiri termasuk kabupaten Samosir, Tobasa dan Humbahas Sumatera Utara yang mayoritas menganut agama Kristen banyak diantara masyarakatnya yang menganut agama Islam. Mereka itu bukan siapa-siapa tapi masih satu saudara dengan warga lainnya.
Bagi batak, agama itu tidak menjadi satu persoalan besar. Banyak orang batak yang kawin dengan suku lain dan agama lain.
Sebaliknya, banyak juga etnis lain masuk menjadi etnis batak dengan cara membuat marga.
Sebuah pengertian, bahwa batak itu berjiwa nasionalis dan terbuka untuk umum. Namun tidak bisa dipungkiri ada juga satu dua yang ditemui sangat fanatik dengan batak-nya dan agamanya.*)

HIDUPKU BERHARGA BAGI ALLAH

Bulan Oikumene Anak Sekolah Minggu, 4 - 25 November 2012

TAHUN I | edisi 03 | 05 - 18 Nov 20
 
Hidupku Berharga Bagi Allah. Kalimat singkat yang tertulis dalam kitab Yesaya 43 ayat 4a ini merupakan tema dari Bulan Oikumene Anak Sekolah Minggu (BOAS) tahun 2012 ini. Berlangsung dari tanggal 4 - 25 November 2012 di Pekanbaru diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Riau.
Ketua Panitia Ferri Pardede yang juga anggota DPRD Kota Pekanbaru dari Fraksi Damai Sejahtra kepada Horas usai acara pembukaan BOAS di Gereja Gekari Maranatha, Minggu, (4/11) mengatakan kegiatan ini diselenggarakan sekali dalam dua tahun.
Kegiatan yang diperlombakan diantaranya lomba tari kreasi, melukis, menyusun fajo, bahasa Inggris Alkitab, pengkhotbah cilik, sekolah minggu ceria, paduan suara dan lain-lain.Sementara lokasi penyelenggaraan BOAS ada di tiga tempat yaitu di GEKARI Maranatha Jl Meranti, GBKP Jl Melayu dan GKPS Jl. Arjuna. Puncak acara dilaksanakan pada hari Minggu, (25/11).
Menyangkut pelaksanaan kegiatan anak sekolah minggu ini, Ferri Pardede mengharapkan dukungan semua orang tua termasuk gereja agar mendorong anak-anaknya mengikuti kegiatan ini. “Ini kegiatan positif untuk mengembangkan kreasi anak-anak Tuhan dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak,” kata Pardede.
Acara pembukaan berlangsung meriah di Gereja Gekari Maranatha Jalan Meranti Pekanbaru dihadiri seribun orang termasuk guru sekolah minggu dan orang tua. Keceriaan anak-anak tampak penuh suka cita sejak sebelum acara pembukaan secara resmi dimulai sampai penutupan dengan doa.
Bulan Oikumene Anak Sekolah Minggu ini dibuka resmi oleh Ketua PGI Wilayah Riau Pdt P Purba MA yang juga pendeta GKPI Pekanbaru yang ditandai dengan pelepasan dua ekor burung merpati. Suasana riuh penuh kegembiraan tampak dari raut wajah seluruh anak-anak.
Dipandu para guru sekolah minggu, seluruh anak yang duduk dengan rapi di lantai gereja bernyanyi ceria penuh suka cita. Sesekali mereka berdiri sesuai perintah guru.
Pdt Ineke Magdalena
Pdt Ineke Magdalena yang tampil sebagai pengkotbah menambah suasana penuh kesukaan. Diawal kotbahnya, dia mengajak seluruh anak sekolah minggu untuk memahami sebuah pengertian kata “berharga”. Untuk lebih memahami arti kata tersebut, dia bertanya kepada anak-anak barang apa yang sangat berharga dalam hidup ini. Ada yang menjawab uang, emas, mobil mewah, berlian, rumah mewah dan lain-lain. Dia menganjurkan agar semua barang berharga itu disimpan dan diurus baik-baik.
Barang berharga yang disebutkan diatas, menurut Ineke adalah barang berharga bagi manusia. Sementara barang berharga bagi Tuhan adalah adek-adek sekolah minggu. Tuhan, kalau memilih, Dia akan memilih adek-adek daripada Yesus.
Ini sudah dibuktikan Tuhan. Dia mengorbankan Yesus hanya untuk menebus adek-adek dan seluruh umat di dunia dari dosa. Yesus disiksa, dipukuli dan disalibkan demi adek-adek. Karena itu, Ineke mengajak semua anak sekolah minggu untuk mengucapkan kalimat singkat “Hidupku Berharga Bagi Allah”. Semuanya mengucapkan sambil membuat sebuah gerakan indah. “Inilah yang menjadi tema kita pada Bulan Oikumene Anak Sekolah Minggu tahun ini yang diambil dari Yesaya 43 ayat 4A” kata Ineke.
Pdt Ineke Magadalena berdarah Ambon ini, adalah koordinator Sekolah Minggu di Gereja Gekari Maranatha. Dia sendiri sudah terbiasa berhadapan dengan ratusan bahkan ribuan anak sekolah minggu. Nampaknya dia sudah memiliki ilmu tersendiri untuk memberi pendidikan dan pengajaan kepada anak sekolah minggu.
“Kami sering membuat Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) khusus bagi anak-anak jemaat Gekari yang tersebar di Pekanbaru diantaranya di Palas, Sigunggung, Pasir Putih, Sidomulyo dan Garuda Sakti. Bila semuanya anak sekolah minggu berkumpul dan KKR bisa berjumlah 500 orang,” katanya menjelaskan.
Dia berpesan kepada seluruh gereja dan orang tua supaya terus mengembangkan bakar dan minat anak usia sekolah minggu. Hidup mereka jangan disiasiakan karena mereka sangat spsial bagi Tuhan. Cara memimpin anak-anak harus hati-hati sejak dini.
Dia mengajak seluruh orang tua agar sejak dini menyuruh anaknya setiap hari minggu ke gereja untuk mengikuti kebaktian sekolah minggu. Selain itu, dia juga berharap kepada gereja agar tetap memperhatikan anak sekolah minggu termasuk guru-gurunya.
Menyangkut kurangnya guru agama Kristen di sekolah negeri dan swasta, khususnya sekolah dasar, dia mengatakan sudah sepatutnya hal ini dipikirkan oleh semua pihak termasuk gereja. Jangan hanya memikirkan pendidikan anak di bidang Matematika dan Bahasa Inggris misalnya, sementara pendidikan rohani dinomorduakan. Kalau mental rohani anak-anak dimbina dengan baik, otomatis si anak akan pintar dalam mata pelajaran lainnya. Karena itu, bagi saya, pendidikan rohani harus lebih diutamakan.
Sesuai dengan data yang dicatat Horas dari panitia, Gereja yang mengirimkan anak sekolah minggu mengikuti BOAS tahun ini sebanyak 20 diantaranya GBI Nangka, Pouckh Narwastu, GKPA Durian, Pouckh RAPP, GKPI Estimasi, GKPS Pekanbaru, Pouckh Sei Galuh, GPIB Gideon, GMII Nehemia, GKPI Senantiasa, GIA, GMI Sion, HLI Agape, GBKP, HKI Resor Pekanbaru, GKPI Palapa. Sementara gereja terbesar bernama HKBP tidak terlihat. *)

TOLU GABE SADA

TAHUN I | edisi 03 | 05 - 18 Nov 2012

Sinurat ni Amanta : Arip Rimpuan Sianturi, Wartawan Tabloid Horas
Sungkun-sungkun do ra rohanta, aha do lapatan ni hata “Tolu Gabe Sada”. Molo tatilik sian haugamoon, dohononta ma ra “Tri Tunggal”. Molo tabereng sian adat habatahon, tadok ma ra “Dalihan Na Tolu”.
Ndang apala i lapatan ni pandohan on, alai molo tapadomu-domu, boi do i gabe sarupa lapatan na.
Di huta Muara Fajar Rumbai, adong tolu punguan parsahutaon ni hakak hita. Naparjolo digoari ma i Punguan Parsahutaon Dos Roha, napaduahon Punguan Parsahutaon Harapan Maju, jala patoluhon ima Punguan Parsahutaon Sauduran.
Najolo, ditingki otik dope halak hita di luat Muara Fajar, holan sada do Punguan Parsahutaon. Alai di tingki na parpudi on, ala nunga lam bahat halak hita marroan tu luat on, gabe dibagi tolu punguan parsahutaon. Godang ni anggota na tolu parsahutaon on hurang lobi 300 kepala keluarga.
Alai nang pe tolu parsahutaon, di angka ulaon siganup ari isarana pamuli boru manang pangolihon anak dohot diulaon habot ni roha, tetap do sada jala sada nasida mangadopi.
Boi dohonon, nang pe naung gabe tolu parsahutaon nasida, tetap do nasida sisada boru sisada anak, sisada ulaon di las ni roha dohot ulaon habot ni roha. Boi dohonan ma nasida “Sada Gabe Tolu, Tolu Gabe Sada”.
Hasadaon ni halak hita na adong di Muara Fajar, boi do on gabe sada tiruan di angka halak hita na adong diluat parserahan on.
Molo adong sada ulaon di parsahutaon na sada, isarana pangoli anak, diontang do parsahutaon na dua nari. Jala maracara do nasida disi jala sude panumpahi. Suang songon i na pamuli boru, sude do mangulosi. Jala adong do panggoraon disi.
Suang songon i do nang diulaon habot ni roha. totop do tarida parsahutaon na tolu i.
Ulaon hasadaon on tarida maon di halak batak toba. Harana punguan ni donganta halak Nias adong do tersendiri, suang songon i donganta na sian Selatan dohot Tanah Karo. Ipe mardalan do dohot denggan.
Nang pe pada umumna karejo ni halak hita Marpinahan diluat on, alai parsaoranna tu dongan suku na asing tung mansai denggan do.
Ndang apala haru adong parbada-badaan dohot pargunturon di luat on sahat ro di sadari on.
Torop do nang gareja jonjong di huta on, alai ndang adong na manggunturi. Sai anggiat ma hasadaon on lam tu dengganna tujoloan on. Horas ma. *)

Sabtu, 22 Desember 2012

Marlas Hutasoit SH Anak Petani dari Lumban Pea Jadi Pengacara

TAHUN I | edisi 02 | 21 OKT - 03 Nov 2012

Menjadi seorang penegak hukum memang gampang. Namun, untuk menegakkan hukum itu adalah hal yang sulit.
Demikian awal pembicaraan Wartawan Horas dengan tokoh sentral kita bernama: Marlas Hutasoit SH, Selasa, (9/10) di rumahnya Rt 05 Rw 03 Kompleks Perumahan Duta Mas Desa Tanah Merah Kecamatan Siak Hulu.
Pria kelahiran tahun 1979 di Desa Lumban Pea Siborong-borong Tapanuli Utara ini menuturkan kisahnya hingga ia boleh dikatakan sudah merambah ke berbagai Negara dunia mempelajari tentang hukum. Padahal suami wanita cantik bernama Anita Carolina Megawati Siahaan ini, adalah lulusan dari Universitas Tanjungpura Kalimatan barat.
Berbicara mengenai hukum Internasional, pria yang dilahirkan  oleh Ibunya boru Nababan ini tidak jauh bedanya bagai minum air kelapa muda. Apalagi mengenai hukum lokal, bisa-bisa. pendengar akan terbuai sebab untaian bahasanya mudah dimengerti oleh setiap orang.
Marlas begitu panggilan akrabnya, memilki gaya hidup sederhana sesuai dengan anjuran abang dari ayahnya kandungnya sebagai orang yang menciptakannya menjadi orang yang berdisipilin. Dia diajarkan agar menghargai arti sebuah kejujuran serta menjung-jung tinggi norma-norma budaya dan etika. Justuru itulah pria batak toba yang satu ini disayangi bahkan disegani pada setiap pertemuan dan berbagai perkumpulan.
Setelah tamat dari sekolah dasar Negeri Hutasoit Pardomuan Siborong-borong I.
Tahun 1993 Marlas remaja langsung diboyong keluarga ayahnya  ke Kalimantan Barat. Di tanah kerajaan Mulawarman itu ia dibina dan digembleng paktuanya melalui suntikan motivasi hingga menciptakan Marlas tidak mengenal lelah untuk belajar.
Enam tahun tidak terasa menduduki bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di SMA III Negeri Singkawang, menempa Marlas menjadi pemuda tangguh tidak kenal lelah menyerah dalam setiap masalah.   
Tanpa mengalami aral melintang, tahun 1999 ia langsung masuk ke perguruan tinggi Universitas Negeri Tanjungpura. Sesuai dengan krakter yang dimilikinya yang tidak suka mendengar pembicaraan berbelit-belit, jurusan yang dia pilih selama kuliah adalah bidang hukum. Memang, bak pepatah mengatakan, kemanapun mutiara dicampakkan jika memang mutiara pasti akan tetap bersinar.
Tiga tahun dua bulan duduk dibangku kuliah bidang study hukum, bulan November 2002 sudah menjalani meja hijau tepat bulan November 2002 sebagai pertanda seluruh SKS telah usai. Setelah menyendang gelar Sarjana hukum pada bulan April 2003, Marlas Hutasoit SH, langsung hijrah ke kota Jakarta.
Disanalah ia mengeluti profesi sebagai Ketua di sebuah LSM (lembaga swadaya masyarakat) berlabel “LSM PMK HKBP”. Melalui kecerdasan serta kebolehannya dalam bahasa hukum, hingga dia sering terpanggil sebagai Narasumber di beberapa TV Swasta di Jakarta.
Atas dasar kesekat-an dan kepiawaiannya itulah, hingga sebuah LSM asing rela mengutus Marlas Hutasoit SH agar melanjutkan kuliahnya ke Negara bekas kekuasaan Ferdinand Marcos yaitu di kota Manila. Tidak berapa lama mengikuti kuliah di sana, ia menjadi mahasiswa teladan di Universitas ASI (Asean Sosial Instituti ) bidang ilmu masyarakat dan komunitas diasuh oleh Dr Mina M Ramirez.
Seiring dengan perkembangan jaman untuk memaksa dan menuntut profesionalisme yang diembannya seakan ingin berontak untuk membebaskan kaum lemah dari keganasan hukum. Namanya bagai minum air laut semakin diminum semakin haus, walaupun sudah mengantongi surat berharga bidang masyarakat dan komunitas dari Universitas ternama di Manila,  kuasa hukum yang pernah berkantor di Jl Pandu Kelurahan Simpang Tiga Bukit Raya ini, tidak sampai hitungan tahun, berangkat untuk menyandingkan gelar yang di sandangnya, ke Negeri Ginseng Korea Selatan sebagai  tujuan utamanya.
Disana pria pemilik tinggi badan 163 Cm ini, langsung mengikuti mata kuliah di Universitas Seuol National bidang study Perburuhan. Adapun dia memilih Negara Korea sebagai tempatnya menimba ilmu perburuhan, dikarenakan Negara Korea sudah diakui dunia International sebagai tolak ukur dunia bidang perburuhan. 
Tekad untuk memburu ilmu belum usai,  setelah kembali ke Indonesia dari Korea, pria yang menikahi gadis Srikandi Universitas Soedirman kota Solo ini langsung berangkat lagi ke New Zeland Selandia baru. Disana ia langsung memborong berbagai ilmu di sebuah Universitas beken bernama Universitas New South Wales Universiti dibidasni oleh Prof David  Dixon.  Untuk mensejajarkan ilmu yang dimilikinya, di New Zeland Marlas mempelajari tentang masalah hak azasi manusia (HAM). Menurutnya, semuanya itu ia lakukan, bukan untuk mencari pamor maupun gelar kesarjanaan produksi luar negeri. Tetapi, terus terang dalam pengakuannya hanya berkeinginan kiranya dapat menjadi  garam dan terang dunia di mata hukum.
Memang harus kita akui bahwa anak ketiga dari enam bersaudara ini memiliki Intelegensi bagus serta IQ brilian. Buktinya, untuk meraih gelar sarjana hukum anak dari Ompu Sari Jaya Hutasoit ini hanya butuh waktu 164 minggu dengan nilai Indeks Prestasi (IP) 3,58 sangat memuaskan dan mendapat nilai pujian Cum Laud.
Ditengah pembicaraannya, Marlas Hutasoit SH memiliki Motto hidup, “dalam kehidupan perlu mendapat tantangan. Hanya melalui tantangan itulah kita akan teruji di bidang segala hal,” ungkapnya sembari minum teh kopi kesukaannya.
Artinya, jelas kita ketahui bahwa LSM PMK HKBP yang diasuhnya  bukanlah LSM “abal-abal” alias LSM emplop. Buktinya, LSM yang ditanganinya itu adalah mitra kerja berbagai LSM seperti, ICW, Kontras dan lain sebagainya.
Menjadi Ketua LSM adalah kesukaan awalnya, karena dia dapat mengkritisi hal-hal yang sudah merugikan hak orang lain tanpa mengindahkan hukum yang berlaku..
Kenangan paling sulit untuk dilupakan penggemar mobil tahun lama ini adalah, masih usia 30 Tahun Marlas langsung dilantiknya menjadi Ketua LBH (Lembaga Bantuan Hukum) di Jakarta. Yang paling mengejutkannya adalah, September 2008 - 2009 dia dinobatkan menjadi Direktur Advokad hukum se Kabupaten Simalungun di Pamatang Siantar. Jelas kita ketahui, dengan sudah sejuta jabatan bahkan ratusan prestasi yang sudah berada digemgamannya, mengarahkanya bagaikan “padi” yang semakin berisi semakin merunduk.
Kesederhanaannya itulah membuat orang memandangnya semakin kagum dan terpesona. Ditambah gaya bahasa yang jelas serta tutur kata yang indah membuat  bibir manis yang dimilikinya itu dapat menciptakan kepuasan tersendiri bagi orang lain saat ia berbicara.  Memang; jika dilihat dari ketegaran serta adidayanya dikala mengolah kata-kata yang dieksprisikannya melalui sentuhan–sentuhan nurani, membuat orang yang mendengarnya di setiap persidangan menjadi luluh dan terkesima.
Untuk lebih mengenalnya inilah  hasil wawancara Tabloid HORAS dengan Marlas Hutasoit SH.
Sebenarnya, apa yang mendorong Anda memilih profesi sebagai Pengacara.
Jelas saya akui, semenjak anak-anak, saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang Pengacara. Tetapi, melihat cara “amangtua” saya yang ada di Kalimantan menjadikan saya tertarik mempelajari arti sebuah kejujuran.
Tadi Anda mengatakan tentang kejujuran. Kejujuran apa yang tidak dimiliki bangsa ini.
Dalam arti harfiah, sebagian anak bangsa kita masih sulit untuk mengucapkan  kesalahannya sendiri. Jika  bangsa ini sudah sulit mengatakan yang benar, pada akhirnya hukum laut pasti yang berbicara. Justru itulah kita jadi terpanggil agar kebenaran itu selalu kita utamakan sedapat mungkin. Dan itulah misi saya paling utama
Memang kebenaran itu harus kita utamakan. Tetapi, jangan-jangan Anda sendiri “maju tak gentar, memenangkan yang bayar”.
Memang hal itu tidak bisa kita pungkiri. Tetapi, tidaklah semua pengacara yang sedemikian. Harus melihat orangnya. Artinya, masih banyak teman-teman Pengacara yang tidak mau menggadaikan moral dan imannya hanya karena kebahagiaan sesaat. Termasuk saya sendirilah orangnya yang tidak dapat dibeli bagai jualan sayur.
Berbicara mengenai profesi. Anda mengatakan adalah anak seorang petani. Jika mau jujur, darimana dana yang Anda peroleh saat kuliah di Luar negeri.
Semuanya itu adalah rencana Tuhan. Walaupun anak seorang petani tidak dilarang menjadi Pengacara hingga mendapat Beasiswa. Dan itu saya dapat adalah melalui kerja keras serta kompetisi melalui sleksi oleh beberapa LSM asing di Jakarta yaitu LSM BspW (Broth Sor Phe Well). Justru itulah saya lebih terpanggil untuk membela kebenaran karena orang lain sudah menilai saya melalui kebenaran.
Berbicara mengenai kebenaran! Saat seorang pengacara mengikuti persidangan dipengadilan, berapa persen kebenaran itu dijalankannya.
Jika kita mau jujur, profesi sebagai pengacara adalah profesi yang mulia. Jikalaulah ada diantara teman-teman kita seperti yang Anda duga, itu adalah oknumnya. Jika kita sudah berbicara oknum, maunya jangan kita kaitkan nama lembaganya. Siapapun dia jika sudah menjadi kuasa hukum, tidaklah langsung menerima kuasa sebelum kasusnya dipelajari. Setelah kasus tersebut dipelajari, baru ada jawaban bisa  atau tidak untuk dibela. Namanya membela, jika memang si tersangka di pihak yang benar sesuai dengan fakta, bukan tidak mungkin akan lepas dari segala tuduhan. Jika si klien memang benar-benar bersalah, tidaklah mungkin dapat bebas dari hukum. Cuma hukum itulah yang dapat meringankan hukumannya.
Semenjak Anda menggeluti sebagai pengacara, sudah berapa perkara yang sangat pelik bisa Anda bela.
Waduh ! jika dihitung perkara sangat pelik dan sudah kita bantu saya rasa tidak terhitung lagi.  Apalagi saat saya di Pematang Siantar Sumatra Utara. Karena kita masih tergolong baru di Riau ini, baru di atas Duapuluhan perkara yang sangat pelik yangsudah  kita tangani. Klo perkara biasa, wah sdah tergolong banyak. Dan boleh dikatakan, belum pernah kita mengalami kesulitan yang berarti  dalam penyelesaianya.
Memang pengakuan ayah seorang anak laki-laki bernama Utrecht Hutasoit ini adalah benar. Menurut pengamatan Tabloid HORAS di beberapa Pengadilan di Riau. Atas kearifan dan ketelitiannya menjadi kuasa hukum dalam suatu perkara, mengantarkan kliennya merasa puas.  Tetapi, bak pepatah mengatakan,” sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan pernah jatuh ketanah”. Artinya, sepandai-pandai Marlas Hutasoit,SH membela kliennya, pasti pernah ditipu oleh klien-nya sendiri.
Memang Marlas bukanlah tipe orang yang mau keluyuran disembarangan tempat. Tetapi, sangat pandai beradaptasi kepada sekelilingnya tanpa memandang bulu sikaya maupun si miskin. Soalnya, jika sudah berbicara dengan dia kita pasti tidak menyangka bahwa dia adalah dedengkotnya hukum. Apalagi jika melihat keceriaan wajahnya dikala melemparkan senyum khasnya itu, Marlas Hutasoit SH, boleh dibilang bagaikan  Rhajes Khanaa bintang flim India tahun 70 an yang tidak mau membedakan kasta dan tidak mau  protokoler
Putra keturunan dari marga Hutasoit (Borsak Bimbinan) ini telah mempersunting wanita idamannya bernama Anita Carolina Megawati Siahaan,  7 Agustus 2009
Dari hasil pernikahannya, mereka sudah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Utrecht Hutasoit. Nama ini diambil dari nama  ahli hukum paling terkenal di Amerika Serikat.
Sebagai wanita karier, sebelum berangkat ke kantor kerjanya sang istri tercinta sudah barang pasti mengingatkan sang suami agar tidak melupakan kuasa Tuhan.  Boleh kita lihat sendiri setiap hari Minggu mereka pasti akan menunaikan kewajibannya ke gereja HKBP Trinititas Pasir Putih. Menurut mereka, selaku manusia, jika masih ada waktu, maunya jangan melupakan “Alva Omega”. *m sihotang     

Mata air Mujarab Pulau Samosir

Laporan : Wanry Sihotang, Wartawan Tabloid Horas
HORAS, Samosir
Seiring dengan perkembangan era globalisasi, sudah sepantasnya darah Pulau Samosir bagai tuan rumah yang tertidur. Padahal, jika masyarakat perantau yang berasal dari tanah warisan Siraja batak itu saling membangun daerah asalnya sendiri, bukan tiidak mungkin para wisatawan domistik akan berlabuh kesana.
Padahal, yang paling cepat untuk mendongkrak PAD (Pendapatan Asli Daerah) adalah dari pariwisata. Maunya, masyarakat yang berasal darisana harus selalu mengingat istilah MARTABE (marsipature hutana be). Jika program itu sudah berjalan baik, pemerintah daerah pun pasti aka terbantu untuk menata dan merealisasikan ke daerah maupun tempat -tempat bersejarah sebagai tempat yang harus dikunjungi.
Hal itu dikatakan oleh mantan Kepala Desa Lumban Raja Negeri Sihotang, P. Simarsoit (56) di rumahnya hari Senin 12/10/2012 lalu. Dalam penuturannya kepada Tabloid HORAS, “sebenarnya Pulau Samosir adalah sebuah tempat wisata paling indah di Indonesia bahkan di dunia. Tetapi, karena masyarakatnya belum dapat menerima peredaran zaman dan pergeseran waktu, pada akhirnya, kita tidak akan jauh bedanya bagaikan tikus mati terkapar di dalam lumbung beras,” ungkapnya menyayangkan,”
Pada uraiannya menambahkan, “coba kita bayangkan daerah Bali. Emangnya apa yang unik disana? Hanya mengandalkan pantainya bersama tari-tariannya saja mereka dapat meningkatkan kehidupannya. Semuanya itu bergantung kepada masyarakat itu sendiri.  Bali terkenal hingga ke penjuru dunia karena masyarakat di sana mau memperkenalkan benda-benda dan tempat-tempat bersejarah kepada dunia luar”. Terang P.Sihotang, serius
Hal itu dibenarkan oleh James Simbolon (40) penduduk Desa Sigaol Tonga-tonga negeri Simbolon. “Seandainya masyarakat yang ada di daerah Siigar-igar mau berkompetisi dengan daerah lain melalui permandian air panas yang ada di sana, saya rasa pihak pemerintah pasti mengucurkan dana melalui UKM (usaha kecil menengah) kepada masyarakat tempatan”. Sambil mengepulkan asap rokoknya, James Simbolon melanjutkan pembicaraannya, “boleh kita lihat sendiri bagaimana cara masyarakat di sana dalam mengembangkan usahanya sendiri. Boleh dikatakan, tidak jauh bedanya dengan pemain bola yang hanya menunggu bola mati.”
Memang melihat keadaan lokasi permandian air panas yang katanya dibuat hanya sebagai lintasan BANDES selama ini, boleh dikatakan tidak mengalami perobahan yang signipikan. Kalau kita mau jujur, bagi masyarakat yang ingin merasakan betapa enak hangatnya air panas hasil proses alam, pasti memilih permandian Aek Rangat Hirta yang ada di daerah Siogung-ogung Pangururan.
Hal itu dikatakan oleh Jeniver heart (34) wisatawan asal Australia di Pangururan pada minggu lalu. “Seandainya jika masyarakat di sana mau membuka peluang bagi pemodal untuk mengembangkan permandian Aek Rangat Sigaung-gaung, daerah tersebut pasti akan menjadi ICON nya desa Rianiate. Karena lokasi tersebut tepat pada pusaran antara desa Simbolon, Hatoguan dengan desa Sihotang dan Tamba.” tegasnya meyakinkan dengan logat bule.
Dari pantauan Wartawan Horas di lapangan, beberapa benda maupun tempat bersejarah di Samosir khususnya di daerah Pintubatu Rianiate dan negeri Sihotang, dapat dipastikan tidak pernah disentuh pemerintah melalui dana bantuan. “Jangankan untuk dibantu, ditinjau saja saja sudah syukur”. Hal itu dikatakan oleh salah seorang tokoh masyarakat Hatoguan bernama ML. Sitohang (56) ditempat kerjanya di Mogang. 
Seiring dengan apa yang dikatakan oleh ML Sitohang tadi, misalnya, Aek rangat Sigaung-gaung yang katanya dapat mengobati berbagai penyakit kulit maunya sudah lama menanti sentuhan belas kasih pemerintah. Demikian juga sumber mata air yang ada di tempat pemukiman masyarakat Siigar-igar yang tidak seberapa jauh dari jalan besar menuju Palipi dan Naenggolan. Menurut pengakuan masyarakat disana, bahwa sumber mata air tersebut memiliki keajaiban bahkan mujarab untuk mengobati berbagai penyakit dalam. Soalnya, bahwa mata air milik marga Manik tersebut dapat sangat dipercaya diantara mata air di Indonesia.
Artinya, walaupun terik panas matahari melampaui batas, air tersebut pasti terasa dingin. Tetapi, jika musim hujan apalagi waktu  malam hari, air tersebut dipastikan terasa hangat. Yang sulit diterima akal sehat adalah, jika kita langsung meminum air di tempat tersebut, rasa pasti sedikit asam. Tetapi, jika air tersebut sudah masuk ke dalam ember maupun periuk, apalagi  sudah berada di dalam rumah, rasanya pasti akan berubah menjadi tawar.
Uniknya, menurut masyarakat setempat, bahwa sumber mata air tersebut bermuara dari  desa Rianiate yang jauh di bawah permukaan air yang banyak mengandung mitos tersebut. Beberapa orangtua disana mengatakan, dulunya, jika desa Rianiate sedang panen, biji padi yang kosong pasti banyak keluar dari muara mata air itu. Melalui keunikan itulah, di jaman Ordebaru beberapa orang peneliti telah datang dari Pusat untuk menguji kelayakan air itu.
Setelah beberapa minggu, tim penelita langsung mengatakan, bahwa keberadaan air tersebut mengandung banyak zat yang dapat membunuh berbagai kuman dan bakteri.
Makanya, sudah ratusan tahun penduduk disana tidak enggan untuk mengkomsumsinya langsung tanpa dimasak terlebih dulu.   Misalnya, penyakit muntaber dan penyakit ginjal serta penyakit hepatitis dalam waktu singkat dapat sembuh disana.
Demikian juga di daerah negeri Sihotang yang kebetulan dipisah oleh  Danau Toba dengan desa Siigar-igar. Dari pantauan Horas baru-baru ini, beberapa tempat bersejarah yang layak untuk diorbitkan masih banyak di tanah peninggalan putra kedua dari Raja si rajaoloan tersebut. Salah satu barang bukti sejarah adalah Batu Pangunsandean ni ompu Sigodangulu  sebagai leluhurnya marga Sihotang yang terletak di Juma Nabolak précis di pinggir Tombak si Haranggian negeri Sihotang. Di atas Batu Pangunsandean itulah Raja Sigodangulu tertidur pulas saat mencari hau borotan  atas perintah Ayahandanya yaitu Raja Sirajaoloan dari huta Bakkara Humbang. kala itu. Penelusuran Wartawan Tabloid Horas belum sampai disitu untuk mencari lokasi-lokasi yang dianggap memiliki sejarah apalagi memiliki muatan gaib. Tidak jauh dari Tugu Raja Sigodangulu Sihotang tepat di pinggir Dolok si Pege-pege, di sana terdapat sebuah sumber mata air milik ompu Portibi Sinomba Sihotang Simarsoit.
Menurut para orangtua disana mengatakan, bahwa  mata air tersebut memiliki keunikan tersendiri. Jika turunan dari marga Sihotang Simarsoit maupun turunan marga Sihombing Hutasoit Parpati Toba datang ketempat tersebut untuk melakukan doa kesembuhan, jika bernasib mujur, puluhan bahkan ratusan  ekor ikan pora-pora pasti datang untuk menyambutnya.
Tapi jika yang datang itu bernasib apes, jangankan ikan pora-pora yang datang menyambut. Si pasing saja pun pasti tidak akan ada disana. Bahkan jika yang datang nasib buruk, dalam seketika, warna air yang bermuara dari bawah pohon beringin itu langsung menjadi keruh. Hal itu dibenarkan oleh Kepala desa Simarsoit Toba E Sihotang (48) di huta Bonandolok minggu lalu.
Sebenarnya, hanya marga sihotang saja datang kesana untuk berlibur sekaligus untuk jiarah, sudah menambah PAD daerah tersebut. Tetapi, karena benda dan tempat bersejarah itu tidak pernah diurus, akhirnya, keberadaan benda yang kaya sejarah juga bermuatan budaya itu  hanya menciptakan mitos doang. *

Tata Cara Pernikahan Adat aBatk

Catatan Redaksi :
Tulisan ini dianjurkan supaya dibaca oleh kaum muda agar mengerti dan paham tata cara dan tahapan pernikahan adat batak. Banyak diantara kita yang sering ke pesta pernikahan, tapi tidak mengerti tata cara adat batak. Tidak hanya kelompok umur muda, kelompok umur tua pun banyak yang tidak paham. Sehingga, raja parhata dan protokol, menjadi guru setiap ada pesta perkawinan anak. Tulisan ini hanya sebuah tahapan. Nanti akan kita ulas secara detail setiap tahap.

“Magodang anak, pangolihononhon, magodang boru pahutaon (pamulion)”
Artinya: Jika putra sudah dewasa, ia akan dicarikan istri (dinikahkan) dan jika putri sudah dewasa dia patut bersuami (tinggal di kampung suaminya).

Masyarakat Batak, tak terkecuali di kota-kota besar termasuk Pekanbaru, masih memegang kuat nilai-nilai budaya. Mulai dari sistem kekerabatan, hingga adat istiadat (termasuk ruhut paradaton dalam perhelatan adat mulai dari bayi, anak, remaja, perkawinan dan kematian) tetap terpelihara dalam kehidupan sehari-hari. Berikut urut-urutan adat pernikahan di dalam masyarakat Batak khususnya Batak Toba yang lazim digunakan mulai dari patiur baba ni mual (mohon doa restu) hingga marunjuk (pesta pernikahan).
A. PATIUR BABA NI MUAL (permisi dan mohon doa restu Tulang)
Prosesi ini merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh orangtua terhadap hula-hula (kelompok marga asal sang istri) sebelum putranya menikah. Menurut adat, putri tulang (saudara kandung laki-laki dari pihak ibu) adalah jodoh pertama dari putranya. Apabila pasangan hidup yang dipilih bukan putri tulang, maka orang tuanya perlu membawa putranya permisi dan mohon doa restu tulang. Adat ini hanya dilakukan pada putra pertama yang akan menikah.
B. MARHORI-HORI DINGDING (perkenalan keluarga secara tertutup)
Beberapa bulan sebelum pesta pernikahan, keluarga pihak laki-laki (paranak/pangoli) mengunjungi keluarga pihak perempuan (parboru/oroan) dengan maksud memperkenalkan diri dan menetapkan tanggal dan hari untuk lamaran. Marhori-hori dingding hanya dilakukan oleh keluarga inti saja, karena sesuai dengan artinya (marhori = berkomunikasi, dingding = dinding) pertemuan ini diadakan secara intim dan tertutup. Suguhan yang dibawakan pun cukup berupa kue atau buah.
C. MARHUSIP (perundingan diam-diam) & PATUA HATA (melamar secara resmi):
Beberapa waktu kemudian, atas hasil pembicaraan hori-hori dingding maka diadakan pembicaraan yang lebih formal antar keluarga dekat (belum melibatkan masyarakat luar). Baik pihak paranak maupun parboru didampingi oleh raja adat masing-masing. Pihak paranak datang ke tempat keluarga parboru dengan membawa sipanganon (makanan & minuman). Pada acara ini pihak paranak mempersembahkan tudu-tudu sipanganon (makanan berupa kepala pinahan lobu/babi atau kerbau) dan pihak parboru memberikan dengke (ikan mas).
Acara marhusip biasanya langsung dirangkai dengan acara melamar secara resmi yang dipimpin oleh para raja adat. Acara ini dinamakan patua hata yang secara harafiah berarti meningkatkan taraf kesepakatan yang tak lagi hanya melibatkan kedua pasangan muda-mudi saja tapi sudah naik ke taraf kesepakatan antar orang tua.
D. MARHATA SINAMOT
Dalam acara ini dibahas secara detail adat yang akan dilaksanakan. Antara lain:
1. Merundingkan mas kawin / mahar / tuhor
Meliputi pembahasan jumlah dan bentuk sinamot (uang mahar) yang akan diberikan oleh pihak paranak, dan panjuhuti (jenis ternak yang akan dipotong) yang kini ditetapkan pihak parboru. Dahulu, ternak panjuhuti disediakan pihak paranak dan merupakan bagian dari sinamot.
2. Jumlah ulos yang akan diberikan pihak parboru kepada pihak paranak (ulos herbang)
Biasanya jumlah ulos tergantung kesepakatan.
3. Tempat dan tanggal martumpol dan pernikahan
Tempat pesta pernikahan dapat diselenggarakan di tempat pengantin perempuan (dialap jual) atau tempat pengantin laki-laki (tahuron jual). Jika pesta diselenggarakan di tempat paranak, maka pihak paranak tidak diwajibkan membawa sibuha-buhai (sajian pagi pada hari H). Jual beras (boras si pir ni tondi) dan dengke siuk (ikan arsik/pepes) sebagai bawaan kerabat pihak paranak akan beralih kepada pihak parboru sebagai bolahan amak atau tuan rumah.
4. Banyaknya jumlah undangan dari kedua belah pihak
Selama marhusip dan patua hata berlangsung kedua belah keluarga duduk secara berhadap-hadapan dan kedua pengantin biasanya “disembunyikan” lebih dahulu atau tidak dilibatkan, sampai pada akhir acara barulah keduanya dipanggil untuk diperkenalkan ke seluruh keluarga dan diberi wejangan / pengarahan. Sebelum acara ditutup biasanya dibagikan uang ingot-ingot ke pihak keluarga yang jumlahnya bervariasi, tergantung posisi orang tersebut dalam tatanan adat.
F. MARTUMPOL
Persetujuan pernikahan sekaligus pewartaan atau pengumuman melalui institusi agama (gereja). Bila dilakukan di gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) maka pewartaan (yang biasa disebut tingting) dilakukan setidaknya 2 kali dalam 2 minggu berturut-turut. Bila tidak ada pihak yang berkeberatan / menggugat, barulah pernikahan dapat diselenggarakan.
G. MARTONGGO RAJA DAN MARIA RAJA
Seusai martumpol, biasanya dilanjutkan dengan pembicaraan di rumah masing-masing pihak yang disebut martonggo raja (di tempat keluarga parboru) dan maria raja (di keluarga paranak). Pembicaraan ini membahas lebih detail lagi prosesi adat hari H, terutama keterlibatan masing-masing personil keluarga besar (dongan sahuta), seperti siapa yang bertugas untuk memberi dan menerima ulos, dan hal-hal yang telah disepakati dalam acara marhusip sebelumnya.
H. PAMASU-MASUON (pemberkatan nikah) & MARUNJUK (pesta adat)
Setelah urut-urutan adat pernikahan dilalui, tibalah untuk menggelar pesta pernikahan yang diawali dengan pemberkatan di rumah ibadah dan dilanjutkan dengan marunjuk (pesta adapt di Sopogodang).
Sekilas urutan prosesi pada hari H dapat disimak di bawah.
MARSIBUHA-BUHAI
Pagi hari (sekitar pukul 08.00) rombongan paranak datang untuk menjemput mempelai wanita dengan membawa tanda makanan adat na margoar / sangsang (pinahan lobu/babi atau kerbau) dan pihak parboru menyediakan dengke (ikan mas),sebagai tanda permulaan ikatan kekerabatan atau berbesanan (mamuhai partondongan). Seluruh keluarga pun makan pagi bersama, dan setelahnya orang tua parboru memimpin doa memberangkatkan pengantin ke rumah ibadah untuk pemberkatan.
PAMASU-MASUON (pemberkatan nikah)
Pemberkatan dilakukan di tempat ibadah. Untuk kepraktisan, sebelum acara pemberkatan dimulai biasanya dilakukan pencatatan sipil di tempat. Setelah pemberkatan usai, seluruh keluarga berangkat menuju tempat pesta adat.
MARUNJUK (pesta adat)
Setelah mempelai dan keluarga kedua pihak telah tiba dalam gedung, kedua belah pihak saling menyerahkan tanda makanan adat. Pihak paranak menyerahkan tudu-tudu ni sipanganon (pinahan lobu/babi atau kerbau utuh yang telah dipotong dan disusun menjadi beberapa bagian tertentu) pada pihak parboru, dan sebaliknya pihak parboru menyerahkan dengke simudur-mudur (ikan mas).
1. Pembagian Jambar
Setelah proses tukar-menukar suguhan selesai, diadakan santap bersama yang didahului dengan doa. Lalu kedua belah pihak bersepakat tentang pembagian jambar juhut (tanda makanan adat yang berasal dari tudu ni sipanganon) di mana tiap potongan daging dibagi-bagi sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Pihak parboru yang mendapat daging (juhut) dari paranak membagi-bagikan daging kepada dongan tubu dan dongan sahuta, pangula ni huria bahkan parmusik yang disebut Lompan Natabo. Pihak paranak yang mendapat dengke (ikan mas) dari pihak parboru membagi-bagikan ikan kepada dongan tubu, boru, bere dan dongan sahuta, pangula ni huria bahkan parmusik yang disebut Ulu Nidengke.
2. Tumpak
Usai pembagian berkat daging, pihak paranak mengumpulkan sumbangan gugu dan tumpak dari semua kerabat yang diundang. Setelah seluruh hadirin menyerahkan tumpaknya, kemudian pengantin perempuan dipersilakan untuk memungut (manjomput) sumbangan yang terkumpul untuk dirinya dan selebihnya diserahkan kepada orang tua paranak.
3. Sinamot
Penyerahan Sinamor dari pihak paranak ke parboru sesuai dengan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pertama-tama ‘dihitung’ terlebih dahulu oleh parhata (juru bicara) paranak, lalu oleh parhata pihak parboru, kemudian diserahkan pada ibu pengantin perempuan (diterima di atas ulos yang terbuka). Kemudian kedua belah pihak keluarga saling berkenalan dengan beberapa prosesi adat seperti pemberian panandaion dari keluarga paranak pada keluarga parboru.
4. Ulos Herbang
Pihak parboru menyerahkan ulos herbang sesuai kesepakatan dalam marhusip, diawali dengan pemberian ulos passamot dan ulos hela. Ulos Passamot diberikan orang tua pengantin perempuan ke orang tua pengantin laki-laki dengan makna agar dapat mengumpulkan berkat sebanyak-banyaknya. Sedangkan Ulos Hela diberikan orang tua pengantin perempuan kepada pengantin agar pengantin bersatu sepanjang masa. Selain Ulos Hela, adapula Mandar (sarung) yang diberikan kepada pengantin laki-laki untuk dipakai bekerja jika pengantin perempuan mengadakan pesta. Kemudian orang tua parboru menabur beras Sipir Ni Tondi di kepala kedua pengantin sebanyak 3 kali agar selalu sehat, kuat menghadapi cobaan dan tabah menghadapi masalah.
5. Mangulosi
Setelah pemberian ulos herbang, tibalah saat untuk mangulosi atau pemberian ulos / berkat dari seluruh keluarga bagi kedua pengantin.
6. Akhir Acara
Acara diakhiri dengan ucapan selamat dari para raja parhata, orang tua disertai dengan sepatah dua kata nasihat bagi pengantin. Kemudian kedua pengantin pun mengucapkan rasa syukur pada orang tua, saudara dan seluruh undangan.
7. PASCA PERNIKAHAN
Setelah menikah pun masih ada pula beberapa prosesi adat lama yang dilakukan meski saat ini sudah tak jamak dilaksanakan, atau disatukan dalam prosesi adat untuk alasan kepraktisan. Acara tersebut adalah paulak une dan maningkir tangga, yang ditujukan untuk mengantar pengantin wanita ke pihak paranak dan kunjungan pihak parboru pada huta / desa tempat tinggal pengantin yang merupakan tempat tinggal paranak. Seluruh rangkaian acara kemudian ditutup kembali dengan doa. (Dari berbagai sumber). Molo adong na hurang lobi boi do tapanture-red)

Sekilas tentang Radio Monaria dan Graha FM

Radio Mona Ria FM Pekanbaru yang  berdiri sejak tahun 1987 lalu kini telah memasuki usia yang ke-25, usia yang sudah tidak muda lagi. Radio Mona Ria berhasil melewati berbagai masa-masa sulit maupun transisi seperti halnya yang dialami oleh Radio lain di  Pekanbaru dan Riau umumnya.
Radio Mona Ria FM hadir menemani aktifitas audience sejak pukul 05.00 subuh sampai menghantar istrahat pukul 24.00 wib dengan berbagai alunan music pop, kreatif, slow, oldiest  Indonesia maupun manca Negara dengan diramu berbagai program interaktif  maupun Talk Show yang sudah barang tentu melibatkan audiens membahas berbagai topic dan permasalahan.
Radio Mona Ria yang berada di frekwensi 101,8 FM memilih segmen Keluarga usia 15 sampai 50 tahun mulai dari usia SMU sampai dewasa , dengan porsentase 60 porsen perempuan dan 40 porsen laki-laki. Salah satu program andalan radio Mona Ria FM ialah Mona ria Request setiap hari jam 15.00-17.00 wib, dimana setiap audiens bisa memilih dan meminta lagu yang akan diputar penyair selanjutnya dikirim dan menyapa saudara dan temannya.
Program unggulan lain, adalah Jelita Mona Ria setiap hari mulai pukul 09.00-11.00 wib membahas masalah seputar perempuan, mulai dari karir, suami, seks dan rumah tangga. Dalam program ini audiens bisa berbagi pengalaman dan tips  dengan sesama audiens.
Untuk memberikan informasi teraktual bagi masyarakat Pekanbaru, Radio Mona Ria bekerjasama dengan radio VOICE OF AMERIKA ( VOA) berupa penyiaran berita seputar Indonesia dan dunia, termasuk hiburan music dan informasi Mandarin. Disisi lain Radio Mona Ria juga bekerjasama dengan Televisi Lokal yaitu RTV menyiarkan berita RTV.
Radio Mona Ria  yang memiliki  pendengar kurang lebih 250.000 orang, sudah melakukan berbagai kegiatan OFF AIR seperti Kejuaraan Senam Aerobic Piala Gubernur Riau, Kejuaraan SKJ, Tari Kreasi dan berbagai kegiatan off air lainnya… ( Frikles.)
RADIO GRAHA FM SETIA MENEMANI KAULA MUDA
Ditengah sepinya dunia hiburan pada tahun 1995 lalu, Radio Graha FM hadir untuk memberikan hiburan segar bagi masyarakat Pekanbaru terutama kalangan kawula muda. Radio yang memiliki segmen pendengar kawula muda ini hadir dengan program khusus anak muda, baik dari segi music, materi  siaran maupun tehnik siaran penyiar.
Pada tahun 1996 Radio Graha FM sengaja menyajikan program masyarakat luas dengan music Batak, Minang, Dangduth, Melayu dan Jawa. Harus diakui pada masa itu Audiens Radio Graha memiliki puluhan ribu pendengar bukan saja di kota Pekanbaru, tetapi masyarakat pinggiran seperti Perawang, Minas, Kota Garo, Kampar, Kuansing , Pelalawan terutama yang berada di Perkebunan.
Tidak heran pada masa itu, pesawat telepon Radio Graha FM tidak henti-hentinya bordering ingin menyapa penyiar idolanya. Tetapi ada satu hal yang mungkin sedikit aneh… para pemasang iklan agak enggan menggunakan Radio Graha sebagai sarana promosi dengan alas an Radio brsifat etnis dan kedaerahan. Akibatnya pemasang iklan sangat terbatas yang sudah barang tentu berimbas kepada pendapatan Radio.
Sampai saat ini Radio Graha FM masih tetap eksis terutama di kalangan kawula muda yang kreatif. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya audiens yang mengikuti program interaktif baik permintaan lagu maupun memberikan saran dan tips dalam program interaktif.
Radio Graha FM yang berada di frekwensi 96,7 FM berdasarkan hasil survie LSI tahun 2003 berada di peringkat pertama terbanyak jumlah pendengarnya. Namun belakangan ini LSI tidak pernah lagi membuat survey sehingga tidak diketahui radio Graha berada di posisi ke berapa. Radio Graha FM yang tergabung dalam Radio Kardopa Group  bersama Radio Mona Ria di Pekanbaru, Radio Kardopa dan Visi FM di Medan, Suara Tebing Tinggi di Tebing Tinggi, Radio Kharisma di Balige dan radio Suara Jupti Indah di Sibolga.
(Frikles. N)

Sejarah Kehidupan Wartawan Halak Hita di Riau

Hotmand Simanjuntak
Wartawan, di bahasa batak digoari ma on Parbarita Nauli. Karejona manurat angka na masa jala dibaritahon ma i di surat kabar. Nuaeng on, ndang holan di surat kabar be boi jahaon barita, di internet pe nunga boi.
Haroro ni halak batak tu Riau tarlumobi tu Pekanbaru dimulanai antar taon 1950-an do. Paet do nian dihilala angka donganta na parjolo i. Alai nang pe songon i, lam martamba-tamba do halak hita ro tu luat on sian bona pasogit, ala dibege godang do lowongan parkarejoan, isarana di Caltex.
Asing ni Caltex, tung  mansai godang do parkarejoan ni halak hita. Adong mai na karejo di tombak, di perusahaan swasta, pegawai negeri, tintara, polisi, martiga-tiga dohot angka na asing. Dung pe taon 1972 adong halak hita na gabe Parbarita Nauli alias wartawan, ima amanta Bismark Tampubolon. “Molo so sala au, bulan November taon 1972 do amanta Bismar Tampubolon gabe koresponden Harian Sinar Indonesia Baru Medan”, ninna amanta Hotmand Simanjuntak tingki disungkun Tabloid Horas, Jumat, (12/10).
 Di taon na mangihut pe amanta Hotmand Simanjuntak (Ima nampuna Radio Monaria sisaonari) gabe wartawan. “Maret 1973 pe ahu wartawan di Harian Semangat Kodam III Padang,” ninna amanta Hotmand Simanjuntak.
Dipudi ni i, marroan ma muse halak hita gabe korespenden manang wartawan Harian SIB isarana Mikael Pasaribu, Hasugian, WE Tinambunan, Lupina Sinaga. Alai anggota amanta WE Tinambunan (Soanari nunga Professor amantaon) satongkin do wartawan pintor guru do ibana di Kalam Kudus.
Taon 1978, ro ma amanta Jek Marbun sian Medan mamboan koran Angkatan Bersenjata jala markantor di jalan Juanda Pekanbaru.
Adong muse wartawan na margoar Badogil Simanjuntak (sipil Angkatan Darat), Ramli Lubis wartawan Analisa Medan. Mangihut ma muse Jabonar Sinaga (Mimbar Umum), Saun Ahmad Saragi (SIB) dohot angka na asing.
Holan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) do di tingki i organisasi pers na adong. Maol do dimulanai masuk tusi. “Ahu ma na parjolo halak hita anggota PWI,” ninna amanta Hotmand. Menyusul ma muse Bismark Tampubolon, Jek Marbun dohot angka na asing nai. Taon 1992-1993 tarpillit do amanta Hotmand Simanjuntak gabe Wakil Ketua PWI Cabang Riau. Di masa i Rida K Liamsi do ketua. Sahat tu sadarion tong do pengurus amanta on di PWI Cabang Riau. Nuaeng gabe penasehat na ibana rap dohot amanata Muslim Kawi dohot H Mulyadi. 
Selain aktif di organisasi PWI, Hotmand Simanjuntak hea do 10 taon gabe koordinator wartawan Unit Polda Riau. Bahat do kegiatan na binaeanna, isarana Lomba Karya Tulis, seminar dohot angka na asing na marhadomuan tu karejo ni wartawan.
Najolo, ninna ibana, nunga adong istilah korupsi alai ndang seheboh saonari. Isarana di Dinas Transmigrasi dohot Dinas PU.
Di tingki i mabiar do pejabat Pimpro dohot angka parsimongkel tu wartawan. Alai nang pe songon i, ingkon jolo investigasi do hami tu lapangan baru pe asa konfirmasi jala dibaritahon.
Surat kabar terbitan Jakarta, Medan dohot Padang do na menguasai Riau hatiha i. Nuaeng on pe bahat media cetak terbitan Pekanbaru.
Di taon 1980-1990 an marroan ma muse angka dongan wartawan halak hita tu Riau on. Tu Dumai, tu Batam dohot tu Pekanbaru.
Angka on ma goar-goar ni wartawan halak hita  : Martohap Siregar, Marganti Manalu, Demarsen Sinaga, Jhoni Simatupang, Marasudin Sagala, Maurit Simanungkalit, Jhoni P Marbun, Kombes Marbun dohot angka naasing. Molo dietong, adong do saonari on mar-100 halak wartawan halak hita na bertugas di Pekanbaru on. Molo dietong di Provinsi Riau mar-200 halak.
Nunga bahat sian nasida naung parjolo dialap Tuhanta. Bismark Tampubolon, Jek Marbun, Marganti Manalu, Jhoni simatupang, Marasudin Sagala, Agussalam Marbun, Banjarnahor dohot angka na asing.
Taon 1993, digagasi amanta Jek Marbun do mambaen Perayaan Natal Wartawan di bawah naungan PWI Cabang Riau. Sude do wartawan na beragama Kristen parsidohot di tingki nang pe so sude halak hita anggota PWI. Mulai sian i sahat tu sadarion torus do dibaen Natal Wartawan.
Angka on ma na hea gabe ketua panitia natal wartawan Provinsi Riau. Jek Marbun, Bismark Tampubolon, Hotman Simanjuntak, Demarsen Sinaga, Yanto Budiman Situmeang, Oberlin Marbun, Budiman Pardede, PH Sitompul, David Leo Lase, Jefri Sinaga.
Hotmand Simanjuntak sebagai senior dan sesepuh wartawan di Provinsi Riau mengharapkan agar wartawan halak hita terus belajar dan membaca. Harus mampu mengikuti perkembangan jaman.
Taon 1987, dibuka amanta Hotmand Simanjuntak ma Radio Manaria. Mangihut ma muse Radio Grafa FM taon 1996. Nang pe naung dibuka ibana Ridio, totop do amanta i wartawan di media cetak.
Jala ibana do sebagai Penanggungjawab Radio Mona Ria dohot Radio Graha FM
Hotman Simanjuntak lahir di Sibolga 7 Januari 1951 dan istrinya R br Silitonga.
(red-01)

Yesri E Hasugian STh, Pembimas Agama Kristen Protestan Kanwil Agama Provinsi Riau “Kita akan Mengunjungi Gereja-Gereja”

Sambil mengenal tokoh kita kali ini, rubrik yang kami asuh ini sengaja dipoles untuk membawa kita ke suatu percakapan yang unik dan menarik, sekaligus mengingatkan kita bahwa doa ibu sangat mujarab. Mudah-mudahan profil tokoh muda kita ini dapat memberikan suatu wacana dan motivasi yang bermanfaat bagi pembaca kami yang budiman.
Horas, Pekanbaru
Dalam nuansa human interest dengan mengetengahkan  nilai-nilai manusiawi akan kami lukiskan pada Edisi kali ini.
Dia memiliki kharisma yang mempesona serta seorang figur berprestasi ditambah pribadi unik dan menarik.
Para pembaca Tabloid HORAS yang kami cintai! Sebagai tokoh pilihan kami kali ini, boleh dikatakan telah memenuhi kariteria yang kita inginkan.
Dia adalah seorang putra batak sekaligus memiliki marga Sihotang turunan dari Hasugian. Dia sudah terkemuka dibidangnya, sebagai seorang Pemimbina Masyarakat Kristen Protestan di Wilayah Riau. Pemilik warna kulit hitam manis ini adalah  paripurna, ditambah kegesitannya dalam menanggapi hal-hal positif hingga menghantarkan dirinya menduduki jabatan strategis di Kantor Kementerian Agama Provinsi Riau.
Dia memiliki daya pikat luar biasa, hingga mampu memukau public melalui kekuatan kata-kata yang diekspresikannya penuh pesona sehingga pendengar selalu mengaguminya.
Siapakah dia sebenarnya? Visual berikut ini adalah gambaran hidup seharian sekaligus jatidiri yang sebenarnya.
Tokoh kita kali ini bernama lengkap, Yesri Elfis Hasugian STh. Lahir di Tapanuli Utara tanggal  7 Feberuari 1976 dari seorang ibu bernama Samaria br Situmorang (Op Enmoiya Yesda Abed Hasugian).
Ketika Elfis, demikian panggilan kesehariannya saat berusia enam tahun, mengecap pendidikan sekolah dasar di SD 060938 Medan Sumatra Utara. Dalam rentan waktu selama enam tahun itu, dia dapat menyelesaikan sekolahnya sekaligus mengantarnya kesekolah lanjutan tingkat pertama di SMP PGRI 55 Medan. Dia melanjutkan studi di selama tiga tahun di Menengah Agama Kristen Immmanuel (SMAKIM) Medan tanpa mengalami hambatan yang berarti. Penggemar lagu Haluaon Nagok No 171 ini melanjutkan studinya di Insitut Agama Kristen Medan (IAKM)  pada tahun 2000. Setelah menyandang gelar sarjana Theologia, pria pengumbar senyum ini langsung diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 2003.
Kariernya menanjak bagai mesin Ford. Elfis langsung ditempatkan menjadi pengawas di bidang Pendidikan Agama Kristen pada tingkat sekolah dasar di daerah Tanjung Balai Asahan Sumatera Utara  hingga  tahun 2011.
Mengenai organisasi, anak pertama dari mantan Pembimas Agama Kristen Wilayah Riau Drs Pdt Jesyas Hasugian ini tidak lagi diragukan. Selain jabatan Pembimas Agama Kristen Protestana, saat ini dia juga menjabat sebagai ketua PERGAKRI Provinsi Riau. Ditambah lagi sebagai sekretaris I Karang Taruna Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru.
Elfis lahir dan dibesarkan di tengah keluarga seorang hamba Tuhan. Dia dibina dan dididik serta digembleng agar dapat mengetahui arti kehidupan yang sebenarnya melalui agama yang dianutnya. Menurutnya, hanya melalui agama itulah manusia dapat menghargai kehidupan yang mandiri  sebagai ciptaan Tuhan yang bebas dari segala intervensi. Selain itu, menurut Elfis, ayahnya selalu mendidiknya agar menghargai disiplin, analisis serta menghormati fakta-fakta yang obyektif di dalam alam apalagi dalam kehidupan.
Disamping pembelajaran itu, ayahnya juga mengajarkan gaya hidup serta pemikiran Aristoteles kepada seluruh anak-anaknya. Dengan maksud, “orang lain masih berpikir, sementara mereka sudah berbuat”.
Sama dengan ibunya yang sangat gesit dalam membina dan mengajar anak-anaknya dengan tekun di bidang peradaban antara dunia dan akhirat. Boleh dikatakan setiap malam sebelum tidur ibunya mengajarkan cara-cara mensyukuri panca indra sekaligus melatih kepekaan melewati olah doa dan olah semedi dalam memanggil Tuhan Yesus.
Melalui gabungan dua jenis aliran pembinaan itulah sejak masa kanak-kanak hingga remaja sudah dapat menghayati arti kehidupan yang sebenarnya bahwa manusia ini hanya numpang lewat di atas dunia ini menuju alam yang sudah ditentukan Tuhan.
Atas dasar penggabungan dua  aliran pendidikan ini pulalah mempengaruhi ayah dari tiga orang anak ini sangat peka terhadap wawasan budaya mengenai dinamika bangsa serta mengantisifasi individu dan HAM serta cara kedaulatan rakyat menuju pembelaan gaya hidup dan daya kreatif manusia sebagai individu yang cerdas  terhadap masalah-masalah pendidikan apalagi keadilan sosial..
Hal itu pulalah menyebabkan dirinya menjadi orang yang tidak mau protokoler apalagi menjadi orang controversial apalagi untuk dipuji sebelum diuji. Yesri Elfis Hasugian STh sebagai nama lengkapnya, dimasa-masa remajanya selalu bercita-cita menjadi seorang dokter.  Tetapi cita-cita itu gagal karena minusnya ilmu matematika dan ilmu hitung sesuai dengan ajaran ibunya yang hanya menonjolkan masalah religius.
Buktinya, walaupun usianya masih tergolong muda pada saat itu, sudah pernah mencalonkan diri menjadi Pembimas Agama Kristen di Wilayah Riau. Tetapi nasib masih berpihak kepada Yusuf Surubakti SPak menciptakannya semakin alot dan kuat baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Sebagai bukti konkrit tentang kualitasnya, beberapa tahun kemudian tepatnya 29 Feberuari 2012 dia dilantik menduduki kursi kepemimpinan di Kantor Pembimas Agama Kristen Protestan Wilayah Riau.
Semenjak dia  menduduki jabatan yang baru itu, pria berpenampilan sederhana ini mengatakan, “kita akan mengajak teman-teman Kristiani untuk menghidupkan kembali sebuah pandangan bahwa gereja itu dapat melahirkan ilmu dan moral menuju kedamaian dan kerukunan. Sebab belakangan ini telah banyak dari kaum pemuda hanya memiliki embel-embel  Kristen KTP. Misalnya, cara berdoa walaupun melalui bahasa ibunya sendiri masih tergolong doa hafalan. Jika gereja tidak cepat mengantisipasi mental tersebut, bisa jadi mental anak-anak sekarang tidak dapat diaplikasikan. Maka segala pengajaran yang diberikan oleh hamba-hamba Tuhan maupun para guru agama di sekolah, kita kawatir mental anak-anak kita pasti akan menuju mental odong-odong kelak,” ungkapnya kepada Tabloid Horas, Selasa, (2/10) di ruang kerjanya.
Menanggapi singkronisasi hubungan para pendeta dengan pajabat di kantor agama sudah hampir tergolong terputus, Elfis Hasugian menjawab “disitulah kelemahan kita selama ini. Sebenarnya pihak Depag bidang agama Kristen Protestan dalam waktu dekat akan turun ke gereja-gereja untuk melakukan silaturahmi kepada pengurus gereja. Tetapi mengingat tugas sudah menumpuk di atas meja ditambah jumlah tenaga staf yang sangat minim, membuat kami belum dapat melakukan berbagai kunjungan ke gereja-gereja,” kata Elfis.
Memang, kata Elfis, dia sangat memahami apa yang diinginkan jemaat Kristen di Provinsi Riau. Tetapi semua rencana baik itu harus memiliki proses. Dari proses itulah cepat atau lambat akan memberikan solusi yang terbaik. Pada logikanya harus saling memahami dan memaklumi segala keterbatasan. Apalagi Negara yang kita cinta ini adalah Negara hukum yang taat kepada peraturan membuat kita tidak dapat berbuat dengan semena-mena.
Harus kita akui, lanjutnya, ajaran Kristen adalah ajaran yang selalu mentaati hukum dan peraturan. Atas ketaatan itulah kedamaian dan kerukunan antar sesama apalagi antar umat beragama dapat terwujud.
“Asa balintang ma pagabe tumundalhon sitadoan, ari ni halak Kristen do ingkon gabe asalma olo masipaolo-oloan. Ai ro Tuhanta Jesus tu portibion mamboan dame do. Molo soadong be di hita dame i, antong halak parise nama hita annon didok halak sileban,” kata Elfis mengakhiri wawancaranya dengan wartawan Tabloid Horas. (M. Sihotang)

Dolok Boru Tompul Terdapat di Gunung Tua


Di Desa Huta Lombang Kecamatan Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) Sumatera Utara terdapat sebuah “Tor Si Boru Tompul”. Ada juga yang menyebutnya “Dolok Boru Tompul”. Legenda ini diperkirakan sudah ada ratusan tahun silam dan hingga sekarang masih dikenang oleh masyarakat. Tor atau bukit tersebut kurang lebih satu hektar dan selalu dijadikan sebagai taman rekreasi, terutama pada hari raya Idul Fitri, HUT Kemerdekaan 17 Agustus dan hari libur lainnya oleh masyarakat setempat. Belakangan disamping bukit tersebut terdapat sebuah rumah makan bernama rumah makan Paranginan.
Tim sejarah penulisan buku sejarah Punguan Raja Toga Sitompul dan Boru Kota Pekanbaru terdiri dari Drs PH Sitompul, Jonas Sitompul, HP Sitompul dan Marisi Sitompul melakukan investigasi ke lapangan menelusuri kebenaran Tor Si Boru Tompul. Sabtu, tanggal 26 Maret 2011 sekitar pukul 05.00, tim sejarah tiba di daerah Gunung Tua. Dua kilometer menjelang kota Gunung Tua angin kencang datang. Sekitar dua kilometer melewati jembatan Gunung Tua, tim singgah di sebuah warung. Turun dari mobil, angin kencang masih datang. Tapi setelah beberapa menit angin tersebut berhenti.
Menurut pemilik warung Tengku Mangarahon Harahap, Tor Si Boru Tompul dijadikan masyarakat setempat sebagai tempat rekreasi (parmeaman). Soalnya, di atas tor (bukit) landai (datar). Tapi sepuluh tahun terakhir ini Tor tersebut tidak lagi dijadikan tempat rekreasi, pasalnya bukit tersebut sudah dijadikan sebagai tempat mengambil Batu Padas.
Sesuai dengan cerita orang tua dulu, kata Tengku Mangarahon Harahap, bahwa bila Boru Tompul dipanggil akan ada jawaban “ou” . Suara itu adalah suara wanita, namun wujudnya tidak kelihatan. 
Menurut Legenda, jaman dahulu, ada seorang Marga Harahap penduduk Gunung Tua membawa lari (kawin lari) seorang gadis pujaan hatinya Boru Tompul dari Sipirok Dolok Hole. Boru Tompul ini dibawa ke rumah orangtuanya ke Gunungtua, tapi orangtuanya tidak berterima dengan Boru Tompul sebagai menantunya (Parumaeannya). Mendengar ini, Boru Tompul pergi dari rumah calon mertuanya ke sebuah Tor (dolok) yang tidak jauh dari perkampungan itu. Tidak berapa lama, Si Harahap menyusul Boru Tompul ke kawasan Tor tersebut. Sampai di kawasan itu, Harahap tidak menemukan calon istrinya. Dia pun memanggil-manggil. Boru Tompul? Ada suara menjawab : Ou…. Jawaban ada, tapi wajah (wujud) Boru Tompul tidak tampak. Beberapa kali dipanggil, jawabannya tetap demikian. Bila dia memanggil dari atas, jawaban terdengar di bawah. Dia pun turun ke bawah dan dipanggil, suara itu ada membalas di atas bukit.
Esok harinya dan hari-hari berikutnya, Harahap pergi mencari Boru Tompul ke kawasan itu dan jawabannya selalu demikian. Orang sekampung pun mengetahui persoalan ini dan setiap orang yang datang ke kawasan Tor tersebut bila dipanggil : Boru Tompul? Selalu ada jawaban : Ou….Pendek cerita, masyarakat setempat menyebut kawasan itu dengan : Tor Siboru Tompul. Diatas Tor tersebut memang landai. Kawasan Tor Siboru Tompul kurang lebih satu hektar, akhirnya dijadikan sebagai tempat rekreasi pada hari libur dan hari-hari besar keagamaan. H. Rahmat Harahap pemilik tanah (tor) menguasai tanah tersebut dengan mengambil Batu Padas. Memang, dolok tersebut adalah Batu Padas. Terakhir, sekitar 15 tahun lalu, Tor tersebut dijual Harahap kepada Sutan Simamora dan melanjutkan pengambilan Batu Padas. Tapi, kini, Tor Siboru Tompul tidak lagi menjadi tempat rekreasi. Dan kawasan itu kini lebih dikenal orang sebagai Paranginan, karena Kemil Harahap membuka usaha rumah makan disamping tor tersebut dengan nama Rumah Makan Paranginan.
Sekretaris Desa Huta Lombang Kecamatan Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Marasakti Harahap kepada tim sejarah Sabtu, (26/3) membernarkan cerita tentang legenda Tor Siboru Tompul. Pernah di bukit itu dibuat plang Taman Rekreasi Tor Siboru Tompul. Namun belakangan plang tersebut sudah dicabut.
Dia sangat setuju bila ada marga Sitompul mengelola kawasan itu kembali menjadi taman rekreasi. Ini sebagai upaya untuk mengembangkan dan melestarikan nilai budaya yang ada di desa ini. Tidak hanya masyarakat yang tahu soal Tor Siboru Tiompul, pemerintah sendiri telah mengetahui keberadaannya sejak dulu. Pokoknya kami mendukung bila kawasan itu dijadikan kembali sebagai taman rekreasi, kata Marasakti Harahap.
Di desa Hutalombang ini terdapat satu orang marga sitompul, namanya Parubahan Sitompul bekerja di Dinas Kesehatan. Ketika dia pindah dari Medan tahun 1981 ke daerah itu, dia sudah mendengar cerita tentang Tor Siboru Tompul. “Saya juga sudah lama mendengar cerita itu. Menurut orang-orang disini, tor tersebut tidak anker, melainkan membawa kesenangan bagi orang yang datang ke tempat itu untuk rekreasi. Belum pernah kedengaran ada cerita jelek disana. Semua orang senang berekrasi disana dan tidak ada gangguan.
Ketika hal tersebut disampaikan oleh tim kepada Sihol Sitompul, dia sangat setuju kawasan Tor Siboru Tompul dijadikan tempat rekreasi. Tolong dijajaki apakah pemilik tanah sekarang bersedia kawasan itu dijadikan tempat rekreasi, kata Sihol Sitompul.
*Dikutip secara utuh dari Buku Sejarah Punguan Raja Toga Sitompul dan Boru Pekanbaru Sekitarnya.